BELANJA 'LUXURY' DI NEGERI SENDIRI

Membeli LUXURY GOODS di dalam negeri mulai dianggap lebih banyak BENEFIT-NYA daripada membeli di luar negeri. Tim BAZAAR menelusurinya.

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Highlights -

Membeli LUXURY GOODS di dalam negeri mulai dianggap lebih banyak BENEFITNYA daripada membeli di luar negeri.

Indonesia adalah negara dengan potensi ekonomi yang besar dengan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Walaupun selama dua tahun terakhir tingkat pembelian di sektor retail maupun e-commerce tidak setinggi dua tahun sebelumnya, namun brand baru, baik luxury maupun premium, tetap bermunculan, dan brand yang telah lebih dulu masuk ke Indonesia melakukan berbagai ekspansi. Di satu pihak, orang Indonesia juga dikenal sebagai salah satu pebelanja duty free atau tax refund tertinggi selain China, Rusia, dan India. Kemauan dan kemampuan belanja orang Indonesia di luar negeri memang tergolong tinggi. Mereka rela menunggu lama atau menitip kepada teman untuk mendapatkan tas atau sepatu high end brand di luar negeri, dengan persepsi bahwa harganya pasti lebih murah. namun, apakah hal itu selalu benar? Faktanya, sekarang ini perilaku belanja para penggemar luxury goods telah bergeser. banyak pembeli barang mewah kini lebih suka berbelanja di dalam negeri. berbagai servis dan kemudahan menjadi beberapa alasan yang melatarbelakanginya. “banyak privilege yang bisa kita dapatkan ketika menjadi customer di butik (di Jakarta). Contohnya, special treatment yang diberikan, seperti VIP customer discount dan menjadi yang pertama diinformasikan ketika ada barang baru di butik,” ujar ayla Dimitri, seorang content creator yang kerap muncul di acara-acara fashion ibukota.

“Di Indonesia sebagian besar LUXURY BRAND berada di bawah FRANCHISE PARTNER, jadi tidak semua BRAND bisa menawarkan AFTER PURCHASE SERVICE untuk barang yang dibeli di luar negeri.”

hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Ronald huang, seorang pengusaha asal Indonesia yang tinggal di hong Kong. pria yang sering bepergian ke Jakarta dan eropa ini lebih memilih berbelanja luxury brand di Jakarta, karena, “selain penawaran cicilan kartu kredit yang sangat menguntungkan, juga karena saya tidak suka direpotkan dengan tax refund ketika membeli barang di eropa. Di samping itu, pilihan barang yang ada di Jakarta rasanya lebih sesuai dengan selera saya.” soal cicilan ini memang bisa dibilang benefit yang sangat menggiurkan bagi customer di Indonesia. tidak tanggung-tanggung, cicilan yang diberikan tidak hanya enam atau 12 kali, bahkan bisa sampai 24 atau 36 kali untuk kartu kredit dan nilai pembelian tertentu. sedangkan evelyn, seorang pengusaha yang tinggal dan bekerja di singapura, memberi alasan berbeda. “servis yang diberikan oleh sales representative di butik di Jakarta terasa lebih persuasif dan ramah,” akunya. hal ini juga diperkuat oleh sebuah pendapat bahwa after purchase service yang diberikan oleh butik di Indonesia membuat konsumennya merasa lebih aman. Dalam arti, jika terdapat defect (kecacatan) atau kerusakan minor lainnya, barang bisa ditukar langsung dan diberi garansi. hal ini diperkuat oleh pernyataan Deece Dewayani, pr Marketing Manager GCP yang menaungi berbagai luxury brand seperti Gucci, Ysl, bottega Veneta, dan burberry. “Jika berbelanja di Indonesia anda tidak perlu repot memikirkan after service-nya. tinggal datang ke butik, segera dilayani. Di butik kami ada masa garansi after purchase yang berlaku selama kurang lebih satu tahun, tergantung kebijakan dari tiap brand. sebetulnya masa garansi ini berlaku di manapun, tapi kalau customer belanja di Jakarta, mereka tidak perlu repot kembali ke negara tempat mereka membeli barangnya. Karena di Indonesia sebagian besar luxury brand berada di bawah franchise partner, jadi tidak semua brand bisa menawarkan after purchase service untuk barang yang dibeli di luar negeri. untuk repair atau tukar misalnya, barang tersebut harus dikembalikan ke flagship store terdekat untuk ditindaklanjuti. atau yang terburuk adalah harus kembali ke negara tempat barang itu dibeli untuk mengurusnya, dan ini sangat memakan waktu,” jelas Deece. soal pelayanan yang baik dari sales manager atau sales assistant juga diakui menjadi plus point dari belanja di dalam negeri. Jessica Chandra, Store Manager Gap luxury, mengakui bahwa para sales person di butik Celine maupun Givenchy di Indonesia mendapat pelatihan yang cukup baik agar mereka memiliki bekal pengetahuan tentang produk maupun styling. pendekatan yang dilakukan lebih personal dan mereka kerap mendapat kepercayaan dari para klien VIP untuk memilihkan barang. apalagi sekarang ini banyak pemilik butik atau toko yang tidak ‘tinggal diam’. Mereka melakukan ‘jemput bola’ dalam arti bisa mengantarkan koleksi terbaru ke rumah VIP customer untuk kemudahan dan kenyamanan mereka memilih barang. hal seperti ini tidak mungkin didapat dengan berbelanja di luar negeri, bukan? “bagi saya, belanja di Indonesia bisa jadi lebih nyaman karena kita punya waktu lebih luang untuk mendengar penjelasan sales assistant tentang produknya, sehingga bisa mengenal produk yang ingin dibeli dengan lebih baik. tentunya kita juga punya waktu lebih banyak untuk menimbang apakah barang tersebut benar-benar layak dibeli atau tidak. sementara, waktu yang kita miliki ketika belanja di luar negeri biasanya tidak terlalu banyak dan kita cenderung terburuburu. akhirnya belanja jadi impulsive dan berakhir dengan membeli sesuatu yang tidak benar-benar diinginkan,” ujar sarah sofyan, Creative Director Rumah ayu dan Ceo Khazanah. lalu bagaimana dengan perbedaan harga jual yang telah telanjur menempel di kepala para pembeli asal Indonesia bahwa di luar negeri lebih murah daripada di dalam negeri? Jika anda perhatikan dengan seksama, sebenarnya perbedaan harga untuk banyak luxury brand tidak lagi bagaikan bumi dan langit, hanya terpaut sedikit saja. Miranda Waliry, pemilik sekaligus buyer dari butik Rococo, Giuseppe Zanotti, dan stuart Weitzman, menjelaskan bahwa perbedaan harga di Indonesia dan amerika serikat tidak banyak. hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Deece bahwa harga beberapa luxury brand di Indonesia cukup bersaing, dalam arti tidak jauh berbeda dengan butik di negaranegara asia lainnya. bahkan, beberapa luxury brand melakukan strategi memberlakukan batas bawah nilai tukar us dollar agar perbedaan harganya tidak melambung tinggi. Dinamika perilaku belanja di Indonesia memang perlu terus dicermati. Kondisi yang kerap berubah serta potensi pertumbuhan ekonomi menghasilkan potensi pasar yang selalu memberi harapan. Di masa depan, pembeli di Indonesia tidak hanya akan semakin cerdas membandingkan harga, tapi juga semakin canggih dalam memilih barang dan mengapresiasi aspek kreatif dalam berbelanja. “negara ini memiliki begitu banyak potensi dalam menciptakan destinasi belanja yang menarik, selain mall dan butik. Customer bisa saja lupa akan apa yang mereka beli, tapi mereka akan selalu ingat pengalaman saat berbelanja. para pelaku retail harus hadir dengan kurasi yang unik, journey of discovery, dan memiliki sales person yang mampu menyampaikan cerita menarik dari produk yang dijual, tidak hanya bahwa barang itu sedang masuk dalam kategori must-have item,” begitu Jeremy Quek, Group Marketing Director the papilion, menyimpulkan potensi masa depan pasar luxury brand di Indonesia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.