Sepotong Cerita Dari Margiela

Hermès mengajak BAZAAR menelusuri kisah perjalanan rumah mode legendaris asal Prancis ini bersama desainer fenomenal yang pernah menjadi direktur kreatifnya, Martin Margiela. Chekka Riesca melaporkan dari Antwerp, Belgia.

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Highlights -

“Hermès by Martin Margiela, Autumn Winter 1998-1999." Suara lantang seorang wanita memecah keheningan di sebuah studio kosong di tengah kota Antwerp yang dipilih oleh Hermès sebagai salah satu lokasi perhelatan Theme Launch tahun ini, Le Sens de L'objet. Di hadapan tamu undangan, telah berdiri seorang model berusia paruh baya mengenakan bodysuit berwarna nude dan sepatu tabby boots yang merupakan sepatu ikonis karya Margiela. Setelah terkurung dalam kegelapan selama kurang lebih sepuluh menit, suara derap langkah sepatu berhak serta permainan pencahayaan yang lamat-lamat menyorot kehadiran model yang hadir dengan tangan kosong pun membuat Bazaar semakin penasaran dibuatnya. Cerita apa

yang akan disuguhkan oleh Hermès dalam agenda Theme Launch tahun ini? Dengan luwes sang model memeragakan runway look koleksi Hermès maupun Maison Martin Margiela di masa lampau, hanya saja mereka memeragakannya dengan teknik pantomim seraya menjabarkan setiap detailnya secara lisan. Para hadirin ditantang untuk menggunakan imajinasinya, kemudian meresapi setiap alur cerita yang dituturkan serta memahami sendiri visualisasi setiap tampilan yang dipresentasikan secara kinetik oleh sang model. Setiap detail, cutting, siluet, hingga cara pakai dari sebuah tampilan dideskripsikan secara komprehensif oleh para model senior yang didaulat sebagai seniman pantomim di acara tersebut. Kepiawaian para model berpantomim membuat pertunjukan ini terasa begitu membius dan Bazaar seakan sedang menyaksikan secara langsung cuplikan-cuplikan peragaan busana di era Martin Margiela.

Seolah ingin membuktikan sejauh mana para hadirin dapat secara tepat membayangkan setiap tampilan yang dipresentasikan, Hermès kemudian menggiring Bazaar dan tamu undangan lainnya berjalan kaki menuju Mode Museum Provincie Antwerpen, di mana pameran Margiela, The Hermès Years tengah berlangsung. Benar saja, di sana telah berjejer mannequin yang mengenakan rangkaian koleksi paling ikonis dari Hermès dan buah karya sang maestro Martin Margiela ketika menakhodai kedua rumah mode tersebut. Sejumlah tampilan yang dipamerkan tak lain adalah runway look yang sebelumnya telah dipresentasikan melalui seni pantomim. Tamu undangan memandangi setiap tampilan dengan pandangan berbinar. Mereka terkesima. Sebagian merasa 'menang' karena mampu membayangkannya secara tepat, sebagian lagi mengangguk-anggukan kepalanya perlahan, seolah baru mengerti esensi presentasi deskriptif yang disaksikannya beberapa saat yang lalu. Pameran Margiela, The Hermès Years adalah sebuah cerita tentang bagaimana Martin Margiela meramu kembali citra perempuan Hermès tanpa mengintervensi DNA Hermès itu sendiri. Di bawah kendalinya, Martin Margiela dengan gayanya yang humble namun tegas, merangkul tim desain Hermès untuk saling berbagi ilmu lalu menerapkannya sebagai bentuk inovasi yang menjadikan setiap item kian berharga dan tentu saja digemari. Dalam artian digemari bukan sekadar karena produk tersebut bertakhtakan label Hermès saja, namun karena produk tersebut dikonstruksikan secara

indah dan penuh presisi, dengan rancangan yang versatile dan timeless, serta menggunakan pilihan material prima yang semakin membuat pemakainya merasa begitu istimewa. April 1997, CEO Hermès kala itu yakni Jean-louis Dumas-hermès, menggemparkan industri fashion dengan menunjuk Martin Margiela sebagai direktur kreatif Hermès. Dunia fashion pun geger. Pasalnya, nama Martin Margiela telah diasosiasikan dengan rancangan dekonstruktif, lengkap dengan tema-tema peragaan busana nonkonvensional yang kerap membuat sejumlah insan fashion tercengang menyaksikannya. Sangat jauh dari bayangan publik akan citra Hermès sebagai salah satu label paling bergengsi di dunia. Terlebih lagi, sejak awal kemunculannya di tahun 1988, Martin Margiela sama sekali tidak pernah menampakkan dirinya ke tengah publik dan setiap sesi wawancara selalu dibalas lewat faksimile dengan menggunakan kata 'kami' yang merujuk kepada tim desain, tidak pernah menyebut nama sendiri. Ia adalah desainer yang menutup dirinya rapat-rapat dari sorotan publikasi dan khalayak ramai. Lalu ia didaulat untuk mengomandani divisi womenswear Hermès. Martin Margiela bekerja untuk Hermès? Insan-insan mode dunia pun mempertanyakan nya. Keputusan Jean-louis Dumas-hermès tidak dilatar belakangi oleh hasrat mencari sensasi. Ia memilih Martin Margiela dengan meyakini bahwa para pelanggan Hermès memiliki selera yang tinggi dan karakter elegan yang kuat. Mereka mampu mengapresiasi keindahan setiap produk yang dilansir, dan mengerti bahwa tampilan yang elegan juga ditopang oleh cara bergerak yang luwes. Untuk mencapai itu, produk yang terkonstruksi indah dan nyaman menjadi jawaban. Dan Martin Margiela memiliki metode untuk mewujudkannya. “Saya menginginkan sebuah evolusi, pembaruan secara subtil. Saya butuh seorang desainer yang benar-benar memahami kemasyhuran craftsmanship rumah mode Hermès, dan mampu menerjem ahkannya ke dalam rancangan kontemporer. Margiela isa craftsman at heart. Kami rasa dia adalah sosok yang tepat untuk Hermès,” ujar sang CEO penuh percaya diri. Jean-louis Dumas-hermès memberikan kepercayaan penuh bagi Martin Margiela untuk mengolah kembali esensi gaya womenswear dari Hermès, layaknya memberikan sepotong kanvas kosong agar Martin dapat dengan bebas bereksperimen dan mengeksplorasi kembali kekayaan heritage Hermès, kemudian menarasikannya kembali dengan caranya sendiri. Dibekali kepercayaan seperti itu, Martin pun dengan lugas menyatakan bahwa ia hanya akan bermain dengan palet monokromatis seperti coklat, beige, abu-abu, putih, atau hitam. Pemilihan warna ini bertentangan dengan koleksi Hermès sebelumnya yang dikenal kaya akan warna dan corak. Namun bagi Martin, kemewahan adalah perpaduan antara kualitas, kenyamanan, dan timelessness. Ia lebih memilih karyanya untuk dapat terlahir sempurna dengan kualitas dan finishing terbaik demi mencapai kenyamanan yang mumpuni, serta senantiasa dapat dikenakan dan relevan dengan zaman tanpa aksesori berlebihan. Lantas bagaimana Martin Margiela mendefinisikan Hermès tanpa elemen-elemen visual yang kentara seperti permainan warna, motif, dan fantasy buttons? Dengan cermat, Martin mengejew antahkan sebuah pendekatan subtil dengan mengaplikasikan kancing berlubang enam dan menjahitkan huruf H sebagai inisial Hermès. Sangat bersahaja. Lewat tangan dinginnya, ia membentuk citra baru akan perempuan Hermès, lengkap dengan sejumlah item ikonis baru, mulai dari kantong yang dapat dilepas

Sensasi taktil ketika ujung jemari menyentuh kasmir, tunik kulit, maupun atasan sutra berkualitas prima, tentu akan menyuntikkan perasaan bahagia yang tak terkira

dan dipasang bertajuk 'Toile H', sweater bermaterial kasmir dengan potongan V-neck super rendah, hingga jam tangan dengan strap lilit bernama 'Double Tour' yang menjadi salah satu item andalan Hermès hingga saat ini. Martin juga bereksperimen dengan teknik-teknik spesifik yang diaplikasikan oleh departemen lain di Hermès. Sebagai contoh, ia mengadopsi teknik circular knitting yang digunakan untuk membuat lining kasmir pada sarung tangan dan mengaplikasikan nya dalam pembuatan sweater. Hasilnya? It fits like gloves. Ia menciptakan estetika baru Hermès dengan mengedepankan kualitas baik dari segi craftsmanship maupun material. Rancangannya lebih banyak menekankan pada kualitas taktil, serta didesain untuk kesempurnaan kenyamanan pemakainya. Baginya, kualitas semacam itu menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menyuguhkan koleksi yang menyenangkan mata. Secara saksama Martin Margiela mengobservasi bagaimana perempuan bergerak, kemudian ia melahirkan solusi estetis untuk mewujudkan citra perempuan Hermès dengan tiap gerak-geriknya yang elegan dan anggun tanpa harus dibuat-buat. Ia memperhitungkan betul bagaimana material mewah seperti kasmir maupun kulit dapat membalut tubuh secara sempurna dan menunjang movement dengan elok, terlepas dari berapa pun usia dan bentuk tubuh pemakainya. Ia juga menawarkan ide-ide brilian yang membebaskan perempuan untuk dapat bereksperimen dengan sepotong pakaian yang dikenakannya. Faktor fungsionalitas turut menjadi perhatian khusus bagi Martin Margiela, dan ia mewujudkannya melalui sejumlah rancangan yang dapat dikenakan dalam beberapa cara. Spirit semacam ini amat selaras dengan jiwa Hermès sebagai rumah mode yang mengusung gaya utilitarian. Ia membuktikan pada dunia bahwa seperti inilah caranya menerjemahkan DNA Hermès ke dalam estetika rancangannya, dan pencinta fashion pun terbuai oleh keberhasilannya. Sepanjang masa jabatannya SWEATER di Hermès, yakni 1997-2003, Martin Margiela tak hanya berhasil menghadirkan inovasi-inovasi baru, namun juga meracik kembali konsep visual akan sosok perempuan Hermès dengan segenap pesonanya yang terpancar nyata dari balutan busana yang sarat akan kemewahan yang subtil. Dan ramuan ini terus bertahan sebagai estetika divisi womenswear Hermès. Martin Margiela menerjemahkan kemewahan dengan mengaitkannya pada panca indra manusia. Sensasi taktil ketika ujung jemari menyentuh sweater kasmir, tunik kulit, maupun atasan sutra berkualitas prima, tentu akan menyuntikkan perasaan bahagia yang tak terkira. Inilah makna luxury yang sesungguhnya, menurut Martin Margiela. n

KESELURUHAN FOTO: Arloji Double Tour, hand-rolled hem dan kancing berinisial H menjadi contoh hasil inovasi dan ramuan baru yang terlahir dari tangan dingin Martin Margiela untuk Hermès

KANAN: Suasana jamuan makan siang di perhelatan Hermès Theme Launch

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.