Semalam di Louvre

Melalui koleksi Louis Vuitton Nicolas Ghesquière mencoba menyampaikan pesan damai yang ia tuangkan di tiap helai kain.

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Highlights - Oleh Michael Pondaag

Peragaan karya Nicolas untuk rumah mode Louis Vuitton menjadi penutup pekan Paris Fashion Week 2017. Ia memilih untuk menggelar peragaan busana di Cour Marly, Musée du Louvre, Paris yang untuk pertama kalinya memperkenankan adanya sebuah peragaan busana di sana. Bagi Nicolas, koleksinya kali ini layak untuk dipamerkan di Musée du Louvre. Setiap tahun museum ini didatangi sekitar tujuh juta orang dari berbagai latar belakang. Tempat tersebut menjadi semacam titik pertemuan bagi para pencinta seni.

Pada hari ketika museum ini menjadi “milik” Louis Vuitton, penjagaan ekstra harus dilakukan. Para petugas keamanan harus memastikan area museum bersih dari khalayak pencinta seni. Bisa jadi itu bukan perkara mudah. Penutupan museum lebih mengundang rasa penasaran di benak wisatawan. Sejumlah orang berupaya mengintip apa yang sedang terjadi di balik ruangan patung-patung marmer yang berukuran besar. Para model berjalan di bagian sentral ruang museum. Satu persatu muncul dari balik patung-patung era Renaisans. Di satu sisi, atmosfer museum jadi terasa lebih modern saat melihat model berjalan

dengan mengenakan atasan hitam serupa rompi yang bentuknya mengingatkan pada bentuk segitiga terbalik. Pundak ditutup dengan atasan beraksen garis tegas pada bagian bahu. Gaya edgy itu dinetralisir dengan kesan feminin yang terpancar berkat adanya ikat pinggang yang disematkan pada tubuh model. Gaun tanpa lengan tampil dalam perpaduan kain putih, motif floral, serta aksen bordir. Kali ini tersemat syal bulu pada pundak sang model. Gaun sutra dengan potongan serong ataupun yang terinspirasi dari lingerie, jaket kulit, rompi bulu, aksen patchwork sampai lace trimming menjadi key look dari koleksi kali ini. Very modern and fashionable! Dalam koleksi tersebut, karakter maskulin telah melebur dengan kesan feminin. Nicolas melihat di mana batasan-batasan itu mulai hilang. Sebelum merancang koleksi musim dingin, Nicolas melihat fenomena yang terjadi di sekitarnya, terutama politik. Terlebih saat pemberitaan tentang membangun batas antar negara serta krisis imigran menyebar. Pikiran Nicolas seperti terusik. Lewat tangannya ia ingin menghilangkan pengkotakan tersebut. “Koleksi ini bertujuan untuk meniadakan batas dan menunjukkan unsur nomad di mana kota berbaur dengan panorama alam, maskulin melebur dengan feminin, siang dan malam bercampur. Nilai sejarah rumah mode ini sanggup menjawab kehausan terhadap masa depan,” demikian yang tertulis dalam rilis media yang diluncurkan oleh rumah mode ini. Musim dingin bagi Nicolas tak semata ditandai dengan keberadaan long coat yang terkesan konvensional. Ia tetap mendesain long coat tetapi menggunakan material yang memberikan efek kilap serta material kulit. Pria ini pun masih mengandalkan sabuk yang mengikat erat lingkar pinggang agar kesan ramping tidak menghilang. untuk sejenak, para pengunjung seakan dilempar kembali ke masa tahun 1970-an dengan adanya fur long coat yang motifnya serupa dengan motif kulit kaum mamalia. Di panggung, motif leopard masih tetap eksis. Ia menjadi aksen

pemanis pada bagian lengan sebuah outerwear. Nicolas lantas memutar mesin waktu ke masa yang lebih maju. Denim mulai nampak. Ia menjadi bahan dari jaket yang melengkapi rok mini kotak-kotak dan boots merah. Rok mini itu menimbulkan kesan chic meski dipadukan dengan beberapa jenis atasan mulai dari jaket rajut sampai jaket kulit. Bicara warna musim dingin, Nicolas memilih untuk menembus persepsi tentang palet netral. Ia menyematkan sejumlah warna vibran. Biru elektrik misalnya. Tak tanggung-tanggung, ia menjahit kain berwarna biru tersebut menjadi setelan yang terdiri dari atasan berkerah lengan panjang dan celana berpotongan lurus. Garis-garis putih menjadi aksen di sejumlah bagian busana. Di sini kesan sporty muncul. untuk memperkuat total look, kadang aksen bahan neoprene terlihat di beberapa item. Dalam show ini Nicolas seakan hendak menegaskan salah satu aksesori andalan, yakni rantai pengait. Benda berwarna silver itu bisa digunakan pada busana dan aksesori, membuat produk menjadi tampil lebih menarik dan berkarakter. opsi pertama, benda itu melintang di area pundak hingga bagian depan jaket kulit. Sekilas bentuknya bagai aksen drape. opsi kedua, rantai bisa menjadi pengganti ikat pinggang. Kaitkan di celana maka sang pengguna bisa jadi sudah tidak membutuhkan jenis aksesori lain untuk menggantung di badan. Bila enggan menempatkannya di tubuh, menggantungnya pada tas juga bisa menjadi variasi gaya yang menarik untuk dicoba. Momen ini juga merupakan saat tepat untuk menampilkan desain logo baru yang tertera pada aksesori Louis Vuitton. “V” menjadi huruf yang “dimainkan” dalam tampilan baru ini, memberikan sentuhan kontemporer dan sporty pada jajaran tas berdesain klasik ikonis label ini, seperti Twist dan Speedy. Kebaruan model pun turut dihadirkan melalui keberadaan tote bag atraktif yang mengesankan desain chic dan kasual. Ia hadir dalam motif polos dengan hiasan berupa detail studs. Rantai yang tersemat di bawah pegangan tas membuat tampilan produk ini menarik untuk dipandang. Bagi mereka yang mencintai desain feminin bersentuhan glamor, Nicolas juga menciptakan sebuah clutch berhias batu yang mengilap. Selain bisa digenggam, tas ini disertai rantai yang bisa bergantung di pundak. Di akhir peragaan busana, para model mengisi tiap anak tangga museum dan berdiam seraya kamera para juru foto dari berbagai negara mengabadikannya. Sekali lagi, Nicolas berhasil mengeksplorasi dalam gaya, warna dan aksesori melangkahi imajinasi para pencinta mode bagai sebuah sambutan hangat di musim dingin.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.