PAMERAN BUSANA IMPIAN

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Need -

Museum Les Arts Decoratifs di Paris mempersembahkan pameran mode mengagumkan, dengan ragam koleksi yang baru pertama kalinya ditampilkan secara bersamaan. Oleh Rizal Halim

Sebagai rumah mode yang telah berdiri selama 70 tahun, sudah selayaknya Dior merayakannya dengan sebuah pameran restropektif yang besar. Paris sebagai ibu kota mode dipilih sebagai tempat berlangsungnya pameran Christian Dior, Couturier du Rêve, yang artinya perancang busana impian. Di balik busana-busana mewah, aksesori mode, dan parfum, pameran ini juga membawa kita menjajaki dunia Christian Dior sebagai desainer dan pendiri rumah mode dengan kekayaan kreasi dan berbagai sumber inspirasinya. Sisi lain yang menarik, pameran ini juga menelusuri karya-karya para desainer penerusnya yang membawa keharuman namanya hingga kini. Ini adalah sebuah cerita tentang kerajaan busana berskala internasional yang nasibnya berawal dari sebuah ramalan misterius. Paris saat ini memasuki musim panas, dan di pintu masuk Musèe des Arts Décoratifs terlihat antrian panjang para pengunjung yang ingin melihat pameran mode paling ditunggu saat ini. Di kota ini pula, di tahun 1910, Christian Dior yang saat itu berusia lima tahun menetap bersama keluarganya. Ia adalah anak dari keluarga borjuis dan pengusaha kaya. Keinginannya untuk memasuki sekolah arsitektur atau seni bertentangan dengan kehendak keluarganya. Sebagai keluarga konservatif, orang tuanya tidak melihat masa depan yang jelas dari kedua bidang itu. Walaupun akhirnya di usia 23 tahun ia memutuskan untuk meninggalkan sekolah ilmu politik pilihan orang tuanya. Nasib seperti sudah terpahat di telapak tangannya ketika seorang peramal garis tangan berkata, “Suatu hari Anda akan mengalami keadaan tanpa sepeser uang pun, tapi dengan para wanita kamu akan mendapat kesempatan yang sangat baik dan sukses.” Ketertarikannya akan dunia seni membawa anak muda ini membuka sebuah galeri di tahun 1928 dengan bantuan finansial dari ayahnya. Christian berusaha membawa seniman-seniman muda di generasinya untuk memamerkan hasil karya mereka tanpa melupakan seniman-seniman besar yang sudah terkenal, seperti Pablo Picasso, Joan Miró, dan Henri Matisse. Berbagai seniman muda di masa itu yang kemudian memiliki nama besar antara lain Salvador Dali, Max Jacob, dan Jean Cocteau. Usaha ini berakhir seiring terjadinya krisis ekonomi dunia dan dia harus menutup galeri seninya. Dengan latar hitam, ruang pameran ini mengetengahkan berbagai

dokumentasi foto hitam putih, tulisan, lukisan-lukisan, juga beberapa film, yang memudahkan para pengunjung untuk memvisualisasikan kehidupan dan suasana Paris di awal abad 19. Sebuah lukisan karya Paul Streeker tahun 1928 menarik perhatian saya. Sebuah potret Christian Dior muda yang tampak elegan memakai jas hijau bertaut dasi hijau muda dan rompi merah muda dengan tatapan melankolis dan lugu. Inilah sosok muda yang akan membuat sebuah kejutan di dunia mode. Di tahun-tahun berikutnya, Christian Dior mulai tertarik akan dunia mode dan bekerja sebagai ilustrator untuk rumah-rumah mode. Lalu ia bekerja sama dengan seorang pengusaha untuk membuka rumah mode yang sekarang menjadi rumah emblematik untuk rumah mode ini, yaitu di Avenue Montaigne nomor 30. tahun 1947 merupakan tahun bersejarah untuk Christian Dior yang saat itu belum dikenal sama sekali oleh publik. Ia mempersembahkan koleksi pertamanya untuk adibusana. Dalam situasi sesudah perang, Christian Dior menciptakan estetika baru yang radikal dengan siluet corolle dan en 8, yaitu rok fluid dan rok ketat membentuk pinggul, dan keduanya dikombinasikan dengan atasan feminin, soft shoulder, dada yang ketat dan aksen di pinggang. “Dear Christian, your dresses have such a new look,” begitu pujian dari editor Harper’s Bazaar saat itu, Carmel Snow, setelah show selesai. New Look kemudian menjadi istilah yang digunakan untuk koleksi ini untuk sebuah siluet yang proporsional untuk tubuh wanita ideal. Highlight dari New Look adalah jas yang disebut bar dan menjadi ikon sejarah dunia mode hingga kini. Saya memasuki lorong-lorong pameran yang membiaskan sentuhan warna-warni, sesuai dengan selera Christian Dior. Pandangannya tentang mode yang kelak berkembang di industri fashion adalah keinginannya membuat wanita terlihat elegan mulai dari kepala hingga kaki, dari topi hingga sepatu, perhiasan, tas, parfum, hingga warna-warna makeup. objek-objek mode itu ditampilkan dan diserasikan dengan berbagai warna, karena warna memang mempunyai arti tersendiri bagi rumah mode ini. Seperti warna merah muda yang adalah warna kebahagiaan dan femininitas, abu-abu merupakan warna yang paling praktis dan paling elegan untuk warna netral (sebuah kenangan akan fasad rumah tempat kelahirannya di Normandy, sebuah provinsi di Prancis), merah Dior yang menurutnya adalah warna yang membuat ‘wanita tersenyum’, maupun warna hitam yang merupakan warna paling elegan dari semua warna. “Satu sentuhan warna saja bisa memperbaiki penampilan Anda: sebuah scarf hijau, gaun merah menyala, stola kuning, sarung tangan biru,” begitu tip dari sang maestro. Saya berjalan dari satu ruang ke ruang lain sambil kagum akan cara rumah mode ini dipresentasikan secara tematis dan komplet. Atmosfer bangsawan di sebuah ruang bernama trianon memperlihatkan bagaimana Christian Dior dan penerus-penerusnya mengkreasikan gaun-gaun dengan inspirasi wanita abad 18. tema Les Jardins Dior atau taman Dior meanmpilkan sebuah dekor taman khayalan dengan bunga-bunga yang berjatuhan dari langit-langit gedung pameran. Dekor ini langsung menyerap perhatian

pengunjung yang sigap dengan kameranya. Berbagai gaun dengan inspirasi bunga dijajarkan sehingga kita dapat melihat evolusi dan interprestasi dari masing-masing desainer penerus rumah mode ini. Salah satunya gaun bernama Muguet, diambil dari nama bunga khas Prancis, berbentuk lonceng dan hanya berbunga di bulan Mei. gaun ini merupakan koleksi adibusana untuk musim semi tahun 1957, dibuat dari kain organza dengan untaian bunga muguet yang dibordir dan dijahit menjadi ornamen baju. Ruang lainnya menampilkan tema Around the World in Dior. Di sini dijelaskan bahwa di samping inspirasi yang berasal dari berbagai belahan dunia, ternyata Christian Dior merupakan sosok yang modern untuk bidang bisnis. Ialah yang pertama kali menerapkan bisnis dengan lisensi nama di seluruh dunia, mulai dari New york, London hingga Caracas, menjadikannya pionir globalisasi fashion. tahun 1957 merupakan tahun yang menyedihkan, karena dunia mode secara mendadak kehilangan sosoknya sebagai desainer berbakat. Rumah mode Dior sejak saat itu berjalan bersama berbagai direktur artistik terkenal yang menjadi penerusnya. Dimulai dari yves Saint Laurent yang telah menjadi asisten Christian Dior sejak tahun 1955, kemudian Marc Bohan, gianfranco Ferré, John galliano, Raf Simons, dan sekarang Maria grazia Chiuri. Kreasi masing-masing desainer di bawah rumah mode ini ditampilkan secara jelas dan periodik. terlihat benang merah dari setiap kreasi mereka, yaitu gaun sebagai nilai tambah untuk tubuh wanita dan mencari siluet yang ideal. Walaupun tentu saja setiap desainer mempunyai ciri tersendiri dan setiap kreasi merupakan sebuah dialog dengan zaman ketika mereka berkreasi. Puncak dari pameran ini berujung di Le Bal Dior atau the Dior Ball, dengan ruang yang berubah-ubah suasana sesuai dengan redupnya lampu dan proyeksi video di langit-langit. Ruang pamer ini menampilkan berbagai gaun impian untuk pesta gala yang ekstravaganza dan mewah. Sesudah perang dunia berakhir, ternyata sosialita dunia mencari kesenangan yang sudah lama hilang dengan menciptakan The Ball atau pesta gala. Christian Dior berkesempatan menciptakan berbagai baju pesta, di antaranya entrance of giants yang merupakan hasil imajinasi Salvador Dali untuk pesta yang diselenggarakan oleh Charles de Beistegui di Palais Labia, Venesia. Untuk ulang tahun rumah mode Dior yang ke-60, John galiano juga mengorganisasikan The Artists Ball di istana Versaille, Paris. Pameran ini mengumpulkan sekitar 300 adibusana yang dibuat dari tahun 1947 hingga sekarang, serta puluhan dokumen, foto, ilustrasi, sketsa, surat, dokumen iklan, dan keperluan workshop. Juga berbagai aksesori mode, seperti topi, tas, permata, dan parfum yang tidak dapat dipisahkan dari dunia Dior. tanpa ketinggalan berbagai benda seni dan lukisan-lukisan yang menjadi bagian dalam kehidupan Christian Dior sebagai pencinta seni. gaun-gaun ini dikumpulkan dan dipamerkan untuk pertama kalinya di Paris, dan beberapa gaun bahkan pernah dipakai oleh para bangsawan, seperti Putri grace dari Monaco, Lady Diana, ataupun para selebriti seperti Charlize theron dan Jennifer Lawrence. Pameran seluas 3.000 m2 yang didedikasikan untuk dunia fashion ini memiliki masa pamer yang cukup panjang, yaitu awal Juli 2017 hingga Januari 2018. Rentang waktu yang layak untuk sebuah pameran penting dan bersejarah bagi dunia mode. n

Replika dari fasad bergaya Neoklasik rumah mode Dior di 30, Avenue Montaigne Paris

Display baju yang disusun secara kronologis, dari lahirnya rumah mode Dior hingga sekarang, memperlihatkan kerja nyata sang perancang dan para penerusnya sebagai arsitek busana

Sejak awal Christian Dior bermimpi untuk mendandani wanita dari kepala hingga kaki dengan gaya elegan

Berbagai koleksi botol parfum yang eksklusif, di antaranya botol parfum Diorissimo yang dirancang oleh Christian Dior di tahun 1956, terbuat dari kristal Baccarat

the Ateliers dari tahun 1947 hingga 2017

Bunga menjadi inspirasi penting bagi Christian Dior, "After women, flowers are the most divine of creations."

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.