"

Harper's Bazaar (Indonesia) - - #fbvuz -

da dua alasan yang mengharuskan saya untuk menghadiri acara Louis Vuitton di Paris. Alasan pertama, karena saya mendapat kesempatan istimewa mencoba wewangian paling anyar didampingi langsung oleh sang perfumer, Jacques Cavallier-belletrud. Alasan kedua adalah rumah mode ini baru saja kembali ke industri kecantikan, setelah absen selama puluhan tahun dalam dunia parfum. Padahal kehadiran parfum Louis Vuitton sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1927 dengan kemunculan wewangian bernama Heures d’absence, disusul Je, Tu, Il, kemudian Réminiscences, dan Eau de Voyage. Barulah di tahun 2016 lalu, rumah mode ini kembali meluncurkan sederet aroma parfum seperti Rose des Vents, Turbulences, Dans la Peau, Apogée, Contre Moi, dan Matière Noire et Mille Feux yang merupakan hasil kerja Jacques selama empat tahun berkarya di workshop miliknya, di kota Grasse. tempat kelahirannya, yang dikenal sebagai kota parfum di Prancis bagian selatan. Le nez, artinya hidung dalam bahasa Prancis, sedangkan di dunia parfum kata itu merupakan sebutan unik untuk para pencipta parfum. Jacques sendiri sudah bergelut dalam dunia wewangian sejak kecil. Ketertarikannya akan dunia parfum membuat ayahnya yang juga seorang ahli parfum, mengajaknya untuk mengenal dan mengungkap rahasia dalam pembuatan fragrance. Di usia 18 tahun, ia sudah mampu meracik formula sendiri untuk pembuatan fragrance, meskipun saat itu ayahnya mengingatkan Jacques bahwa ia masih harus menambah banyak pengalaman dan jam terbang supaya menjadi seorang ahli parfum yang baik. Bukan sekadar dapat mencampurkan berbagai bahan wewangian semata.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.