Vive La Diversité

DUNIA FASHION PADA AKHIRNYA DAPAT MENERIMA PERBEDAAN, NAMUN BANYAK YANG MELAKUKANNYA HANYA KARENA TENGAH POPULER, UNGKAP WINNIE HARLOW.

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents - FOTOGRAFI OLEH YU TSAI STYLING OLEH WINDY AULIA Gaun, DOLCE & GABBANA. Aksesori headdress, RINALDY YUNARDI at The Residency Experience. Gelang emas putih dan berlian Love, jam tangan emas putih triple loop Panthère de Cartier, seluruhnya koleksi CARTIER.

erbedaan sedang naik daun akhir-akhir ini. Apabila sebuah kontradiksi dapat memaparkan kompleksitas industri mode, itu berupa bisnis besar dibangun menjadi lingkaran kecil eksklusif yang dapat menerima hal positif dari perbedaan, mulai dari plus-size hingga gender non-binary serta di antaranya. Salah satu ikon gerakan ini adalah model asal Kanada, Winnie Harlow. Perbedaan seharusnya tidak hanya menjadi tren bulan ini, namun itu fakta yang terjadi, ucapnya pada Harper’s Bazaar Singapura. Ditemukan melalui Instagram oleh penggagas America’s Next Top Model, Tyra Banks, wanita berusia 23 tahun yang menderita vitiligo ini muncul pada putaran ke-21 serial tersebut tahun 2014. Berkompetisi di bawah nama aslinya, Chantelle Brown-young, ia kalah, namun berhasil memenangkan hati para penggemar dan menjadi salah satu selebriti yang bankable. Direkrut oleh merek ternama Diesel dan Desigual, serta berjalan untuk runway rumah mode Dior dan Marc Jacobs, Winnie menjadi salah satu model ternama di dunia, dengan membantu membuat perubahan pada industri mode berkat kecantikan inkonvensional. Dengan catatan, ia tetap menjadi pengecualian yang membuktikan peraturan tersebut. Pada pemotretan cover Bazaar di Los Angeles, Winnie mengatakan karena perbedaan adalah buzzword du jour (kata yang sedang diperbincangkan), hal tersebut lazim bagi rumah-rumah mode dan media untuk membayar lip-service dalam pemotretan tunggal atau kampanye, lalu kembali ke kebiasaan lama. Oleh karena itu, saat industri telah mengambil langkah untuk menjadi lebih inklusif. “Masih panjang perjalanannya”, simpulnya. “Seharusnya banyak orang ingin membuka pikiran, tidak hanya musiman atau tren, tetapi benar-benar mengangkat keanekaragaman.” “Saya bangga dengan perubahan terkini dalam industri mode dan kecantikan. Luar biasa rasanya berada di antara orang-orang yang mendobrak demi perbedaan. Saya sering mendengar istilah ‘norma baru’ yang sebenarnya sudah menjadi norma dari dulu, indah melihat hal itu mulai menjadi sorotan khalayak.” Bahkan, bintang seperti Winnie masih mendapat diskriminasi dalam bisnis ini, sebab mempekerjakannya adalah risiko kreatif dan komersial. Namun, ketika kampanyenya bagus, banyak yang ingin bekerja dengan Winnie; termasuk mereka yang sebelumnya menolak, ia mengungkapkan sembari tertawa. Oleh sebabnya, merupakan kesalahan apabila cepat berasumsi bahwa kemajuan tetap terjadi. Winnie memberi tahu sebuah laporan yang menunjukkan proporsi orang-orang berkulit hitam yang menjadi cover majalah mode ternama Amerika lebih sedikit di tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2016. “Bagaimana itu disebut beragam dan bukan bertumbuh?” tanya Winnie. “Saya rasa apabila angka model kulit hitam belum sama dengan model kulit putih, masih banyak yang harus kita kerjakan.” Winnie memberikan alasan psikologis mengenai hal ini. “Saya menemukan alasan mengapa hal tersebut terkadang maju mundur karena orang-orang seperti, ‘Ok, keren, saya akan menaruh model apa saja untuk membuat perubahan, dan musim berikutnya akan kembali ke hal yang sama lagi’. Itu bukan menjadikannya beragam; melainkan shock value,” ujar model berbasis di London ini. Meskipun mempekerjakan model yang tidak biasa dalam cover majalah dan runway itu baik, industri mode sering mengabaikannya, khususnya ketika hal tersebut terkait dengan rambut non-putih dan warna kulit. Membahas warna kulit, Winnie seperti makeup ninja, ahli dalam mencampurkan produk untuk warna kulitnya, dan sering tampak lebih ahli daripada para profesional. “Saat saya masih muda, belum ada produk untuk kulit berwarna gelap. Saat SMA, mulai sedikit bermunculan produk-produk tersebut, dan sekarang telah terjadi perubahan besar sejak lima tahun lalu.” “Namun banyak merek yang masih perlu bekerja lebih keras,” ujarnya. Sebelum kehebohan lini makeup Kim Kardashian yang memperlihatkan model berkulit hitam dengan 16 warna concealer dioles di lengan, tidak ada satupun warna yang cukup gelap untuk warna kulitnya. “Beberapa merek mengerti bahwa hal tersebut adalah sebuah diskriminasi. Dan itu benar,” ucapnya berempati. Dikarenakan keterbukaannya mengenai isu ini — juga perlawanannya terhadap kebijakan anti-imigrasi dari pemerintah Amerika saat ini, atau membagikan pengalamannya di-bully semasa kecil — Winnie merepresentasikan lebih dari sekadar wajah cantik. Pada platform media sosial seperti Instagram, di mana ia memiliki tiga juta pengikut, penggemarnya menyatakan kecintaan mereka kepada Winnie. “Saya mendapatkan banyak fan art. Orang-orang mempunyai tato wajah saya di tubuh mereka dan mengatakan bahwa saya menginspirasi. Contohnya, mereka awalnya takut memakai bikini, namun belajar untuk menjadi percaya diri seperti saya. Tapi menurut saya mereka terinspirasi oleh gagasan dan kepercayaan diri saya, bukan wajah saya.” Meskipun ia telah menjadi role model bagi banyak penggemar, Winnie tetap berusaha untuk tidak merasa terbebani akan pekerjaannya. “Saya rasa itu pilihan apabila Anda merasa terbebani dengan menjadi role model. Saya tidak. Saya hanya manusia biasa. Kita semua melakukan hal-hal luar biasa; juga hal-hal bodoh.” Winnie merasa lelah dengan percakapan tentang kondisi kulitnya, yang mana ia tolak untuk mendefinisikan dirinya. Saat pewawancara menanyakan apa yang ingin Winnie katakan kepada mereka yang ingin menjadi percaya diri sepertinya, ia berkata: “Pertama, aku ingin berterima kasih untuk pertanyaannya, ‘Apa yang ingin kamu sampaikan untuk semua orang pada umumnya?’ karena sering kali pada wawancara aku ditanya, “Apa yang ingin kamu sampaikan pada orang yang juga terkena vitiligo?’ dan itu bukan hal yang ingin aku salurkan. “Tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu yang selalu aku katakan pada diri sendiri dan orang lain, yaitu: Jangan terpaku kepada pendapat orang lain tentang kamu, fokus pada diri sendiri dan pendapat kamu tentang dirimu. Karena kamu hanya perlu menyenangkan dirimu sendiri, kamu dan Tuhan. Jadi kita harus senang dengan diri sendiri.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.