Geliat di Bawah Radar

Chekka Riesca memaparkan sekelumit fakta mengenai industri streetwear indonesia yang tengah berkembang meski tidak mendapatkan banyak sorotan publik.

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Contents -

Selama ini, ketika publik tengah membahas industri fashion Indonesia, isi diskusi cenderung berkisar pada koleksi desainer adibusana, rancangan yang mengangkat elemen tradisional, maupun koleksi ready to wear bernapaskan high fashion. Padahal industri mode Tanah Air tidak hanya terbatas pada kategorisasi itu saja. Koleksi dari label streetwear lokal misalnya, kendati sekilas pandang tidak menyiratkan unsur fashion yang terlalu kental namun mereka memiliki caranya sendiri untuk berkembang dan terus melahirkan koleksi yang diminati oleh pasar—bahkan hingga ke pasar internasional. Label streetwear kerap dipandang sebelah mata karena desainnya yang simpel. Namun pada dasarnya, koleksi streetwear memang ditujukan untuk berbusana (atau bergaya) sehari-hari. Merujuk ke sejarahnya, terminologi streetwear pertama kali dicetuskan di tengah berkembangnya kultur surf dan skate di California, Amerika Serikat, pada era ‘70an. Nama Shawn Stüssy disebut sebagai pelopor lahirnya industri streetwear berkat label eponymous miliknya yakni Stüssy, yang menampilkan rangkaian busana, aksesori serta perlengkapan olahraga selancar dan skate yang sangat populer di masa itu. Tak lama berselang, kultur hiphop turut berkembang dan mengadopsi gaya streetwear dengan karakteristiknya tersendiri. Siapa sangka, minat dan permintaan pasar terhadap koleksi streetwear terbukti stabil dan langgeng melintasi masa, bahkan terus berkembang di era modern seperti saat ini. Di Indonesia sendiri, fenomena streetwear mulai berkembang pada era ‘90-an ketika label-label streetwear asal Amerika Serikat dan Australia kian populer di kalangan anak muda. Industri streetwear lokal baru semakin membesar pada awal tahun 2000-an, ketika distro (singkatan dari distributor outlet) mulai menjamur di berbagai titik tempat perkumpulan anak muda di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Label-label streetwear lokal pun bermunculan. Tak jarang, label-label tersebut menggunakan fashion sebagai medium untuk menyuarakan pesan-pesan tertentu, mulai dari pesan untuk sekadar mengekspresikan diri hingga pesan subtil bermuatan politik. Tren ini tumbuh besar dan panorama anak muda yang memadati distro pun menjadi pemandangan yang sangat lumrah di kala itu. Layaknya tren gaya hidup kebanyakan, industri streetwear lokal juga mengalami masa pasang surut. Meskipun kuantitas distro tak lagi sebanyak dulu, Indonesia tetap memiliki sejumlah label streetwear yang tak hanya mampu mempertahankan eksistensinya di kancah fast fashion lokal saja namun juga berhasil menggaet stockist yang berbasis di luar negeri. Barangkali belum banyak publik yang tahu mereka bisa menemukan koleksi streetwear asal Indonesia

dipasarkan di negara-negara berkembang seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, maupun Singapura. Industri streetwear Tanah Air telah turut berkontribusi dalam perkembangan ekonomi kreatif Indonesia dengan mengekspor pakaian jadi ke sejumlah negara importir, dan kita harus merasa bangga akan kontribusi serta pencapaian label-label streetwear lokal tersebut. Berbeda dengan nama-nama high fashion lokal yang aktif wara-wiri mempresentasikan koleksinya baik dalam skala domestik maupun internasional, label streetwear lokal nyaris tidak mendapatkan sorotan yang sama besarnya. Padahal geliat mereka tak kalah impresif. Melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh industri streetwear Tanah Air untuk terus berkembang dan menjangkau pasar internasional, belum lama ini Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) memutuskan untuk memberikan dukungan pada sejumlah pelaku industri streetwear lokal untuk mengikuti perhelatan streetwear terbesar di Amerika Serikat yakni Agenda. Di acara ini, lima label streetwear lokal yang telah lolos proses kurasi dan berhasil membuktikan kematangan mereka dalam berbisnis, berkesempatan untuk menampilkan hasil karya mereka pada pasar peminat streetwear terbesar di dunia yakni Amerika Serikat. Kegiatan ini dilakukan untuk membukakan kesempatan bagi kelima label untuk dapat memperluas jangkauan pasar mereka ke depannya. Label seperti Paradise Youth Club, Elhaus, Oldblueco, Monstore, dan Potmeetspop merupakan lima merek streetwear lokal yang sukses membawa dan memperkenalkan produk streetwear Indonesia di acara Agenda tersebut. Kehadiran lima label tersebut rupanya memberikan napas baru pada perhelatan akbar label-label streetwear yang rutin digelar di tiga kota besar di Amerika Serikat setiap tahunnya. “Label Indonesia mendapatkan banyak sorotan di Agenda berkat desain mereka yang sangat variatif. Mereka tidak hanya terpaku pada T-shirt maupun hoodie saja seperti koleksi label streetwear pada umumnya. Mereka juga menawarkan model busana lainnya yang tetap mudah untuk dipadu-padan dan sesuai dengan kebutuhan konsumen streetwear sehari-hari,” papar Khairiyyah Sari dari BEKRAF. Kendati menurut pandangan awam desain streetwear lokal tampak seragam dan “begitu-begitu saja”, namun bila ditelisik secara lebih mendalam setiap koleksi yang dirilis memiliki kekuatan artistik yang berbeda. Monstore misalnya, selama hampir satu dekade konsisten menghadirkan koleksi streetwear bergaya unisex yang luwes untuk dikenakan oleh kedua gender. Nama-nama seperti Unkl347, Aesthetic Pleasure dan Thankinsomnia, meskipun tidak berpartisipasi dalam pameran Agenda, juga merupakan label streetwear berkualitas yang patut diperhitungkan. Begitu pula dengan Paradise Youth Club yang—terlepas dari usianya yang terbilang baru—sudah cukup sukses mendulang popularitas di kancah streetwear global berkat desainnya yang unik dan kualitasnya yang baik. Label Oldblueco juga tak luput dari sorotan para buyer internasional dengan koleksi denimnya yang mengedepankan kualitas craftsmanship yang mumpuni. “Oldblueco ini sudah memiliki stockist di Oakland dan mendapatkan review positif di acara Agenda kemarin. Kualitas denim mereka bahkan disebut sudah mampu untuk disandingkan dengan merek denim ternama seperti Levi’s,” jelas Khairiyyah Sari. Pendekatan artistik yang diterapkan oleh Elhaus ke dalam rancangan streetwear juga patut mendapatkan apresiasi. Selain bermodalkan desain kontemporer yang menarik, Elhaus menginjeksikan sentuhan budaya Indonesia secara subtil dan mampu membuat koleksi streetwear tetap modern, kasual, dan jauh dari kesan terlalu etnik. Sebagai contoh, ia mengaplikasikan kain tenun bermotif simpel sebagai lapisan dalam jaket denim. Metode seperti ini membuat koleksi Elhaus berhasil menarik perhatian pasar internasional, karena koleksinya tak lagi sekadar sepotong busana siap pakai saja, namun menjadi busana dengan sepenggal cerita yang tercantum di balik rancangannya. Meskipun demikian, mengaplikasikan unsur kebudayaan Indonesia tidak lantas menjadi harga mati yang menentukan faktor kesuksesan sebuah label streetwear lokal untuk dapat bersaing dan bertahan di tengah gempuran label streetwear lainnya. Komitmen untuk memperkenalkan produk hasil karya anak bangsa dengan kualitas desain dan keterampilan yang cakap sudah menjadi bentuk kontribusi nyata. Selain itu, kematangan dari segi bisnis dan pemasaran juga menentukan keberhasilan sebuah label streetwear. Mengingat karakteristik produk streetwear relatif senada antara satu sama lain, maka dibutuhkan kejelian dan kepiawaian dalam mempromosikan produk dengan cara yang berbeda. Mungkin masih banyak elemen yang dapat (dan harus) dikembangkan lagi oleh para pelakon industri streetwear lokal. Namun melihat besarnya potensi industri ini untuk terus merekah di masa depan, sudah saatnya konsumen lokal turut berkontribusi dan memberikan dukungan dengan membeli dan bangga mengenakan produk streetwear lansiran mereka.

Elhaus

Monstore

Paradise Youth Club

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.