Perjalanan Artistik Soeryanto

Bazaar memberikan tribut kepada salah satu mastermind di industri pernikahan indonesia ini. eksistensi lintas dekade soeryanto di ranah dekorasi pesta pernikahan bukan tanpa alasan.

Harper's Bazaar Wedding Ideas (Indonesia) - - ISI - Oleh stella Mailoa

“Saya mendekor sejak kecil,” begitu jawaban singkat Soeryanto atau yang akrab disapa Syu saat ditemui Bazaar Wedding Ideas di sela-sela pekerjaannya mendekor resepsi pernikahan di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. Ya, ia tetap turun tangan sendiri di setiap karya dekorasinya, memastikan setiap detail desain dieksekusi dengan sempurna. Kecintaannya terhadap dekorasi dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMP di Malang. Saat itu, dekorator yang juga kelahiran Malang ini sering ikut terlibat dan bahkan mendesain sendiri dekorasi beragam pesta, termasuk pesta pernikahan yang saat itu seringkali digelar di Toko Oen, sebuah lokasi prestisius untuk sebuah acara di era itu.

Selepas SMA, ia lalu melanjutkan pendidikannya di bidang arsitektur dengan hijrah ke Jakarta pada tahun 1972. Ia begitu terkejut melihat keadaan bahwa di Jakarta saat itu tidak terdapat dekorator pesta. “Saat itu ternyata di Malang lebih maju dalam hal dekorasi, meskipun dekorasinya tidak mewah,” kenangnya. Tidak lama setelah pindah ke Jakarta ia pun diundang untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan anak dari seorang pengusaha ternama di Jakarta. “Saat itu Hotel Borobudur baru jadi, pestanya diadakan di sana, dan saya sangat excited untuk melihat lokasinya akan seperti apa, apalagi yang menikah adalah anak salah seorang terkaya di Indonesia,” jelasnya.

“Tapi saat tiba di sana, saya kaget melihat latar panggung pelaminan hanya berupa bunga papan ucapan selamat berbahagia yang disusun rapi,” tambahnya lagi. Setelah itu, Soeryanto kembali menghadiri sejumlah resepsi pernikahan lain, namun hampir semuanya mengaplikasikan dekorasi yang serupa.

Setelah beberapa saat, ia lalu dikenalkan dengan Muriani Budiman, seorang aktris yang melejit namanya lewat film Karmila. Urusan dekorasi resepsi pernikahan Muriani yang juga digelar di Hotel Borobudur, dipercayakan sepenuhnya kepada Soeryanto. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Soeryanto. Saat itu ia sukses memukau sekitar 2.100 tamu undangan yang hadir. “Saya menciptakan dekorasi dengan palet warna putih dan pink. Saya membuat sendiri dekorasi berbentuk pilar dari kertas krep,” jelasnya. “Ketika itu tamu yang hadir cukup tercengang karena belum terbiasa dengan dekorasi yang terlihat berbeda,” kenangnya. Momen membanggakan ini turut menandai kehadiran seorang dekorator jenius di Jakarta.

Sekitar 44 tahun setelah mendekor pesta pernikahan pertamanya di Jakarta, Soeryanto tetap menjadi salah seorang dekorator top yang paling dicari saat ini. Ia mengakui salah satu sumber kreativitasnya datang dari kemampuannya menata taman. “Saya sangat senang menata taman. Dulu, saya bahkan sering diikutsertakan dalam perlombaan oleh teman-teman saya,” ujarnya. “Namun saya bingung saat ditanya karakter desain dekorasi saya seperti apa. Saya bisa menciptakan sesuatu yang sangat kontras dengan apa yang sudah saya kerjakan sebelumnya, karena dekorasi adalah cerminan pribadi masing-masing pasangan pengantin,” tambahnya.

Ia mengaku hampir setiap kali selalu terinspirasi dari sang pengantin sendiri saat mendesain dekorasi sebuah pesta pernikahan. Proses kreatifnya senantiasa berawal dari pertemuannya dengan kedua pengantin dan keluarganya. Proses ini menjadi momen krusial karena ia harus menggali dan mengerti dengan tepat apa yang diinginkan oleh sang empunya helatan. “Yang menjadi masalah, terkadang mereka juga tidak terlalu paham apa sebenarnya yang diinginkan. Ada juga yang memberikan kata-kata sifat yang justru bertolak belakang. Dan karena pernikahan juga berarti melibatkan dua keluarga, kedua pihak harus sepakat bahkan dalam hal dekorasi sekalipun,” tegasnya. Setelah proses bertukar pikiran, Soeryanto lalu mulai menerjemahkan ide dan keinginan tersebut ke dalam wujud visual. Ia sangat bersyukur dengan perkembangan teknologi yang banyak membantu seseorang dengan profesi seperti dirinya. Visualisasi yang dahulu ia gambarkan lewat sketsa di atas kertas pun kini berganti dengan gambar animasi tiga dimensi yang membuat para calon pengantin dapat membayangkan bentuk dan rupa dekorasi pada hari bahagia mereka akan seperti apa. “Dulu saya harus langsung mengunjungi negara tempat sumber inspirasi ide dekorasi yang diminta untuk mengalami dan melihat langsung kota atau negaranya. Namun sekarang saya bisa mencari gambar-gambar lewat internet,” jelasnya. “Tapi, tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman langsung mengunjungi tempat-tempat tersebut. Dan saya beruntung telah menjalaninya dalam waktu yang cukup lama. Pengalaman itu justru menjadi bekal saya.”

Lalu apakah begitu mengajukan ide desain, pendapatnya langsung diterima? “Sebagian besar mereka akan suka dengan apa yang saya ajukan. Namun, bukan berarti setelah itu tidak ada revisi dari klien,” jawabnya. Sejauh ingatannya, ia pernah mengganti desain sampai sepuluh kali untuk sebuah pernikahan karena keinginan mereka kerap berubah-ubah. Ia mengatasinya dengan tetap mengikuti keinginan sang klien, selama dekorasi tersebut memang belum diproduksi. Karena, inti dari setiap pekerjaannya adalah “Kepuasan sang pengantin. Jika mereka senang, ya saya ikut senang,” ujarnya sambil tersenyum. Mengikuti keinginan klien tidak serta-merta mewujudkan semua apa yang mereka inginkan menjadi kenyataan. Ia kerap mengalami kesulitan dalam memberi pengertian kepada para calon pengantin jika apa yang mereka minta itu mustahil untuk dilaksanakan. Bahkan, ia menjelaskan bahwa salah satu hal yang paling rumit dari pekerjaan seorang dekorator adalah menyesuaikan desain dan keinginan pengantin dengan keadaan di lapangan, yang tidak jarang terbatas dalam memenuhi semua impian itu. “Misalnya, pernah ada yang ingin membuat dekor seperti sebuah kastil. Kastil itu harus tinggi dan kurus, sementara gedung di sini mayoritas berdimensi melebar dan cenderung pendek. Bukan berarti tidak mungkin sepenuhnya, tapi modifikasi ini kadang agak sulit dan perbandingannya harus hati-hati,” ujarnya. “Jadi, menyesuaikan dan mengakali desain dengan kondisi gedung, dan meyakinkan para calon pengantin bahwa dekorasi tertentu mungkin tidak dapat diaplikasikan di sini, adalah beberapa hal yang paling menantang dalam pekerjaan saya.”

Namun tidak sulit bagi Soeryanto untuk memilih salah satu dekorasi paling megah yang pernah ia buat. “Saya pernah membuat replika Candi Borobudur setinggi 7 meter dan panjangnya mencapai 77 meter sebagai elemen dekorasi,” jawabnya cepat. Bahkan dekorasi ini masih disimpan 7-8 tahun setelah pesta pernikahan tersebut. Proyek ini juga merupakan salah satu yang paling memorable karena prosesnya yang cukup panjang dan skalanya yang masif.

Ramainya industri pernikahan belakangan ini, khususnya di Indonesia, membuat eksistensi beberapa dekade merupakan pencapaian luar biasa. Dan Soeryanto percaya bahwa passion-nya terhadap pekerjaannya inilah yang menjadi rahasia di balik eksistensinya hingga kini. “Banyak orang yang menanyakan hal yang sama kepada saya. Saya rasa yang penting adalah kita bekerja dengan senang hati. Jangan hanya memikirkan hasil finansialnya,” terangnya. “Passion saya memang di bidang ini dan orang ternyata masih percaya kepada saya.” Hal yang sama juga ingin ia tegaskan kepada para dekorator muda. Selain passion, untuk tetap eksis di di industri yang dinamis ini, para generasi muda harus terus melatih diri untuk menjadi kreatif. “Karena hanya yang berkualitas yang mampu bertahan lama. Jangan mencari jalan mudah, tapi harus terus belajar,” pesannya.

“Saya bisa menciptakan sesuatu yang sangat kontras dengan apa yang sudah saya kerjakan sebelumnya, karena dekorasi adalah cerminan pribadi masingmasing pasangan pengantin.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.