SURGA DI PERAIRAN SELEBES

Menjelajahi pesona Kepulauan Wakatobi.

Herworld (Indonesia) - - Contents -

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan luas laut mencakup dua per tiga dari total keseluruhan wilayahnya. Sebagai penggemar traveling, Velysia Zhang senang menjelajah ragam destinasi di Indonesia terutama pada area pantai dan pulau yang masih alami, salah satunya Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

MENDALAMI PESONA PULAU BUTON

Perjalanan saya awali dengan mengunjungi Kota Baubau, salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Wakatobi. Bermodalkan informasi dari penduduk setempat, kami menyewa mobil pick up untuk mengunjungi objek wisata di sekitar kota sembari menunggu jadwal keberangkatan kapal pada malam hari. Baubau yang merupakan sebuah kota di Pulau Buton menyimpan peninggalan warisan dari masa jaya Kerajaan Buton (Wolio).

Benteng Keraton adalah salah satu peninggalan kerajaan yang masih berdiri kokoh. Dibangun pada abad-16, ini bisa dibilang sangat unik di mana di dalamnya terdapat pemukiman penduduk. Strukturnya pun tidak biasa yaitu terbuat dari batu kapur dan masih terlihat beberapa meriam yang menghiasi sisi belakang bangunan.

Di dalam kompleksnya, terdapat pula sebuah masjid yang bernama Masjid Agung Wolio. Masyarakat meyakini bahwa masjid ini dibangun tepat di atas pusena tanah yang berarti ‘pusatnya bumi’. Ada sebuah tiang kayu berkaki tiga yang menjulang tinggi di salah satu sisi masjid. Kasulana Tombi namanya. Ia diartikan sebagai tiang bendera yang terbuat dari kayu jati dengan tinggi mencapai 21 meter dari permukaan tanah. Kasulana Tombi digunakan untuk mengibarkan bendera Kesultanan Buton bernama “Longa-longa”. Selain itu, terdapat juga Batu Popaua yang merupakan batu alam yang disakralkan sebagai tempat pengambilan sumpah para raja dan sultan Buton.

Puas mengelilingi benteng yang dinobatkan sebagai benteng terluas di dunia, saya pun akhirnya pindah ke objek wisata lain yaitu Gua Lakasa. Tak mudah melangkahkan kaki di dalamnya karena medan yang cukup licin dan curam. Sesampainya di gua, saya benar-benar tidak menyangka bahwa gua ini masih sangat alami. Formasi stalaktit dan stalagmit membuat saya tercengang akan keindahannya. Ada yang berbentuk runcing, ada yang seperti jari manusia, ada juga yang berbentuk tirai, dan beragam bentuk lain yang menggantung di langit-langit. Ah, Indahnya!

Setelah berjalan sekitar 120 meter lagi ke arah dalam, kami berhasil sampai di sebuah kolam berair jernih. Saya pun kemudian dikejutkan oleh teman yang kegirangan luar biasa

karena menemukan sebutir kristal di salah satu sudut dekat kolam. Menakjubkan dan di luar ekspektasi. So, setelah lebih dari 45 menit menjelajah, saya keluar dengan perasaan gembira.

Well, Gua Lakasa merupakan salah satu tujuan wajib di Baubau, pastikan Anda menggunakan pemandu demi keamanan dan keselamatan.

TAMAN NASIONAL WAKATOBI

Bagi yang belum tahu, Wakatobi merupakan singkatan dari empat gugusan pulau besar yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Dianugerahi oleh keindahan dan keanekaragaman hayati bawah lautnya, Wakatobi ditetapkan statusnya sebagai Taman Nasional pada tahun 1996. Dengan luas keseluruhan sebesar 54,500 hektar, Wakatobi merupakan rumah dari 396 jenis terumbu karang dan sekitar 590 jenis ikan. Berbagai jenis flora dan fauna juga bisa ditemukan di daerah ini. Tidak heran jika banyak pecinta aktivitas menyelam menjadikan Wakatobi sebagai salah satu area diving unggulan.

Tujuan pertama saya adalah Pulau Hoga yang terletak di Kaledupa. Sebenarnya tidak masalah pulau mana yang duluan dikunjungi karena kapal antar pulau di Wakatobi beroperasi setiap hari. Kapal kayu yang kami tumpangi berlayar mengarungi lautan semalaman dan berlabuh di Kaledupa keesokan paginya. Menggunakan kapal umum merupakan pengalaman menarik tersendiri bagi saya. Walaupun kondisinya semerawut, tidur tak beraturan hanya beralaskan kain, dan guncangan yang cukup kencang, namun keseruan berbaur dengan penduduk lokal sangat saya nikmati.

Sesampainya di Pelabuhan Buranga, Kaledupa, kami dijemput oleh sebuah kapal kecil menuju Pulau Hoga. Perjalanan yang seharusnya hanya 15 menit menjadi 30 menit dikarenakan cuaca dan ombak yang kurang baik. Meskipun rintik hujan belum berhenti, kami sudah ready dengan peralatan snorkeling dan langsung berenang di dekat dermaga. Saya merasa bak di akuarium besar. Ikan-ikan kecil berenang kesana kemari dan berbagai jenis terumbu karang menghiasi bawah laut. Cantik luar biasa.

Keesokan harinya, saya menyempatkan mampir ke desa Suku Bajo yang terletak tidak jauh dari Pulau Kaledupa. Sejak dulu suku Bajo telah tinggal di rumah panggung di atas perairan Indonesia. Suku Bajo dikenal dengan kemampuan mereka menangkap ikan mengunakan tombak. Mereka mampu menyelam ke lautan dan menahan napas untuk waktu yang lama. Sebuah kemampuan yang telah terlatih atas pengalaman lahir dan hidup di lautan. Beberapa orang Bajo bahkan sengaja memecahkan gendang telinga mereka ketika muda agar memudahkan mereka berburu di laut.

Dari Kaledupa, kami menuju Tomia dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Di Tomia, saya mencoba discovery dive untuk pertama kalinya. Awalnya sempat

panik karena tidak terbiasa bernapas menggunakan regulator. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya berhasil menyelam sekitar 5 meter sebelum akhirnya menyewa kapal nelayan untuk menuju spot lain yang lebih tersohor untuk snorkeling di sekitar Tomia seperti Marimabuk, Fan Garden, dan Table Coral City.

NUANSA SURGA

Berasa di Nirwana! Itulah hal pertama yang terbesit saya saat snorkeling di Tomia. Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan karang. Bentuknya pun bermacammacam dari hard coral sampai soft coral. Pertama kalinya saya melihat begitu banyak seafan warna warni. Ikan karang kecil bertebaran dimanamana. Sesekali ular laut dengan corak belang hitam putih menggeliat kesana-kemari. Saking senangnya menjelajahi bawah laut di Tomia, kami tidak sadar bahwa matahari mulai hilang di ufuk barat. Tidak lupa kami menjelajah beberapa destinasi menarik di Tomia seperti Pantai Huntete, Puncak Kahianga, dan Benteng Patuha.

Terakhir, Wangiwangi adalah pulau penutup yang kami kunjungi. Saya tidak berekspektasi terlalu tinggi karena banyak yang bilang, spot snorkeling di sana tak seindah Pulau Hoga dan Tomia. Sempat kecewa ketika memulai snorkeling di dekat Pantai Waha karena banyak terumbu karang yang rusak. Semakin jauh kami berenang menjauhi daratan, surprisingly mulai terlihat karang-karang yang lebih sehat. Lebih mengejutkannya lagi, spot ini menurut saya merupakan spot paling bagus melebihi spot-spot lain. Karang-karang indah memadati wall yang tidak kelihatan ujungnya, spot yang sempurna bagi kami yang hobi free-diving.

Perjalanan ke Wakatobi merupakan salah satu perjalanan paling berkesan yang pernah saya alami. Mungkin sebagian orang bilang ke Wakatobi sangat sulit dan memakan waktu yang lama, tetapi semua effort akan terbayar dengan keindahan lautnya yang luar biasa. Ditemani dengan sahabat makin melengkapi keasikan perjalanan saya ke Wakatobi. Semoga saya bisa kembali lagi di lain kesempatan.

Caption

Stalaktit & stalagnit di Goa Lakasa

Bagian dari Benteng Keraton Buton

1. Laut jernih yang memukau. 2. Massjid Agung Wolio 3. Surga terumbu karang tak terlupakan. 4. Patung ekor naga maskot kota Bau bau. 5. Kapal umum yang menghubungkan pulau 6. Anak-anak lokal 7. Perumahan suku Bajo.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.