MUTUAL UNKNOWN

Ajang Pameran Seni Eksperimental Bagi Para Seniman Muda Asia Tenggara

Home & Decor (Indonesia) - - Now -

Sebelumnya mungkin Anda membayangkan karyakarya yang telah dipajang rapi ketika memasuki ruangan Galeri Nasional Indonesia. Namun, berbeda dari pameran-pameran sebelumnya, yang cenderung berbasis objek, kali ini Anda akan disuguhkan sebuah pameran yang tidak biasa, dimana para seniman akan berkarya pada saat pameran dan berinteraksi langsung dengan pengunjung galeri. Pengunjung yang hadir diharapkan dapat berbagi pandangan, mengajukan pertanyaan, dan secara aktif berinteraksi dalam proses penciptaan karya seni. Maka, alih-alih sebagai presentasi dari sebuah hasil, Mutual Unknown merupakan pameran berbasis proses.

Sembilan seniman dan tiga kurator akan bersama-sama menciptakan karya seni, serta mengambil peran dalam diskusi mengenai Asia Tenggara dalam waktu 2 minggu. Seniman yang terpilih untuk mengikuti program ini adalah Azam Aris (Malaysia), Fajar Abadi (Indonesia), Nuttapon Sawasdee (Thailand), Thuy Tien Nguyen (Vietnam), Tan Vatey (Kamboja), Renz Lee (Filipina), Kaung Myat Thu (Myanmar), Leonard Yang (Singapura), dan Noy Xayatham (Laos). Kurator pameran ini adalah Henry Tan (Thailand), Sally Texania (Indonesia), dan Rifandy Priatna (Indonesia).

Seniman dan proses karya dalam pameran ini diposisikan sebagai sebuah pintu awal diskusi dan komunikasi aktif bagi seluruh pengunjung pameran. Karenanya tidak ada karya yang sudah selesai untuk bisa dilihat dalam pameran ini. Lebih detail, pameran yang diselenggarakan oleh CuratorsLAB dan didukung penuh oleh Goethe- Institut dan Galeri Nasional IndonesiaKementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan antara lain; sebagai bangsa di Asia, apakah kita memiliki pemikiran regional bersama?

Mutual Unknown merupakan sebuah proyek yang lahir dari pertemuan kurator anggota Curators LAB yang mempertanyakan bagaimana sebuah proyek regional dapat membawa usaha pembentukan jejaring yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi, usaha ini diharapkan juga memunculkan pembahasan nyata mengenai batas dan kendala antar pelaku kesenian di Asia Tenggara. Di luar segala kemudahan teknologi yang ada, masih terlalu banyak batas-batas yang perlu diatasi dalam komunikasi, khususnya akibat perbedaan kebudayaan dan bahasa.

Pameran Mutual Unknown diputuskan meminjam bentuk pameran bersifat laboratorium yang cenderung menitikberatkan pada proses dan interaksi. Sebagai sebuah kesadaran penciptaan pameran, metode ini digunakan tidak sebagai bentuk pemberontakan ataupun pula menjadi hal baru yang terjadi di ruang seni rupa, apalagi bila kita bicara mengenai perkembangan pola ini dalam praktik seni rupa di dunia barat dan adanya adaptasi format proses ini pada berbagai ruang alternatif. Keputusan tersebut dilandasi oleh kesadaran sebagai pembuat pameran seni, kami percaya bahwa komunikasi, interaksi dan dialog pada proses pembuatan karya seni akan menjadi krusial dan bermanfaat bagi seniman dan para pecinta seni.

Newspapers in English

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.