NOW PEOPLE - LINDUNG SOEMARHADI

ARCHITECTURAL PHOTOGRAPHER AND THE OWNER OF NILAI ASIA

Home & Decor (Indonesia) - - Contents -

Tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang berorientasi desain yang kuat telah meyakinkannya untuk menumbuhkan ketertarikan mendalam pada desain dan seni.

Lindung Soemarhadi yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur, tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang berorientasi desain yang kuat telah meyakinkannya untuk menumbuhkan ketertarikan mendalam pada desain dan seni. Pendidikan formal dan kualifikasi sebagai arsitek sebenarnya memberi nya kemampuan untuk menangkap atmosfir suatu tempat.

Dengan menggunakan kamera film 35mm milik ayahnya, Lindung mulai mengambil foto pada tahun 1993 dan antusiasmenya terhadap fotografi mulai berkembang. Ini mungkin salah satu keputusan tepat yang pernah ia buat karena disitulah kemampuannya berkembang dengan baik.

Kemudian Lindung menciptakan Nilai Asia, awalnya hanya sebagai label dari ketertarikannya dalam Landscape Photography. Mungkin sebagian besar fotografer menggunakan nama pribadinya sebagai label, misal Lindung Soemarhadi Photography. Nilai Asia sendiri memiliki makna, bahwa bagaimana Lindung terlahir sebagai orang Asia yang me-Nilai atau memberikan value terhadap obyek yang ia lihat atau obyek yang akan ia foto. Logo Nilai Asia sendiri merupakan representasi dari bentuk dari matahari, yang mana di Landscape Photography natural lighting adalah sumber utama. Bisakah Anda sedikit menceritakan awal ketertarikan di dunia fotografi? Sebenarnya sama sekali tidak pernah terfikir untuk menjadi Architectural Photographer. Cita-cita saya arsitek dan ketertarikan dunia fotografi pada awalnya hanya dari bermain dengan kamera analog milik orang tua saya pada tahun 1993. Sampai disitu hanya casual shots saja, karena pada saat itu belum cukup modal untuk belajar, membeli film apalagi untuk biaya cuci cetak filmnya. Sampai pada tahun 2007, saya membeli DSLR untuk pertama kalinya, dan dari situ ketertarikan saya awalnya adalah Landscape Photography berkembang dan semakin berkembang bahkan sampai dengan saat ini. Architectural Photography mengikuti setelahnya, yaitu karena ternyata investasi di dunia fotografi bisa dibilang tidak murah, maka mulai berfikir bagaimana caranya dengan skill fotografi yang saya miliki bisa menghasilkan pendapatan tambahan. Karena saya seorang arsitek praktisi, akhirnya menjadi keuntungan saya sebagai seorang Architectural Photographer, karena sampai saat ini saya masih bekerja full-time sebagai arsitek, sehingga dapat lebih mudah memahami sebuah desain arsitektur dan bagaimana obyek arsitektural itu seharusnya tampil secara dua dimensi. Hal apa yang membuat Anda dan tim terinspirasi dalam memotret atau mengcapture sebuah objek? Sebenarnya, saya lebih sering bekerja sendiri dalam pembuatan Architectural Photography. Dan biasanya, obyek arsitektural dan konteks lingkungannyalah yang dengan sendirinya bisa memberikan insiprasi bagi saya bagaimana ‘making a good photo’. Good architectural design making good chemistry to the photographer.

Harmony, Clarity and Truth. Seperti yang tertera di website saya nilaiasia. com. Tiga kata kunci yang selalu ingin saya berikan di dalam tiap karya foto saya. Menurut saya trademark tidak bisa diciptakan oleh fotografernya. Tapi audience- lah yang pada akhirnya akan ‘membaca’ bagaimana karakter hasil karya dari seorang fotografer. Siapakah fotografer favorit Anda atau yang menginspirasi karya Anda? Untuk arsitektur fotografer favorit adalah Fernando Guerra, Iwan Baan dan Patrick Bingham-Hall. Dan bila ada kesempatan kolaborasi, segera saya akan menjadi spons yang bisa menyerap ilmu mereka dengan baik. Mereka jauh lebih berpengalaman di dunia architectural photography dan hasil karya mereka memiliki kekuatan karakter yang baik. Apakah ada hal-hal yang menarik atau fakta dari Anda secara pribadi maupun karir dan brand Anda yang belum pernah diketahui sebelumnya oleh orang-orang? Dalam dunia arsitektural fotografi, sisi komersial bisnis bukan menjadi yang utama bagi saya. Karena itu, dalam menghasilkan karya arsitektural fotografi, saya tidak ‘kejar setoran’. Melainkan buat saya, ini adalah dunia kerja seni yang seutuhnya, butuh proses dan penghayatan yang baik agar menghasilkan karya foto yang ‘kuat’. Bagi saya, dalam Architectural Photography mungkin lebih bebas dibandingkan dengan proses desain arsitektur. Karena dalam fotografi there’s no limit. Saya lebih bebas memiliki persepsi dan ekspresi.

teks DINDA BESTARI

Newspapers in English

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.