Rumah Baru Tampilan Masa Lalu

RUMAH ANDA

IDEA - - Konten - TEKS DEWI KARTINI FOTO ADELINE KRISANTI PROPERTI LUKI WITOELAR DAN TITA WITOELAR, CINERE, DEPOK

Rumah baru dengan konsep “rumah nenek” ini menjadi tempat bertemunya masa lalu dengan masa kini.

Teras yang nyaman untuk menikmati suasana pagi dan sore hari ini menghadap ke taman. Hadap bangunan utama sengaja diarahkan ke samping untuk menjaga ketenangan dan privasi pemilik rumah.

RUMAH BARU dibangun dengan konsep masa kini, itu sih biasa. Bagaimana kalau rumah baru sengaja dibangun agar terlihat “tua”? Itu baru berbeda! Dan hal berbeda itulah yang diterapkan di rumah ini. Rumah baru yang dibangun dari lahan kosong pada tahun 2012

lalu itu sengaja dibuat seolah rumah yang sudah berusia di atas 60 tahun.

Berplafon tinggi dan memiliki detaildetail vintage, bangunan seluas 200 m2 ini memang mengingatkan kita pada masa lalu. Bentuk pintunya tinggi, lantainya menggunakan tegel berdesain jadul, temboknya dilapis dengan batu templek. Terlihat juga jendela bulat ala kapal laut di beberapa bagian dinding.

“Nyawa” kuno pada rumah ini semakin terasa oleh kehadiran furniturnya. Nyaris seluruhnya merupakan barang-barang lawas. Tak hanya furnitur seperti kursi, meja, dan lemari, aksesori ruang semisal guci, vas, peralatan makan, hingga taplak yang digunakan pun telah berusia puluhan tahun sehingga atmosfer masa lalu itu semakin terasa.

Bentuk bangunannya mengadaptasi rumah-rumah peninggalan zaman Belanda seperti yang terdapat di kawasan Dago, Bandung. Rumah dengan teras yang dinaungi atap berteritisan lebar itu akan mengingatkan kita pada rumah-rumah tempo dulu. Di masa itu, teras menjadi area yang fungsional untuk duduk-duduk santai di pagi atau sore hari, sambil menikmati kudapan ringan dan membaca koran.

Demi menjaga privasi penghuni serta mengurangi kebisingan, arah hadap rumah tidak dibuat ke jalan utama komplek perumahan, tetapi menghadap ke samping. Sementara jika dilihat dari jalan, rumah ini akan didominasi tampilan carport dan garasi. Garasinya sendiri merupakan massa terpisah dari bangunan utama, dibuat dari kayu solid dengan teknik pemasangan knock down.

Pasangan suami istri Luki Witoelar (82 tahun) dan Tita Witoelar (79 tahun), pemilik rumah ini, sebelumnya tinggal di rumah besar berlahan lebih dari 1.000 m2. Setelah kedua anaknya berkeluarga dan hidup terpisah, rumah itu menjadi terlalu besar untuk mereka berdua. Diputuskanlah untuk membuat rumah baru yang lebih kecil untuk pasangan yang memiliki 4 cucu ini.

“Supaya ada nilai kedekatan, mereka ingin agar rumah baru itu didesain seperti rumah-rumah di masa lalu. Apalagi barang-barang yang mereka miliki juga serba-kuno, sehingga rasanya hunian dengan konsep ‘rumah nenek’ itu lebih pas untuk mereka,” jelas Luthfi Hasan, menantu Luki dan Tita yang ikut menangani pembangunan rumah ini.

Luthfi yang juga memiliki brand furnitur vintage dengan label Jakarta Vintage, membantu menata interior hunian ini agar lebih nyaman, sesuai dengan konsep “rumah nenek” yang ingin dimunculkan. •

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.