Rumah Tanpa Sampah

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah di rumah, bahkan sampai sama sekali tidak ada.

IDEA - - Konten -

MASIH INGATKAH ANDA dengan bencana longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, 2005 silam? Dini hari, gunungan sampah yang terguyur hujan deras menggusur 2 kampung di kawasan itu dan menelan korban jiwa 157 orang. Begitu ironisnya peristiwa ini, seolah mengingatkan bahwa manusia dapat menjadi korban akibat tindakannya sendiri.

Sayangnya, saat ini tata kelola sampah di Indonesia sekadar memindahkan sampai ke lahan TPA. Sebagian dibakar dengan incinerator. Hanya sebagian kecil yang didaur ulang. Lama-kelamaan, semua TPA akan memiliki masalah yang sama, yaitu kelebihan kapasitas. Bukan tidak mungkin, tragedi TPA Leuwigajah akan terulang.

Sekelompok warga di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, tepatnya di RW 08 Camar Pinguin, melakukan inisiatif Kota Tanpa Sampah, yang bertujuan mengurangi produksi sampah di lingkungan mereka. Inisiatif ini diawali dari keberhasilan RW ini pada 2014 dan 2015 meraih juara kedua lomba Kebersihan, Ketertiban, Kelestarian yang diadakan pengembang Bintaro Jaya.

Setelah lingkungan mereka bersih, lantas ke mana sampah-sampah mereka dibawa? Inilah keingintahuan warga dan pertanyaan yang kemudian muncul. TPA Rawa Kucing, jawabannya. TPA seluas 34,8 ha di Tangerang ini merupakan TPA cadangan karena TPA Cipeucang di Tangerang Selatan sudah tidak mampu menampung. Tidak lama lagi, TPA Rawa Kucing juga akan mengalami kelebihan kapasitas. Untuk kawasan Camar Pinguin saja, dalam 2 tahun sudah “menyumbang” 2.500 ton sampah ke TPA tersebut.

Menyadari bahwa sampah mereka hanya berpindah tempat, warga menjadi antusias mengambil bagian dalam inisiatif ini. Slogan seperti “Buanglah sampah pada tempatnya” atau “Kebersihan adalah sebagian dari iman” dirasa tidak lagi relevan. Karena, jika di sebuah wilayah bersih dari sampah, sampah itu akan menjadi masalah di tempat lain. Ibu Ketua RW 08, Puji Susilo, memiliki pendapat yang sangat mengena, “Ternyata bersihnya kita menzalimi orang lain.”

“Selama ini kita tidak peduli ke mana sampah kita berakhir, karena ada jarak antara rumah kita dengan TPA,” ujar Adi Wibowo dari LabTanya, salah satu inisiator Kota Tanpa Sampah. Padahal, sampah tidak muncul tiba-tiba dengan sendirinya. Sampah merupakan sisa barang konsumsi manusia. Dengan kata lain, manusialah “pencipta” sampah. Berbekal pemikiran ini, seharusnya sampah pun dapat kita kendalikan.

Mengurangi sampah dapat dilakukan dengan 2 strategi. Pertama adalah strategi pintu belakang, yaitu mengolah sampah yang ada. Sampah di rumah dapat dipilah dengan kategori sebagai berikut. • Sampah yang dapat diberi ke pengepul untuk didaur ulang di antaranya adalah kertas, plastik, kaleng, atau botol. • Sampah yang dapat dijadikan kompos contohnya sisa sayur, kulit buah, kulit telur. • Sampah yang dibuang ke tempat sampah. Sampah inilah yang akan berakhir di TPA, sehingga harus kita kurangi jumlahnya.

Yang justru lebih penting adalah strategi pintu depan, yaitu membatasi konsumsi yang menghasilkan sampah. Sebelum membeli barang, kita seharusnya sudah mengenali sampahnya. Pilihlah alternatif benda yang sampahnya lebih sedikit, atau bahkan tidak menghasilkan sampah. Misalnya, daripada tempe berbungkus plastik, lebih baik kita membeli tempe berbungkus daun pisang. Selain itu, membawa tas belanja dan wadah sendiri juga efektif mengurangi sampah kemasan plastik.

Dengan melakukan kombinasi strategi di atas selama simulasi 7–14 hari, warga Camar Pinguin sudah berhasil mengurangi produksi sampah rumah tangga 56%–95% per harinya. Sudah lebih dari setahun inisiatif ini terus mereka jalankan sehingga menjadi gaya hidup sehari-hari. Jika mereka bisa, Anda pasti juga bisa! Rumah tanpa sampah? Bisa! •

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.