Rumah Tropis Unfinished

Pohon, air, udara, dan cahaya matahari. Tanah liat, batu, kayu, dan semen. Semua potensi alam tropis dimanfaatkan dengan optimal di hunian ini.

IDEA - - Konten - TEKS FRANSISCA WUNGU PRASASTI FOTO ADELINE KRISANTI, RICHARD SALAMPESSY PROPERTI IFIN & LIKA, CIRENDEU, CIPUTAT, TANGERANG ARSITEK MUCHRIFIN

PENGALAMAN MENARIK akan dirasakan tamu yang masuk ke dalam hunian ini. Dari halaman depan yang sejajar dengan jalan, kita akan dibawa ke samping menaiki tangga beton, menuju dek kayu. Di atas dek ini, kita dapat menyentuh dedaunan di pohon yang biasanya hanya dapat dipandang dari bawah. Asri sekali!

Sebuah pintu yang kemudian dilewati menandakan bahwa kita “resmi” memasuki rumah. Namun, di balik pintu ini bukan ruang tertutup yang ditemui, melainkan ruang yang menyuguhkan pemandangan luas ke area kolam renang. Bagaikan berada di sebuah resor tropis yang jauh dari keramaian kota!

Sejauh mata memandang dari area terbuka di tengah lahan ini, nyaris seluruh bagian rumah tampak. Muchrifin, yang akrab disapa Ifin, pemilik sekaligus

perancang hunian ini, memang menerapkan konsep terbuka pada rumahnya. Entah dengan meniadakan sebagian dinding, membuat pembatas berlubang, atau membuat jendela kaca lebar, semua bertujuan agar rumah mendapat cahaya dan udara maksimal. “View alami yang bagus jangan dikorbankan,” ujar Ifin yang menempati rumah bersama Lika, sang istri, dan kedua buah hati mereka, Dafinka dan Muanka.

Melalui desain bangunannya, tampak sekali bahwa si arsitek ingin menggali potensi iklim tropis. Selain mempertahankan banyak pepohonan asli di lahan, seluruh atapnya berbentuk pelana dengan kemiringan curam hingga 45 derajat. Dengan kemiringan ini, demi keamanan dan kekuatan, genting tanah liat yang digunakan sebagai penutupnya disekrup. Konsekuensi atap yang curam adalah langit-langit yang tinggi, yang menguntungkan penghawaan dalam ruang.

Melengkapi kaidah tropis, ditambahkan pula teritisan lebar di bawah atapnya. Sebagai seorang arsitek dan juga kontraktor, Ifin gemar bereksperimen pada material. Aluminium composite

panel dipasangnya di bawah susunan genting, melebar hingga membentuk teritisan tambahan pada atap. Dengan bentuk seperti ini, serta penggunaan material yang kokoh dan tahan cuaca, kala hujan, tidak lagi ditemui masalah.

Di rumah ini, eksplorasi material tidak berhenti di situ. Konsep material

unfinished diterapkan. Dengan konsep ini, Ifin ingin memperlihatkan material secara jujur, tidak ditutupi pelapis. Seluruh dinding rumah, dari luar sampai ke dalam, berupa semen ekspos. Lantai dipilih dari marmer yang merupakan material alam. Pada dek, digunakan kayu bengkirai yang tahan cuaca.

Sebagai lubang udara, roster dan bilah kayu dimanfaatkan. Tentunya tanpa pelapis apa pun. Agar material ini tidak tampil biasa, susunannya dibuat acak secara artistik. “Di sini, saya ingin menunjukkan bahwa material yang biasa bisa tampil menarik,” kata Ifin.

Kenyamanan tinggal di rumah ini juga didukung zonasi yang dipikirkan saksama. Rumah seolah dibagi 2, dengan area kolam renang sebagai pemisahnya. Bagian depan untuk fungsi publik, yaitu ruang kerja dan ruang tamu. Ruang tamu, yang terletak di lantai 2, dibuat terbuka sehingga dapat digunakan sebagai tempat pertemuan, diskusi, atau sekadar nongkrong santai. Sementara, fungsi semi-publik ada di bagian belakang, berupa dapur, area makan, dan area duduk yang berada dalam satu ruang besar di lantai 1, yang langsung memiliki akses ke kolam renang dan taman belakang.

Dari muka rumah, sudah terasa konsep tropis unfinished yang digunakan. Dinding semen dan genting tanah liat tak diberi lapisan finishing. Dinding-dinding berlubang, baik dari susunan roster atau bilah kayu bengkirai, membuat udara lancar mengalir.

Dek kayu sebagai jalur masuk “resmi” ke rumah, setelah sebelumnya melalui tangga beton. Pepohonan asli yang ada di lahan tetap dipertahankan untuk mendapat keteduhan dan kesegaran. “Kalau bisa, apa yang sudah ada di lahan jangan dibuang,” ujar Ifin. Level dek di lantai 2, membuat kita sejajar dengan daun-daun di pohon. Saat pohon rambutan berbuah, buahnya dapat dipetik dari dek ini.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.