Merayakan Proses Desain

Kesadaran akan betapa berharganya sumber daya alam yang saat ini ada, melahirkan bentuk desain baru yang membumi.

IDEA - - Konten - TEKS FRANSISCA WUNGU PRASASTI FOTO ADELINE KRISANTI PROPERTI IFIN & LIKA, CIRENDEU, CIPUTAT, TANGERANG ARSITEK MUCHRIFIN

KEMAJUAN TEKNOLOGI yang melaju sangat pesat membawa dampak banyak sekali pada kehidupan manusia, termasuk dalam mengubah pola pikir manusia tentang desain bangunan. Menariknya, teknologi tinggi tidak selalu menciptakan tren desain bangunan ke arah gaya futuristik yang dahulu banyak diprediksi.

Untuk desain bangunan rumah tinggal, justru muncul kecenderungan yang berkebalikan dari apa yang identik dengan anggapan tentang kecanggihan teknologi. Beberapa tahun belakangan, semakin banyak desain hunian yang kembali mengapresiasi alam dan tradisi. Semakin sering kita menemui bangunan yang justru membuka diri kepada lingkungan sekitarnya, dengan memanfaatkan potensi alam berupa matahari, udara, serta vegetasi. Semakin banyak pula terlihat penggunaan material alam seperti kayu, rotan, batu, dan tanah liat pada bangunan maupun sebagai pengisi rumah.

Di tahun ini, yang banyak ditemukan bahkan bukan sekadar materialnya yang alami, tetapi tampilannya pun apa adanya. Finishing yang alami dengan memperlihatkan material aslinya saat ini lebih disukai. Bahkan, tak jarang yang menggunakan material tanpa finishing sama sekali.

Keuntungan Alam Tropis

Di Indonesia khususnya, desain yang menggunakan kaidah bangunan tropis tidak akan lekang di makan zaman. Karena mustahil mengingkari iklim yang erat kaitannya dengan kenyamanan bertinggal dalam bangunan.

Arsitek Cosmas Gozali bahkan meyakini bahwa desain tropis akan terus bertahan, antara lain karena alam menyediakan energi yang dapat dimanfaatkan untuk penghematan. Bangunan dibuat terbuka, demi memasukkan cahaya matahari yang berlimpah dan memungkinkan adanya pertukaran udara alami, tanpa bantuan perangkat yang membutuhkan konsumsi energi.

Penghematan energi menjadi isu yang semakin santer seiring dengan meluasnya kesadaran akan krisis energi global. Konsumsi energi yang berbanding lurus dengan biaya akan menjadi perhatian utama, terutama di tengah krisis ekonomi. Segala upaya penghematan akan dilakukan, termasuk yang terkait dengan penggunaan energi pada bangunan, berupa penerangan dan pengudaraan.

Pendekatan serupa dilakukan oleh arsitek Deddy Wahjudi, saat merancang huniannya yang justru merangkul alam, yang memungkinkan penghuni berinteraksi bebas dengan alam sekitarnya. Kala matahari bersinar atau pun turun hujan, sensasinya dapat terasa dari dalam rumah. Vegetasi asli pada lahan dibiarkan tak tersentuh demi mendapatkan view dan menjadi penyejuk alami.

Bentuk-bentuk khas bangunan tropis seperti atap pelana kembali naik daun. Seperti ditemukan pada rumah arsitek Muchrifin. Masalah akibat hujan dan panas yang terkait atap dapat diminimalkan tanpa mengorbankan estetika. Teritisan lebar tanpa talang

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.