ICAD 2016 REFLEKSI TUJUH SENIMAN AKAN PERUBAHAN KOTA

IDEA - - Jendela - TEKS FRANSISCA WUNGU PRASASTI FOTO ADELINE KRISANTI

Melalui karya seni kontemporer, tujuh seniman ternama berkolaborasi dengan seniman muda menginterpretasikan perubahan kota, khususnya area Kemang.

Festival seni dan desain Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD), kembali hadir tahun ini. Di tahun ketujuhnya ini, ICAD menampilkan serba tujuh, mulai dari tema, jumlah seniman penggerak, hingga tanggal penyelenggaraannya. “Seven Scenes” diusung sebagai tema ICAD kali ini, yang diselenggarakan dari 7 Oktober hingga 7 Desember 2016 di grandkemang hotel.

Kali ini, tujuh seniman dari berbagai bidang menjadi penggerak proyek seni yang berkolaborasi dengan banyak seniman dan desainer muda lainnya. Mereka adalah Agung Kurniawan (seni rupa), Budi Pradono (arsitektur), Eko Nugroho (seni rupa), Hermawan Tanzil (desain grafis), Oscar Lawalata (desain tekstil), Tita Salina (urban play), serta Tomarama (videografi). Ketujuh “pendekar” tersebut—seperti diistilahkan Hafiz Rancajale, kurator ICAD 2016—dianggap mewakili perkembangan ICAD selama ini.

Puluhan karya tersebut dapat dinikmati di seluruh bagian grandkemang hotel, mulai dari fasad, lobi, hingga selasar. “Tantangannya adalah mendisplai karya seni di area hotel yang tidak homogen, sementara operasional hotel tetap berjalan,” ujar Diana Nazir, direktur festival ICAD 2016. Namun hotel sebagai tempat pameran membuat karya seni dapat dinikmati, lebih dekat, dan relevan bagi masyarakat.

Melalui “Seven Scenes” para seniman merefleksikan perubahan yang terjadi pada kota, khususnya kawasan Kemang, di mana ICAD rutin di gelar. Ketujuh seniman memotret Kemang dalam berbagai sudut pandang khasnya.

Tita Salina, misalnya, mengangkat isu soal garis horizon yang tidak lagi dapat dinikmati warga kota karena kota dikelilingi bangunan tinggi. Karya “The Missing Horizon” yang berupa instalasi video mengajak pengunjung secara interaktif melihat di mana garis cakrawala sebenarnya berada.

Sementara, Budi Pradono menampilkan instalasi kayu “Kampung Vertikal”. Arsitek ini mengkritisi fenomena ekspansi urban yang sangat pesat, yang hanya menyisakan ruang vertikal. Melalui instalasi berbentuk piramida terbalik, ia menawarkan konsep ruang vertikal terbuka yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan mendorong interaksi horizontal antarpenghuni.

Pada 7 November sampai 7 Desember 2016, dihadirkan pula instalasi fashion kontemporer bertema “What U See Is Not What U Get” yang melibatkan Anton Ismael (fotografi), Felicia Budi (fashion), Marishka Soekarno (seni rupa), Tommy Ambiyo (fashion), dengan kurator Ika Vantiani. Selain pameran, ICAD mengadakan rangkaian kegiatan seperti 5 konvensi desain, seni, kriya, dan film, pemutaran dan diskusi film di Kinosaurus Jakarta, serta bedah buku di CofeeWar, Kemang Timur. •

Instalasi kayu karya Budi Pradono di selasar grandkemang hotel. “Kimchil Series” karya Agung Kurniawan yang memotret fenomena cabe-cabean di kota-kota besar. Diana Nazir ( Direktur Festival ICAD 2016), Tita Salina (seniman), Richard Daguise (CEO dan GM grandkemang hotel), Ricky J. Pesik ( Kepala Deputi Bekraf), Harry Purwanto ( Direktur Artistik ICAD 2016), dan Hafiz Rancajale ( Kurator ICAD 2016) Karya Oscar Lawalata di lobi hotel, yang mengkritik komodifikasi simbol religi dalam dunia fashion.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.