Industri Farmasi Hadapi Tantangan Produktivitas dan Efisiensi

Info Komputer - - Cover Story -

Memasuki tahun 2017, Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.) melihat pengelolaan biaya atau cost masih menjadi tantangan besar bagi industri farmasi di Indonesia. Pasalnya, meskipun industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan tahun lalu menduduki peringkat 23 besar di tingkat dunia, presentase impor bahan baku obatnya masih cukup tinggi.

Untuk mengimbanginya, perusahaan farmasi, termasuk Kalbe Farma tentu harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di segala lini. Menurut Dino Bramanto, di sinilah teknologi informasi (TI) berperan.

“Kalbe terus melakukan upaya-upaya tersebut dengan secara berkelanjutan melakukan pembenahan dan implementasi dan

roll out ERP ( enterprise resource planning) dan aplikasi-aplikasi pendukung dalam business process yang ada di seluruh grup perusahaan. Ini adalah bagian dari IT Blue Print Group Kalbe,” papar pria yang telah menghabiskan lebih dari dua puluh tahun kariernya di bidang teknologi itu.

Dino dan timnya juga berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas dengan mendukung mobilitas karyawan. Pertumbuhan perusahaan dan jumlah karyawan pada umumnya mengharuskan perusahaan menambah atau memperluas area kerja. “Guna mengurangi pertambahan space kantor, di tahun 2017 ini kami mencoba menerapkan konsep mobility untuk beberapa divisi sebagai uji coba,” ujar Dino menjawab tantangan tersebut.

Selain itu, teknologi juga diharapkan dapat membantu bisnis memperoleh informasi yang akurat dalam rangka pengambilan keputusan strategis maupun untuk menunjang aktivitas operasional perusahaan. Untuk itu, pengembangan analytics dan

business intelligence masih akan tercantum di agenda TI PT Kalbe Farma Tbk.

Tantangan lain yang tak kalah pentingnya bagi Dino Bramanto adalah memanfaatkan peluang dan momentum dari e-commerce. “Tahun lalu, Kalbe Group mulai secara khusus memisahkan bisnis konvensional dan bisnis berbasis digital. Kami melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang kami anggap dapat memberikan nilai tambah dan sinergi dalam hal ini,” jelas Dino.

Pada tahun ini, Kalbe Group akan melakukan relaunching bisnis berbasis digital dengan harapan bisnis digital dapat memberikan kontribusi positif dan meningkatkan bisnis perusahaan. Untuk itu, dari sisi TI, Kalbe juga memisahkan antara tim TI digital dan nondigital (konvensional).

“Agar kami bisa lebih gesit dan responsif. Istilahnya, kita bergerak dengan cara ‘ bimodal’. Kalbe juga memanfaatkan teknologi cloud dalam mendukung inisiatif ini sehingga kecepatan dan fleksibilitas juga bisa didapat,” tandas pria penyuka fotografi ini.

Tantangan yang lebih umum, menurut Dino, adalah kejahatan maya atau cybercrime. Ia memastikan Kalbe Group akan terus mengembangkan kemampuan untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan yang datang dari dunia maya, terutama karena berbagai gangguan itu yang makin hari makin bervariasi wujudnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.