Cara Wujudkan Kota Pintar, Aman, dan Berkelanjutan

Dengan separuh penduduk dunia berdiam di kawasan perkotaan, bahkan jumlah tersebut diramalkan akan melonjak ke angka tujuh puluh persen pada tahun 2050, sebagian besar kota di dunia akan menghadapi tekanan dari berbagai arah, terutama tekanan demografis,

Info Komputer - - Smart City -

Mengapa harus smart, safe, dan sustainable? Kota yang cerdas, melalui teknologi, akan memampukan aparatnya meningkatkan kualitas hidup warga, menyokong inovasi dan pembangunan sosial ekonomi, menciptakan kota yang lebih menarik untuk dihuni, dikunjungi, maupun dijadikan tempat untuk berbisnis.

Kota juga dituntut mampu mencegah, atau paling tidak, meminimalkan risiko dan dampak dari kejadian-kejadian yang tak diharapkan, seperti kriminalitas, kecelakaan, polusi, dan bencana alam. Di sisi lain, karakter kota yang sustainable akan membantu mengurangi dampak kegiatan kota, aktivitas bisnis maupun kehidupan warga kota terhadap lingkungan di kota tersebut.

Nah, bagaimana cara sebuah kota menjadi lebih cerdas, aman, dan berkelanjutan? Mari kita belajar dari kota-kota di berbagai belahan dunia yang sudah bertransformasi maupun yang baru memulai perjalanan mereka untuk menjadi smart city.

Menggandeng Machina Research, Nokia melakukan survei terhadap 22 kota di seluruh dunia untuk mengidentifikasi best

practices dalam transformasi kota cerdas. Dikenal sebagai spesialis di bidang Internet of Things (IoT)

analyst, Machina Research pun memfokuskan riset ini kepada aspek-aspek smart city yang erat kaitannya dengan IoT.

Sebanyak 22 kota di lima benua yang menjadi bahan penelitian Nokia dan Machina Research itu adalah Auckland, Bangkok, Barcelona, Berlin, Bogota, Bristol, Cape Town, Cleveland, Delhi, Dubai, Jeddah, Mexico City, New York City, Paris, Pune, San Francisco, Sao Paulo, Shanghai, Singapura, Tokyo, Vienna, dan Wuxi. Tiga Jalan Menuju “Roma” Hasil survei tersebut dirangkum dalam sebuah laporan berjudul “The Smart City Playbook: smart,

safe, sustainable” . Laporan yang dirilis pada bulan November 2016 itu memaparkan beberapa

insight penting dan unik mengenai cara-cara kota bertransformasi menjadi lebih cerdas, aman, dan berkelanjutan.

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara mewujudkan kota pintar. Sampai saat ini tidak ada satu set proses tunggal untuk menciptakan smart city. Namun menurut Machina Research, setidaknya ada tiga macam “rute” yang umumnya dilewati kota untuk bertransformasi, yakni Anchor Route, Platform Route, dan Beta City Route. Dengan memahami ketiganya, pemerintah kota dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang opsi-opsi yang ada serta mempelajari kelebihan dan kekurangan dari pilihan yang mereka ambil.

Pada rute Anchor, kota mengimplementasikan satu aplikasi yang sangat dibutuhkan warga, kemudian menambahkan aplikasi lain saat diperlukan. Kelebihan dari rute ini adalah deployment yang lebih singkat, didorong kebutuhan warga, pencapaian yang konkret dan Return On Investment (ROI)

yang jelas. Namun kekurangannya adalah sulit mengintegrasikan dan mensinergikan aplikasi-aplikasi nantinya.

Rute Platform mengharuskan kota berfokus kepada pengembangan infrastruktur teknologi yang nantinya akan menjadi tataran (platform) bagi aplikasi dan layanan cerdas yang potensial untuk dikembangkan. Sisi positif Platform Route adalah kemampuan dan kinerja infrastruktur teknologi yang sudah terdesain dengan baik. Sinergi aplikasi dan kemudahan integrasi juga melekat pada rute ini. Interaksi dengan pihak ketiga dimudahkan melalui API dan open data. Namun dalam penerapan rute Platform, pemerintah kota harus mewaspadai risiko terkunci oleh vendor ( lock-in) dan investasi di depan tanpa ROI awal.

Pada rute beta, kota memprioritaskan pengalaman langsung ( hands-on) dan peluncuran beberapa program percontohan sekaligus, untuk melihat bagaimana programprogram itu berfungsi tanpa harus mempertimbangkan long

term deployment. Model rute ini melibatkan warga, memungkinkan akses pendanaan untuk percobaan dan riset, dan membuka peluang untuk memanfaatkan banyak

tool, termasuk memanfaatkan aplikasi internet consumer

grade. Perusahaan startup atau perusahaan berskala kecil dapat terlibat dengan mudah. Adapun kekurangannya adalah sulit melangkah lebih jauh dari proyek percobaan dan sulit diterapkan untuk operasional. Fokusnya juga melebar.

Memilih salah satu rute tersebut belum tentu mengantarkan Anda ke jalan yang benar. Setiap rute memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga harus disesuaikan dengan sumber daya, masalah, dan prioritas setiap kota.

Menurut hasil survei Machina Research, beberapa kota memang ada yang mengadopsi satu jenis rute, tetapi kebanyakan mengaplikasikan lebih dari satu. Bahkan beberapa kota masih berada di tahap yang sangat dini sehingga mereka belum bisa menentukan rute pilihannya.

Best Practice, Teknologi, dan Model Bisnis untuk Wujudkan Kota Pintar

Survei yang dilakukan Nokia dan Machina Research juga berhasil mengidentifikasi beberapa praktik terbaik ( best practice) dari proyek implementasi smart city di 22 kota pintar dan dapat diadopsi oleh kota-kota lainnya. 1 . Menetapkan aturan, kebijakan, dan struktur governance yang jelas terkait bagaimana data akan dimanfaatkan.

Pemerintah kota harus bersikap transparan dalam proses mengumpulkan dan menggunakan data warga. Kedua proses itu harus diatur dalam bingkai aturan dan model bisnis yang dapat melindungi privasi warga dengan tetap mendorong pemanfaatan data bersama serta kontribusi pihak ketiga, dan dapat mendukung monetizing data. 2 . Koordinasikan inisiatif smart city dengan pemikiran masa depan dan kepemimpinan

Inisiatif smart city harus dijalankan oleh tim lintas bagian pemerintah kota (atau untuk Indonesia disebut Satuan Kerja Perangkat Daerah/SKPD) atau dikoordinasikan oleh satu badan khusus yang tersentralisasi. Hal ini dilakukan untuk memecah kebekuan antar-SKPD dan memanfaatkan sinergi dan integrasi antara aplikasi dan dataset. 3 . Wujudkan manfaat nyata inisiatif smart city bagi warga

Warga kota cenderung mendukung inisiatif yang relevan dengan kehidupan mereka. Tak sedikit kota membangun platform yang tidak hanya menampilkan data tetapi juga dapat dimanfaatkan warga untuk memberi masukan dan ide, atau malah menciptakan aplikasi kota pintar. 4 . Membangun kemampuan procurement solusi teknologi pintar

Solusi smart city pada umumnya bersifat kompleks dan tidak dapat diakomodasi oleh model-model pembelian ( purchasing) tradisional. Tim

procurement di jajaran pemerintah kota sebaiknya mempelajari bagaimana proses pembelian solusi teknologi yang kompleks dan saling terkait ( interconnected). 5 . Memanfaatkan teknologi pintar untuk revitalisasi ekonomi lokal

Selain dapat mendukung proses regenerasi kota berbasis teknologi, solusi smart city juga berpotensi membuka akses yang lebih luas untuk pendanaan inisiatif pembangunan kota. 6 . Membangun hubungan baik dengan vendor teknologi informasi dan komunikasi

Vendor teknologi adalah mitra— dan penyandang dana—yang penting dalam penyelenggaraan proyek kota pintar. Pemerintah kota harus mampu membina hubungan baik dengan vendorvendor tersebut tanpa menjadi tergantung kepada mereka maupun teknologinya.

Bagian lain dari laporan The Smart City Playbook mengungkapkan aspek teknologi dan model bisnis yang telah diterapkan oleh pemerintah kota di 22 kota tadi agar kotanya menjadi lebih cerdas. 1. Opsi konektivitas yang lebih banyak dan lebih baik, serta peran sektor publik dalam mendorong, mendukung, dan membiayai infrastruktur komunikasi.

2. Tool dan paradigma baru dalam mengelola, menyimpan, dan menganalisis data, di antaranya adalah arsitektur cloud dan machine learning. 3. Model open data di sektor

publik. 4. Paradigma Living Labs untuk kebutuhan riset dan pengembangan. 5. Kehadiran smartphone sebagai sensor yang bisa hadir di mana-mana dan perangkat user interface. 6. Model bisnis Platform-as-aService (PaaS) dan Software-asa-service (SaaS). 7. Kebangkitan software open source dan popularitas open API untuk mengantisipasi vendor proprietary lock-in. 8. Kemunculan paradigma baru dalam hal pendanaan dan pembiayaan, khususnya PublicPrivate Partnerships (PPP) dan vendor financing. IK

 lulcent.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.