Menciptakan Ekosistem

Aplikasi perpesanan telah dan terus menjadi bagian penting dari pengalaman digital pengguna. Fakta inilah yang membuat Matthew yakin, BBM bisa menjadi ekosistem mumpuni di ranah digital Indonesia.

Info Komputer - - Executive View -

Reputasi BlackBerry memang tidak sesemerbak dulu lagi. Kegagalan bersaing di pasar

smartphone membuat BlackBerry kini hanya berkutat di sisi software dan enterprise. Namun ada satu “warisan” yang masih tersisa dari BlackBerry di Indonesia, yaitu BlackBerry Messenger (BBM). Jika mengacu data Similar Web, BBM masih menjadi aplikasi perpesanan

(messaging app) paling populer di Indonesia.

Hal ini pun dibenarkan Matthew Talbot (CEO BlackBerry Messenger).

“BBM is pretty much alive!” ungkap pria asal Australia ini dengan semangat. “Saat ini, BBM memiliki 64 juta MAU ( Monthly Active

User. Red),“ungkap Matthew. Dari jumlah itu, sebanyak 75 persen di antaranya adalah pengguna harian yang aktif. Data lain menunjukkan, pengguna BBM rata-rata menghabiskan waktu sebanyak 73 menit di BBM. Jika mengacu pada data Google yang menunjukkan pengguna rata-rata menghabiskan 140 menit per harinya untuk chat, berarti separuh waktu mereka dihabiskan di BBM.

Membentuk Ekosistem

Dengan basis pengguna yang besar tersebut, BBM kini memiliki mimpi besar: membentuk ekosistem. “Kami akan bertransformasi dari aplikasi

chat menjadi ekosistem yang menyatukan social, commerce, dan

chat,” tambah Matthew. Konsep ini mirip seperti WeChat di Tiongkok serta Line di Jepang, yang berhasil menjadikan aplikasi perpesanannya menjadi pusat berbagai aktivitas digital. “Kami akan membuat BBM seperti itu di Indonesia,” tambah Matthew.

Ada alasan tersendiri mengapa aplikasi perpesanan kini menjadi primadona. Riset yang dilakukan ComScore menunjukkan bahwa sebanyak lebih dari lima puluh persen pengguna smartphone tidak mengunduh aplikasi sama sekali dalam satu bulan terakhir. Sebanyak seperempat dari jumlah aplikasi yang diunduh pun hanya sekali digunakan untuk kemudian dihapus atau tidak digunakan lagi. Fenomena ini mengindikasikan, antusiasme pengguna untuk memasang aplikasi di smartphone

nya sudah jauh menurun.

Kami akan menggabungkan video, berita, shopping, travel, kupon, sampai payment ke dalam ekosistem BBM

Fenomena berbeda justru terjadi di aplikasi perpesanan. Lembaga riset Acurate memperkirakan, ada sebanyak 2,5 miliar pengguna smartphone yang memiliki lebih dari satu aplikasi perpesanan di smartphone- nya. Dalam beberapa tahun mendatang, jumlah itu akan mencapai 3,6 miliar atau separuh dari jumlah penduduk dunia.

Fakta itulah yang membuat Matthew sangat yakin akan masa depan produknya. “The killer

app is messaging apps,” ungkap Matthew bergaya filosofis. “Kami akan menggabungkan video, berita, shopping, travel, kupon, sampai payment ke dalam BBM,” tambah Matthew. Semua itu secara mudah akan bisa diakses pengguna BBM melalui menu Discover yang ada di sisi kanan atas BBM.

Rencana tersebut kian menemukan jalannya setelah BBM kini resmi menjadi milik Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Sebagai grup media yang sangat serius di dunia digital, Emtek dapat menyuplai konten dan layanan yang dibutuhkan BBM. “Contohnya vidio.com, Bukalapak, Reservasi, atau Lakupon,” tambah Matthew menyebut beberapa layanan milik Emtek yang telah diintegrasikan ke dalam BBM.

Meskipun begitu, Matthew menegaskan kalau BBM bukan cuma untuk produk Emtek. “Kami membuka kerja sama dengan seluruh penyedia konten dan layanan untuk masuk ke platform BBM,” tegas Matthew. Hal ini ditunjukkan dengan dibukanya akses API ( application program

interface) kepada partner yang ingin mengintegrasikan produk dan layanannya ke BBM.

Sebagai negara dengan jumlah pengguna BBM terbesar di dunia, Indonesia akan menjadi yang pertama merasakan seluruh inovasi tersebut. Namun Matthew meyakini, model yang sama juga bisa dikembangkan di berbagai negara lain. “Kami akan menyempurnakan model ini di Indonesia, untuk kemudian mengembangkannya ke negara lain,” tambah Matthew.

Terus Tumbuh

Sebagai aplikasi perpesanan, Matthew menganggap kunci pertumbuhan BBM adalah peningkatan jumlah maupun interaksi pengguna. “Kami ingin lebih banyak pengguna yang menghabiskan lebih banyak waktunya di BBM,” ungkap pria yang pernah bergabung dengan SAP ini. Matthew mengakui, saat ini masih banyak yang mengasosiasikan BBM sebagai turunan dari BlackBerry. Padahal, sebanyak sembilan puluh persen pengguna BBM sekarang menggunakan Android. “Hal inilah yang harus kami terus edukasi,” tambah Matthew.

Sementara soal kemunculan aplikasi perpesanan lain, Matthew tidak terlalu khawatir. “Di semua industri, akan selalu ada kompetisi,” ungkap Matthew. Apalagi data menunjukkan pengguna memiliki lebih dari satu aplikasi perpesanan, yang mengindikasikan konsumen membutuhkan lebih dari satu cara untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. “Dan karena menawarkan ekosistem, BBM praktis berbeda dengan WhatsApp atau Facebook Messenger,” tambah Matthew.

Matthew justru melihat tantangan BBM lebih ke sisi internal, seperti menjaga momentum untuk mengembangkan platform ini. “Saat ini kami sedang menyusun tim yang bisa mendorong transformasi ini, dan menemukan orang yang tepat adalah sebuah tantangan tersendiri,” ungkap Matthew.

Tim BBM sendiri saat ini sedang mempersiapkan beberapa terobosan. Yang pertama adalah mengintegrasikan game ke dalam BBM mengingat game menjadi salah satu kegiatan utama pengguna smartphone. “Kami juga sedang merancang sistem finansial di dalam BBM,” tambah Matthew. Saat ini sudah ada BBM Checkout yang digunakan untuk membayar transaksi di dalam lingkungan BBM. Dalam waktu dekat, mereka juga akan merilis BBM Wallet yang digunakan untuk melakukan pembayaran online maupun offline. Matthew juga menunjuk

chatbots akan menjadi bagian penting dari platform BBM. Melalui chatbots, pengguna bisa memesan sebuah layanan langsung dari jendela percakapan tanpa harus membuka aplikasi lain. Contohnya yang dilakukan Uber. Ketika pengguna mengetikkan alamat, bots Uber tersebut secara otomatis memunculkan menu untuk memesan armada Uber ke alamat tersebut. Bots ini pun bisa diimplementasikan di berbagai hal, mulai dari pembelian barang, pemesanan hotel, sampai pemesanan jasa.

Ketika integrase chatbots bisa dilakukan, Matthew yakin efektivitas aplikasi perpesanan sebagai media pemasaran akan makin meningkat. “Reputasi brand meningkat sepuluh kali lipat ketika ada interaksi 1-on- 1,” ungkap Matthew mengungkapkan hasil sebuah riset. Ketika interaksi 1-on- 1 tersebut bisa tercipta melalui

chatbots, aplikasi perpesanan akan menjadi ekosistem yang sangat potensial untuk dimanfaatkan.

Dan Matthew yakin, BBM akan menjadi bagian penting dari evolusi aplikasi perpesanan tersebut. “Impian saya adalah membuat pengguna memandang BBM sebagai aplikasi perpesanan nomor satu lagi,” tambah Matthew.

MATTHEW TALBOT (CEO BLACKBERRY MESSENGER)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.