Ketika Raksasa Retail Jadi Perusahaan Teknologi

SVP & CTO @Walmart Labs, Walmart Global eCommerce, Wal-Mart Stores, Inc.

Info Komputer - - Executive View -

Cerita transformasi digital Walmart mungkin akan berbeda jika Jeremy King bersikeras mengabaikan tawaran Walmart. Pada awalnya, King memang tak ingin mengindahkan panggilan telpon dari recruiter Walmart pada suatu hari di tahun 2011. Pasalnya, engineer yang kondang di Silicon Valley karena prestasinya membangun infrastruktur eBay ini sudah kerap “dirayu” perusahaan pencari tenaga kerja.

Melihat kegigihan recruiter itu yang terus menerus menghubunginya, Jeremy King pun luluh hatinya dan menjawab tawaran sang recruiter. “Saya bilang begini, ‘kenapa bukan CEO-nya saja yang telepon—biarkan ia bicara dengan saya, mungkin saya akan tertarik’,” cerita Chief Technology Officer (CTO) & Senior Vice President @WalmartLabs itu seperti dikutip dari situs fastcompany.com. King mengaku saat itu dirinya cuma pura-pura sedikit pongah. Lagipula mana mungkin pemimpin tertinggi dari retailer terbesar di Amerika sudi menelepon seorang engineer seperti dirinya?

Tak disangka, Walmart kemudian malah mengatur sebuah videoconference agar CEO Walmart saat itu, Mike Duke, bisa mewawancarai langsung Jeremy King yang saat itu masih menjadi CTO LiveOps, pengembang software call center berbasis cloud. Berbicara selama 45 menit dengan Mike Duke, pemegang gelar bachelor of science dalam bidang information systems dari San Jose State University itu menyebut tawaran Walmart sangat menarik.

Bawa Silicon Valley ke Walmart

Proses rekrutmen itu terbilang tak biasa. Tugas dan harapan yang diletakkan Walmart di pundak Jeremy King juga ternyata luar biasa.

Walmart boleh mengklaim dirinya sebagai rajanya retail di dunia nyata. Namun di dunia maya, pada lima tahun yang lalu, Walmart sekadar penantang saja. Bisnis digitalnya masih jauh ketinggalan dari dua rival terdekatnya saat itu, yakni Amazon dan Staples. Situs e-commerce Walmart tampil biasa-biasa saja, mesin pencarinya tidak intuitif. Walhasil bisnis digital itu seperti berjalan di tempat, bahkan cenderung tertinggal dari para pesaingnya.

Tak puas dengan kondisi tersebut, CEO Mike Duke mengambil langkah berani, yakni melakukan transformasi digital. Sejak lama, Walmart dikenal memiliki proses bisnis yang kaku tapi efektif. Dengan transformasi digital, toko retail yang dibangun oleh Sam Walton ini akan diarahkan menjadi sebuah perusahaan yang berkarakter seperti wirausaha, penuh dengan eksperiman, dan fleksibel. Atmosfer bisnis ala Silicon Valley ingin diciptakan Mike Duke di Bentonville, Arkansas.

Walmart menganggap Jeremy King orang yang tepat untuk mengorkestrasi inisiatif perubahan besar-besaran yang mengombinasikan kekuatan baru e-commerce, customer experience yang berbeda, dan kekuatan supply chain, satu keunggulan yang dimiliki Walmart sejak dahulu.

Terapkan In-House Innovation

Mengepalai @WalmartLabs, Jeremy King menerapkan prinsip bahwa setiap perusahaan adalah perusahaan teknologi ( every company

is a tech company). Menurutnya, perusahaan dari berbagai sektor industri mulai berbondongbondong beralih ke model “build” atau pendekatan in-house innovation. Perusahaan menciptakan dan mengembangkan sendiri

teknologi yang mereka gunakan. Dikotomi masa lalu antara perusahaan pengembang teknologi dan perusahaan pengguna teknologi pun pada akhirnya akan makin tergerus.

Peran inilah yang dimainkan @ WalmartLabs untuk mendukung kesuksesan bisnis Walmart. “Tentu saja, Walmart tidak sendirian menerapkan pendekatan in-house

innovation ini. Perusahaan seperti Procter & Gamble dan Starbucks juga telah menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini untuk menjadi organisasi yang

technology-driven,” tulis Jeremy King dalam blog @WalmartLabs.

Menurut King, perusahaan tidak dapat mempertaruhkan pertumbuhan bisnis dengan bergantung pada vendor. “Anda tidak bisa meng- outsource inovasi. Inovasi adalah sesuatu yang seharusnya Anda miliki,” tandas King. Di sisi lain, perubahan besar ini juga akan mencetuskan karakter kewirausahaan ( enterpreneurship) dalam perusahaan dan mendorong pengembangan teknologi yang sesuai tujuan perusahaan.

Berbekal prinsip tersebut, pria yang juga menjabat CTO Walmart Store Inc. ini memulai proses transformasi dengan membangun ulang ( rebuilding) teknologi untuk meraih kecepatan dan skalabilitas dengan platform open source.

“Kami menggunakan teknologi untuk melayani pelanggan dengan cara-cara baru—mulai dari membangun platform teknologi yang kuat sampai dengan mempertemukan online experience dengan toko-toko fisik yang kami miliki,” ujar Jeremy King, seperti dikutip dari prweb. com

Andalkan Open Source

Melalui proyek bernama Pangaea yang dimulai pada tahun 2012, Jeremy King dan timnya melakukan perombakan besar-besaran terhadap berbagai hal, mulai dari cara kerja dan tampilan situs web Walmart hingga software transaksi, database, server, dan tool untuk mengelola semua itu di data center. Walmart juga membangun infrastruktur cloud dan data center baru, bahkan membuat search engine sendiri. Jeremy King menginginkan mesin pencari yang kemampuannya lebih dari sekadar menampilkan item yang dicari pelanggan. Ia menginginkan search engine yang dapat memberikan rekomendasi terpersonalisasi ( personalized

recommendation) agar pelanggan tertarik membeli lebih banyak barang. Untuk itu, mesin pencari tersebut harus memunyai kemampuan mengaitkan hasil pencarian dengan pelanggan berdasarkan interaksi sebelumnya. Dan mesin pencari bernama Polaris berhasil dirampungkan tim @ WalmartLabs dalam waktu sembilan bulan.

Walmart juga mengembangkan sendiri tool pengeloaan hybrid

cloud. Dengan cloud controller bernama OneOps ini, para engineer dapat dengan mudah memindahkan aplikasi dari cloud internal ke eksternal, atau sebaliknya. “Seiring pertumbuhan bisnis, kami membutuhkan teknologi ini untuk berinovasi dan melakukan scale

up,” cetus King seperti dikutip dari ETCIO.com. OneOps juga dirilis ke komunitas open source sehingga perusahaan lain dapat memanfaatkannya agar terhindar dari vendor lock-in.

Kuncinya pada Integrasi

Ada sebuah pelajaran menarik yang didapat Jeremy King. Berpengalaman selama tujuh tahun di eBay, ia mengaku awalnya menyepelekan kompleksitas

supply chain Walmart. “Saya sangat akrab dengan sisi digital retail, tetapi ternyata Walmart lebih dari sekadar situs web. Walmart adalah persimpangan antara [retail] digital dan fisik, dan saya benar-benar meremehkan kompleksitas supply

chain. Saya merekrut banyak pegawai eBay dan kami sering menyepelekan supply chain,” kenangnya.

Di Walmart, adalah sangat kritis untuk memahami ke mana paket harus bergerak di dalam gudang dan mengantarkannya ke toko dan pelanggan. Walhasil, jumlah karyawan yang bekerja di divisi supply chain dan divisi digital sama banyaknya.

Dengan eksistensi Walmart di dunia maya dan nyata, Jeremy King dan tim @WalmartLabs harus memastikan customer experience yang benar-benar mulus ( seamless) antara perangkat mobile—pick

up, pencarian, dan delivery ke rumah pelanggan atau belanja di toko, kemampuan navigasi, dan lain-lain. Integrasi adalah kuncinya.“Kami memiliki ribuan toko di seluruh dunia dan kami harus mengintegrasikannya dengan perangkat mobile dan desktop. This

is critical to our success!” tegasnya. Integrasi toko fisik dengan

mobile diperoleh, antara lain, melalui kemampuan in-store

mapping. Integrasi yang lebih kompleks bisa dilihat pada aplikasi Savings Catcher. Aplikasi ini memiliki kemampuan comparative

intelligence untuk membandingkan harga di toko-toko retail lain, misalnya Target dan Walgreens.

Dengan aplikasi ini, pelanggan dapat memindai bon belanjanya di Walmart. Lalu, jika ternyata pelanggan membayar lebih mahal daripada harga di toko lain untuk barang yang sama, pelanggan akan menerima kartu eGift.

Untuk mengembangkan aplikasi semacam itu, Jeremy King dan timnya harus mengintegrasikan data transaksi hasil penjualan di toko fisik dan e-commerce. Dan inilah pertama kalinya, Walmart memperoleh gambaran yang kohesif tentang aktivitas pribadi yang dilakukan oleh 250 juta pelanggannya di dunia maya.

JEREMY KING (SVP & CTO @ Walmart Labs)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.