Kiat SaveMax Puaskan Pelanggan

Dalam bisnis apa saja, pelanggan pada umumnya menjadi fokus utama. Untuk itu, SaveMax memilih sistem dan perangkat point of sales (POS) dengan cermat agar pelanggan memperoleh pelayanan yang paripurna.

Info Komputer - - Case Study -

I ndonesia terhitung sebagai pasar yang menarik dan berpotensi tumbuh bagi bisnis retail. Hal ini terbukti lewat laporan Global Retail Development Index (GRDI) 2016 yang dirilis AT Kearney pada pertengahan tahun lalu. Menurut laporan GRDI terbaru tersebut, peringkat Indonesia melonjak dari posisi 12 ke posisi 5 dalam waktu setahun. Sementara nilai penjualan yang kita dulang dari sektor retail mencapai US$324 miliar.

Memiliki potensi untuk tumbuh lebih cepat daripada negara-negara lainnya, Indonesia tentu akan kian menarik hati para investor retail dan pasar pun akan makin kompetitif. Untuk menghadapi kompetisi tersebut, toko wholesale (grosir) SaveMax Super Grosir mengandalkan teknologi informasi (TI). Termasuk di antaranya ketika SaveMax ingin menyajikan pengalaman belanja yang mengesankan bagi pelanggannya.

Pengalaman pelanggan yang mengesankan dapat dibangun dengan aneka cara, misalnya melalui proses

checkout (pembayaran) yang cepat dan konsisten. Menurut Joanito Iwan Tamsil (Director Information System & Technology, SaveMax Super Grosir), proses

checkout dapat mencerminkan citra sebuah toko. Nah, bayangkan jika satu pelanggan dilayani kasir dalam waktu tiga menit. Jika ada lima orang dalam antrean, pelanggan kelima kemungkinan besar akan merasa tidak nyaman karena harus menunggu sampai lima belas menit untuk dilayani. Bahkan, bukan tidak mungkin, jika pelanggan kelima ini akhirnya tidak jadi berbelanja.

Ternyata bukan hanya pelanggan yang merasa kesal. Ketika peralatan yang digunakan tidak dapat mendukungnya melakukan proses checkout untuk pelanggan pun, kasir bisa-bisa ikut kesal. “Akhirnya dia menginput data maunya secara manual saja,” cerita pria yang akrab disapa Iwan itu. Walhasil proses checkout pun bertambah lama.

“Sehingga, peralatan yang melengkapi kasir harus benar-benar mendukung kerjanya. Apapun, termasuk mesin POS,

barcode scanner harus benar-benar yang top of the line,” tandas Iwan.

Utamakan Ketahanan dan Kecepatan

“Kami pernah bermasalah dengan kabel [ barcode scanner] sebelumnya. Tiap tiga bulan kami harus ganti kabel,” cerita Iwan. Penggantian kabel yang cukup sering karena dalam proses checkout, kasir terpaksa menarik-narik gun scanner untuk memindai barang yang berukuran cukup besar dan terletak di troli pelanggan.

“Oleh karena itu, untuk perangkat di ritel ini, secara umum, kami mencari memang yang heavy duty,” jelas Joanito Iwan Tamsil. Karena perangkat tersebut akan digunakan dalam kegiatan operasional toko setiap hari dan tidak semua pengguna dapat diharapkan menggunakan perangkat dengan tingkat kehati-hatian tinggi.

Kendala lain yang menjadi perhatian SaveMax adalah kecepatan dan akurasi pemindaian oleh scanner POS tersebut. Tak jarang proses checkout di kasir terkendala karena scanner tak mampu memindai barcode dengan cepat dan tepat. Misalnya, barcode pada barang sulit dibaca karena terkena air atau cetakan kurang sempurna.

“Produsen scanner sebenarnya semua menjual teknologi yang sama, tetapi tetap saja kualitasnya berbeda. Seperti

paracetamol kalau di industri farmasi. Semuanya [menyebut] paracetamol. Tapi ada yang satu Anda minum sepuluh tablet baru sembuh, ada yang minum dua tablet langsung membaik,” papar pria yang juga pernah berkecimpung di industri kesehatan itu memberi analogi.

Sebagai toko grosir, SaveMax harus menjaga tingkat efisiensi. Pasalnya, meskipun melakukan penjualan dalam volume besar, wholesaler di bawah naungan PT Emporium Indonesia ini tidak bisa mematok margin yang terlalu besar. “Karena margin kecil itu kami harus efisien. Oleh karena itu kami juga nggak bisa menyiapkan backup unit terlalu banyak,” ungkap Iwan, manakala ada scanner yang rusak.

Dengan alasan itu, SaveMax membutuhkan partner atau mitra penyedia teknologi yang responsif terhadap kebutuhannya. Misalnya, dalam hal penyediaan unit pengganti maupun spare

part dari perangkat yang dipakai. “Selain tentu saja, kami ingin harga perangkat yang lebih kompetitif,” imbuh Iwan.

Di luar semua alasan tersebut, SaveMax memang membutuhkan teknologi terbaru yang memampukannya berinovasi dan memberi keunggulan kompetitif, terutama di tengah bisnis retail yang disebut Joanito Iwan Tamsil sebagai sektor dengan tantangan hiperkompetitif.

Beralih ke 2D

Ketika membuka toko keduanya yang menempati area seluas 5.500 meter persegi di kawasan Cibubur pada tahun 2015 lalu, SaveMax Super Grosir mengimplementasikan barcode scanner atau POS scanner 2D berjenis handheld ( gun scanner) DS4308 dan mini slot ( table

scanner) DS7708 terbaru dari Zebra Technologies.

Ketika kebanyakan barcode retail masih menggunakan 1D UPC/EAN/JAN barcode, SaveMax sudah beralih ke

2D POS scanner. Joanito Iwan Tamsil beralasan bahwa dengan pemindai 2D, kasir dapat memindai barcode 1D maupun 2D yang paling sulit sekalipun, dan dari sudut atau arah mana pun. Kasir tidak perlu mengarahkan barang atau scanner dengan ketepatan khusus. Dengan begitu, kasir dapat bekerja lebih cepat dan produktif, pelanggan pun terlayani dengan cepat pula.

Kecepatan scanning juga ditunjang kemampuan perangkat memindai barcode yang tergores, luntur atau berkualitas cetak buruk, bahkan sampai tingkat tertentu, memindai barcode yang sudah rusak. “Kalau scanner yang bagus, sampai level tertentu, masih bisa baca [ barcode], kecuali sudah sangat rusak,” ujar Iwan.

Dari sisi ketahanan perangkat, kedua perangkat tersebut menawarkan durability yang cukup memuaskan bagi SaveMax. Tanpa komponen bergerak ( moving part), DS7708 diklaim Zebra memiliki mean time

to failure (MTFF) hingga lima dekade. Sementara untuk handheld scanner, SaveMax sudah terlanjur jatuh hati pada DS4208 yang telah digunakan di toko pertama sejak tahun 2014. “Dari sejak pertama kami pakai, no single complaint!” tandas Iwan, sehingga tawaran Zebra untuk meng-upgrade perangkat ke versi terbaru DS4308 pun tak ditolaknya. Sampai saat ini, SaveMax mengoperasikan 10 unit DS4208 di toko pertama (yang berlokasi di Serpong, Tangerang), 17 unit DS4308 dan 12 unit DS7708 di toko kedua (yang terletak di Cibubur, Bogor).

“Dari sisi teknologi, Zebra juga memberikan software tambahan yang sebenarnya nice to have,” jelas Iwan. Tetapi fitur tersebut cukup membantu tim TI SaveMax untuk menyiapkan perangkat dengan lebih cepat.

“Dulu, kalau kami buka toko, ada banyak perangkat [ scanner] yang harus kami setting. Kami butuh sekitar 3-4 menit per perangkat untuk men-setting

scanner sesuai kebutuhan kami,” cerita Iwan. Kini proses itu dipermudah dengan kehadiran tool konfigurasi dan manajemen perangkat, 123Scan. Tool berupa software 123Scan ini akan menghasilkan satu kode perintah 2D pada ponsel dan

scanner dapat dikonfigurasi dengan hanya memindai kode tersebut. Untuk mengaktifkan perangkat yang berada di lokasi terpisah, kode perintah tadi cukup dikirimkan ke tim TI di lokasi tersebut melalui pesan singkat di ponsel.

Telah didukung perangkat yang menjanjikan proses checkout cepat, Joanito Iwan Tamsil masih memimpikan

POS scanner yang lebih mumpuni, misalnya cable free scanner. “Untuk perangkat seperti itu, problemnya selalu batere,” ujar Iwan yang berharap ada perangkat seperti itu dengan ketahanan baterai sampai satu hari dalam kondisi aktif dipergunakan sepanjang hari. Dan perangkat dilengkapi fitur loss protection, di mana perangkat akan mengeluarkan suara ketika mencapai jarak tertentu dari

docking- nya. Ada pepatah bisnis yang tetap valid dari dulu hingga kini, bahwa pembeli adalah raja. Sungguh akan berkesan di hati pelanggan saat mereka diperlakukan istimewa, meski hanya berupa proses pembayaran yang tanpa antrean mengular.

(Director Information System & Technology, SaveMax Super Grosir) Joanito Iwan Tamsil

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.