Ini Senjata Nissan Hadapi Persaingan

Mengaplikasikan sistem business rule management berstandar terbuka, Nissan meningkatkan kecepatan delivery dan ekspansi.

Info Komputer - - Case Study -

Pada bulan April 2014, Nissan Motor Co. Ltd. mengoperasikan sebuah pabrik baru di Rio de Janeiro, Brazil. Pabrik berkapasitas produksi 200 ribu unit kendaraan dan 200 ribu mesin per tahun itu ditargetkan menambah penjualan untuk meraih lima persen pangsa pasar di Brazil pada tahun 2016. Peningkatan pangsa pasar di Brazil itu diharapkan akan mendorong Nissan menguasai delapan persen pasar global yang dicanangkan melalui rencana lima tahunan NISSAN POWER 88 yang dimulai tahun 2011.

Dalam mengoperasikan pabrik di Rio de Janeiro ini, Nissan ingin mengoptimalkan proses distribusi kendaraan hasil produksi dari pabrik kepada 160 dealer- nya di Brazil, sesuai dengan perilaku konsumen di negara tesebut.

Di Jepang, pelanggan umumnya memerlukan waktu lebih lama untuk mengambil keputusan pembelian barang. Mereka akan terlebih dahulu me- review spesifikasi produk yang mereka incar

secara online atau langsung mendatangi dealer. Dan ketika model yang mereka inginkan tidak tersedia, konsumen di Jepang umumnya lebih suka menunda pembelian dan menunggu sampai ada stok baru. Lain halnya di Brazil, di mana konsumen umumnya akan langsung membeli produk yang tersedia di ruang pamer dealer.

Hal ini mengharuskan perusahaan yang memiliki lini produksi di dua puluh negara itu menerapkan pendekatan yang berbeda untuk pasar Jepang dan Brazil. Untuk konsumen di Brazil, Nissan harus memastikan bahwa stok produk yang disukai konsumen dapat diperoleh dengan mudah di dealer. Caranya adalah dengan mencocokkan tingkat penjualan di

dealer dengan tren pembelian konsumen, misalnya berdasarkan jenis dan model kendaraan.

“Gol dari pabrik baru kami ini adalah mengoptimalkan order management dan

production planning secara bersamasama, juga memudahkan konsumen

mengakses informasi. Untuk Nissan, salah satu tantangan terbesarnya adalah mengoptimalkan production planning yang membutuhkan business rules

management engine yang kokoh,” cetus Koichiro Sakakibara (Assistant Manager, Enterprise Architecture Department, Global IT Headquarters, Nissan Motor Co., Ltd.), seperti dikutip dari situs web Redhat.com. Butuh Global System Berstandar Terbuka

Layaknya perusahaan berskala besar dan global, Nissan telah mengimplementasikan sejumlah sistem berbasis teknologi informasi (TI) untuk mendukung optimalisasi production

planning workflow. Awalnya, Nissan akan memilih satu dari sistem-sistem tersebut untuk diimplementasikan di jaringan globalnya.

Dari sisi fungsi, Nissan tak menemui kendala dengan sistem yang berjalan di atas mainframe tersebut. Namun menurut Sakakibara, sistem tersebut tidak ideal untuk melakukan scaling dan ekspansi global. VITESSE, strategi TI Nissan di balik program NISSAN POWER 88, memotivasi Koichiro Sakakibara

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.