Cerita Robot di CES 2017

Ajang Consumer Electronics and Technology Tradeshow—atau yang lebih dikenal dengan CES—yang digelar pada awal Januari 2017 sukses menghadirkan banyak kejutan. Bukan saja dari sisi teknologi, namun juga dari sisi storytelling.

Info Komputer - - Digital Marketing -

D i ajang CES 2017 yang digelar di Las Vegas, negara bagian Nevada, pada 5-8 Januari silam, muncul banyak terobosan dari berbagai produk teknologi. Dan, salah satu yang paling menonjol adalah munculnya berbagai jenis robot dari pengembang-pengembang di seluruh dunia.

Robot?

Yup! Anda tidak salah dengar. Sepintas, robot memang menjadi raja di gelaran CES kali ini. Dan, sama persis seperti yang kita kenal di filmfilm, pengembangan robot sebagai asisten pribadi memang menjadi kunci. Dengan demikian, bukan tidak mungkin, dalam lima atau enam tahun ke depan, kita bisa memiliki robot sekelas R2D2 atau C3PO untuk menemani dan membantu kita dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, booming kemunculan robot-robot ini tidak lepas dari munculnya teknologi sensor suara untuk perintah yang diperkenalkan oleh Amazon Alexa beberapa waktu silam. Akibat teknologi ini, robotrobot bisa dikembangkan bukan hanya sebagai pekerja, namun juga sebagai personal assistant.

“Saat ini, robot sudah bisa mengerti Anda. Perkembangan teknologi membawa robot untuk mencerna perintah, sebelum menjalankannya,” ucap David Hanson (Founder Hanson Robotics Hong Kong.

Hanson Robotics memang bukan pemain baru di industri robotika dunia. David Hanson, yang turun tangan langsung sebagai Lead Robotic Designer Hanson Robotics, sudah dikenal sebelumnya saat memproduksi robot Einstein yang cukup laris terjual dengan harga 299 dolar AS.

Di CES kali ini, David memperkenalkan produk terbarunya, Sophia. Sophia merupakan sebuah robot dengan penampakan ala wanita dewasa, yang dalam waktu singkat langsung menjadi media darling. Kemasan

looks yang mengagumkan dan kecerdasan buatan yang makin mengemuka memungkinkan Sophia menangani sebuah interview yang cukup rumit. Kemampuan luar biasanya yang diabadikan dalam sebuah video YouTube sukses menghasilkan miliaran views dan interaksi di sosial media.

Sukses Sophia jelas tidak datang tiba-tiba. Semua kecerdasan buatan itu tidak lantas mengemuka jika tidak dikemas dalam sebuah

story yang luar biasa. Menyadari betul akan kemampuan produk terbarunya, petinggi-petinggi Hanson Robotics lantas membuatkan sebuah skenario tentang bagaimana Sophia akan ditampilkan di hadapan publik.

Alih-alih mengulang resep Einstein Robot, Sophia justru dimunculkan sebagai sosok artificial

artist yang supercerdas. Langkah ini sukses membuat orang-orang langsung jatuh cinta. Dia bernyanyi

di atas panggung, menyapa banyak orang lewat barisan interview di berbagai media outlet. Ia juga menjadi teman diskusi yang tangguh saat bertemu dengan petinggi-petinggi bisnis di berbagai bidang. Mulai dari perbankan, asuransi, otomotif, media, dan bahkan pengembang properti. Sophia sangat mengingatkan kita pada sosok perempuan imajiner dalam film Simone garapan tahun 2002 yang disutradarai oleh Andrew Niccol dan dibintangi Al Pacino dan Rachel Roberts.

Keluarbiasaan Sophia membuatnya lantas layak dimunculkan sebagai model sampul di salah satu majalah fashion ternama, Elle. Terakhir, mesin superjenius ini bahkan muncul dalam sebuah diskusi panel yang digelar di sebuah konferensi teknologi, dan membicarakan seputar robotika dan kecerdasan buatan, serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia.

Cerita yang luar biasa. Yang pastinya kehadiran Sophia akan membuat siapa pun yang mendengarnya terkagum-kagum. Mereka pasti ingin segera bersua, atau melihat seperti apakah Sophia, robot perempuan realistis yang mengguncang dunia, dan siap menjadi asisten pribadi manusia.

Menjalin Cerita

Tidak hanya Hanson Robotics dari Hong Kong yang sukses berkiprah di CES 2017. Bubblelab, pengembang robotika asal Cina, juga berhasil menarik perhatian dengan menampilkan robot barista.

Menurut Bubblelab, kepribadian pembuat kopi sangatlah hangat. Namun, kebiasaan di negara Barat tidak memungkinkan konsumen merasakan hal itu. Mereka memang bisa melihat seorang barista bekerja di balik meja. Mereka bisa saling melihat. Namun, mereka tidak pernah bertukar cerita.

Untuk memperlihatkan kehangatan seorang pembuat kopi, Bubblelab menampilkan barista yang bekerja di luar kebiasaan itu. Robot barista ditampilkan lebih aktif. Tidak hanya ahli membuat kopi, barista versi Bubblelab bahkan keluar dari meja kerjanya dan berbincang dengan para pengunjung. Ini merupakan kemasan yang menarik dan membuat banyak orang menoleh.

Di samping itu, banyak lagi kebisaan robot yang ditampilkan oleh pengembang-pengembang robot di CES 2017. Mulai dari membantu manusia di dunia kesehatan sampai menjadi guide yang aktif di sebuah museum.

Robot-robot sederhana pun ditampilkan. Dengan mengandalkan sensor suara, robot-robot ini bukanlah tipe robot pekerja berat. Tugas yang bisa dikerjakannya sekadar menjadi teman bicara. Contohnya, Cuddle Talkies yang bisa menemani pengemudi di perjalanan atau sejenis robot pengantar tidur yang bisa membuat AC bertambah dingin, sekaligus mengeluarkan suara menenangkan yang membuat pemiliknya merasa nyaman.

Ya, begitu banyak robot yang ditampilkan. Dan rata-rata memiliki kebisaan yang hampir sama. Teknologi yang dipunyainya pun tidak terlalu berbeda. Namun, semuanya di- set untuk tampil secara unik yang bisa membuat orang tertarik.

Untuk menghasilkan itu, diperlukan kombinasi antara kecanggihan robot, penguasaan kebutuhan audiens, dan pemilihan

story yang pas. Jika sebuah robot memiliki cerita yang unik dan menarik, besar kemungkinan orang tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Ini bisa terjadi meskipun tampilannya masih sangat jauh dari sempurna.

Jika Anda adalah seorang pemilik produk, membuat cerita untuk produk Anda mutlak dilakukan. Sebuah cerita bisa membuat produk yang sejatinya benda mati, menjadi hidup. Cerita melahirkan kehangatan, dan koneksi antara pendengar dengan produk. Cerita yang tepat dan detail akan memudahkan kita memperkenalkan produk ke konsumen. Ini akan menjadikannya dasar dari berbagai aktivasi yang dilakukan untuk memasarkan produk tersebut.

Di CES 2017, semua robot memiliki cerita. Cerita dengan konteks tertentu yang diharapkan bisa menjalin engagement dengan pasar yang disasar. Tidak semua ceritanya berhasil seperti Sophia. Ada memang yang terlalu simpel, dan kurang menarik perhatian. Dan itu berimbas pada banyak tidaknya kerumunan yang berhenti di depan ruang display.

Karena itu, jika ingin produk Anda diperhatikan, selalu siapkan cerita yang tepat. Karena, kita tahu bahwa setiap orang perlu stimulus untuk bergerak. Dan cerita adalah stimulan yang tepat untuk kepentingan ini.

Jadi, apa salahnya bercerita. Selalu buat cerita yang menyenangkan, karena saya percaya bahwa #storymovespeople.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.