AI yang Ditakuti

Info Komputer - - Editorial -

K etika dilanda rasa lelah di tengah masa deadline, tak jarang kami berharap ada “asisten” yang bisa menggantikan kami menulis berita, atau setidaknya membantu melakukan proses transkripsi hasil wawancara dengan narasumber.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, rasanya sih harapan kami tidak bertepuk sebelah tangan. Namun sejurus kemudian kami bertanya-tanya, apa jadinya kalau teknologi seperti itu tidak sekadar membantu, tapi malah menggantikan peran kami, peran Anda sebagai pekerja?

Di masa lalu, ketakutan bahwa teknologi baru akan mengakhiri kebutuhan tenaga kerja manusia umumnya akan disebut ketakutan tak beralasan. Ketika terjadi perubahan akibat teknologi, memang ada sedikit guncangan di dunia kerja. Namun dalam jangka panjang, teknologi terbukti menciptakan bidang pekerjaan baru, bahkan industri baru, bukan menghancurkan tatanan dunia kerja.

Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan mesin melakukan self-learning dan bekerja secara mandiri ( autonomous). Mesin tidak hanya makin pintar tapi bisa membuat keputusan berdasarkan “logika” dan “pengetahuan”-nya. Mesin dapat bekerja tanpa intervensi manusia.

Kemungkinannya adalah mesin-mesin itu tidak hanya menggantikan manusia untuk pekerjaanpekerjaan manual, tapi juga pekerjaan yang membutuhkan proses “belajar” dan “pengambilan keputusan”. Dua hal ini seharusnya hanya bisa dilakukan manusia.

Apakah ketakutan kita masih bisa disebut tak beralasan? Semoga saja demikian bila artificial

intelligence (AI) dimanfaatkan untuk memperluas cakupan pekerjaan para pekerja profesional dan untuk meningkatkan efisiensi.

 huffpost.com

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.