Masa Keemasan Aplikasi Mobile Akan Berakhir?

Seiring meratanya akses smartphone, popularitas mobile apps kini makin menurun. Artificial intelligence kini menjadi ajang pertaruhan baru.

Info Komputer - - Contents -

Seiring meratanya akses smartphone, popularitas mobile apps kini makin

menurun. Artificial intelligence kini menjadi ajang pertaruhan baru.

Hasil riset Flurry yang dirilis pada awal Januari 2017 kemarin mengungkapkan bahwa tren aplikasi mobile melambat. Dalam rentang antara 2015-2016, kenaikannya hanya sebelas persen. Angka ini sangat jauh dari periode sebelumnya yang mencatat kenaikan 58 persen. Namun demikian, durasi penggunaan aplikasi meningkat hingga 69 persen dibanding tahun lalu.

Flurry sendiri melacak tren itu melalui lebih dari 940 ribu aplikasi pada 2,1 miliar perangkat mobile. Aplikasi messaging & social masih merajai selama 2015-2016 (sebanyak 44 persen), disusul ketat oleh aplikasi olahraga (sebanyak 43 persen). Sementara itu, aplikasi ekonomi dan bisnis serta belanja, masing-masing memiliki porsi 30 persen dan 25 persen. Yang “nelangsa” adalah aplikasi berkategori berita (turun sebanyak lima persen), permainan (turun sebanyak lima belas persen), dan

personalization (turun sebanyak 46 persen). Khusus untuk aplikasi

messaging & social, peningkatan signifikan terjadi pada sisi waktu penggunaan, yaitu mencapai 394 persen. Ini sangat jauh berbeda dengan kategori lainnya yakni bisnis dan keuangan (43%), belanja (31%), olahraga (25%), dan permainan (-4%). Khusus untuk aplikasi belanja, ini memang didorong oleh percepatan

e-commerce pada rentang waktu lima tahun terakhir ini.

Menurut Flurry, tren ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya meratanya akses perangkat cerdas, kecepatan internet yang membaik, serta kombinasi antara komunikasi dan hiburan, termasuk live content, yang kian digandrungi oleh generasi “I”. Khusus pada aplikasi

messaging, adopsi yang meningkat disebabkan adanya kesadaran bahwa aplikasi media sosial biasa interaksi dan komunikasi di dalamnya berpotensi untuk “dijual” kepada pihak lain, khususnya kepada pengiklan. Dengan kata lain, privasi terhadap percakapan dipandang sangat penting.

Dengan demikian, para pengembang aplikasi, khususnya pemain baru tampaknya akan kesulitan bersaing dengan aplikasi yang telah memiliki nama, ketika ingin menyaingi pasar besar pada kategori messaging & social. Akan tetapi peluang besar masih terbuka di kategori e-commerce, meskipun dengan catatan harus menambahkan fitur yang menarik dan unik.

Akan tetapi melihat Stagnannya perkembangan aplikasi mobile tersebut, Furry memandang, Amazon, Google, Apple, dan Facebook akan mencari model platform baru. Incaran utama adalah perangkat berbasis kecerdasan buatan ( artificial

intelligence/ AI), sebagaimana yang ditunjukkan oleh Amazon Echo dan Google Home. Kedua perangkat ini disebut sebagai personal assistant, di mana dengan suara, pengguna dapat bertanya apa saja secara langsung kepadanya, dan dijawab secara real time.

Berkat kemudahan yang ditawarkan, personal assistant diramalkan akan menjadi perangkat yang sering digunakan oleh pengguna. Dan layaknya hukum ekonomi, ketika berkumpul banyak pengguna, peluang bisnis pun luas terbuka.

Naskah: VINSENSIUS SITEPU

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.