Merancang Paket Kompensasi Jitu ala Instacart

Apabila Anda tinggal di salah satu kota besar di Amerika Serikat saat ini, maka besar kemungkinan Anda akan sangat terbantu dengan sebuah aplikasi bernama Instacart.

Info Komputer - - Top Leader - MEISIA CHANDRA Head of Accounts & Consulting, Storm Benefits Indonesia Twitter: @mei168

UNTUK ANDA yang sibuk dan memilih untuk mendapatkan belanjaan Anda diantar ke rumah dalam waktu dua jam atau kurang, Instacart akan menghubungkan Anda dengan agen-agen yang akan melakukan pembelanjaan untuk Anda di supermarketsupermarket, seperti Whole Food Market, Target, Costco, dan Petco.

Instacart didirikan oleh Apporva Mehta, seorang mantan karyawan Amazon, dan diterima oleh pasar AS dengan sangat baik, bahkan berkembang pesat. Diluncurkan tahun 2012 di San Francisco, startup tersebut dengan cepat mendapatkan pendanaan dari sejumlah investor, seperti Kliener Perkins Caufield & Byers (KPCB), Comcast Ventures, Andreessen Horowitz, Sequoia Capital, Y Combinator, dan masih banyak lagi. Per Januari 2015 total pendanaan yang telah diterima mencapai US$275 juta. Forbes menyebut Instacart sebagai “Perusahaan Paling Menjanjikan di Amerika”.

Lima tahun setelah berdiri, pada tahun 2017, Instacart telah melayani pelanggan di 1.200 kota di 25 negara bagian AS. Pada saat itu mereka telah meraih pendanaan US$400 juta dengan valuasi sekitar US$3,4 miliar. Tahun ini, Instacart pun merambah Kanada, khususnya di kota Toronto dan Vancouver.

Pada sebuah acara yang diadakan TechCrunch tahun lalu, Apoorva Mehta mengaku perusahaannya bertumbuh 500% pada tahun lalu. Sembilan puluh persen dari pelanggan Instacart adalah pelanggan tetap, alias pelanggan yang telah melakukan pemesanan ulang. Salah satu kunci keberhasilan Instacart seperti disebutkan oleh sang CEO adalah pemanfaatan data science .

Menariknya, data science juga digunakan startup ini dalam merancang sistem pengelolaan kinerja dan kompensasi karyawan. Sebagai startup yang berada di Silicon Valley, Anda tidak hanya harus bersaing merebut pelanggan tetapi juga berkompetisi mendapatkan talent terbaik. Anda harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang lebih mapan dan populer, seperti Airbnb, Stripe, Uber, Google, Facebook, dan Slack.

Perusahaan harus selalu inovatif, terutama dalam merancang paket kompensasi yang menarik. Nah, bagaimana Instacart melakukannya?

Berbeda dengan kebanyakan perusahaan lainnya, ketika menyangkut kompensasi, Instacart memberi perhatian yang sangat besar. Tiga pejabat tinggi (Vice President), yaitu bagian Data Science, Engineering, dan HR dilibatkan dalam merancang sistem kompensasi karyawan.

Sebelum seorang kandidat menemui hiring manager , perusahaan sudah memiliki tiga tipe informasi yaitu: data pasar, data wawancara dari kandidatkandidat sebelumnya, dan perlengkapan untuk mengukur tingkat kontribusi sang kandidat.

Menggaji Sesuai Tingkat Kontribusi

Instacart memberi remunerasi karyawan sesuai dengan kontribusinya. Melalui berbagai

data set di atas, Instacart terus meramu dan menyempurnakan sistem leveling ini. Sistem ini diuji cobakan terlebih dahulu pada tim Engineering, baru kemudian diterapkan secara lebih luas di seluruh organisasi.

Berikut adalah contoh leveling untuk tim Instacart: • Level 1: Anda baru saja memulai karier professional • Level 2: Anda cukup produktif tetapi masih belajar • Level 3: Anda seorang kontributor senior yang solid dan terpercaya • Level 4: Anda membuat tim Anda jauh lebih baik • Level 5: Anda membuat organisasi Anda (dalam hal ini Engineering) dan Instacart lebih baik • Level 6: Anda mengubah industri Dengan sistem seperti ini, Instacart lebih menghargai kontribusi daripada senioritas. Karyawan dituntut untuk selalu memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Selain tingkat kontribusi, Instacart juga menilai seberapa karyawan memahami nilai-nilai perusahaan.

Secara singkat, tingkat pemahaman nilai-nilai perusahaan terdiri dari: ownership (memperlakukan Instacart seperti “anak sendiri”), wisdom (kemampuan membuat penilaian yang baik), knowledge (tahu bagaimana melakukan pekerjaan),

INflUENCE (mendapat pengaruh karena membantu orang lain), dan

community (peran sebagai duta dan tuan rumah).

Kombinasi tingkat kontribusi dan pemahaman value menghasilkan usulan untuk paket kompensasi yang akan secara terus-menerus dicocokkan dengan data pasar. Misalnya, pada masa awal, Instacart menemukan bahwa mereka selalu berada di bawah pasar untuk posisi-posisi tertentu setelah melakukan sejumlah wawancara dengan kandidat.

Hal itu kemudian memberi sinyal, karena itu mereka pun melakukan definisi ulang terhadap peran-peran serta mengubah algoritma dan menyesuaikan paduan data untuk membuat paket kompensasi yang tepat untuk level yang tepat.

Dalam hal ini, Guissu Baier, VP HR Instacart, menyarankan agar perusahaan selalu memiliki standar kompensasi yang konsisten. Menurutnya, seperti dikutip dari FirstRound.com, “Meskipun sangat menginginkan seorang kandidat, kami lebih menginginkan standar kompensasi yang konsisten untuk seluruh organisasi. Kami tidak ingin mengguncang seluruh perahu hanya demi satu penumpang,” ujarnya.

Lembar Kerja Berisi Manfaat Lengkap

Instacart memiliki sebuah lembar kerja ( worksheet) yang menampilkan seluruh BENEfiT yang diterima karyawan dalam suatu posisi. Lembar kerja ini tidak hanya berisi gaji dan ekuitas, tetapi juga fasilitas kesehatan, anggaran untuk pengembangan professional, dan tunjangan lainnya, seperti tunjangan makan. Yang menarik dalam lembar kerja yang memuat kompensasi total ini adalah karyawan dapat mengetahui nilai stock option- nya pada valuasi perusahaan yang berbeda-beda.

Di samping itu perusahaan juga melakukan serangkaian

workshop tentang stock option, di mana para eksekutif perusahaan menjelaskan langkah demi langkah bagaimana cara kerja stock

option. torkshop ini dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 20 orang, sehingga karyawan dapat mengajukan pertanyaan bila ada yang kurang jelas.

Paket kompensasi dalam setiap posisi ini terbuka untuk diketahui oleh semua karyawan. Manajemen juga harus dapat menjelaskan dasar penentuan paket tersebut. Pendekatan data

science membuat perusahaan memberi penghargaan kepada orang yang tepat dengan nilai yang tepat, sehingga baik perusahaan maupun karyawan sama-sama merasakan keuntungan.

“Tujuan saya adalah membuat karyawan tidak perlu berpikir tentang kompensasi. Mereka hanya perlu tahu bahwa mereka telah diperlakukan dengan adil sehingga dapat mengalokasikan energi mental mereka dengan yakin untuk mengembangkan bisnis,” ujar Guissu Baier. IK

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.