Tantangan Multi Awan

Setelah melalui perjalanan yang panjang, organisasi teknologi informasi (TI) enterprise mulai memahami dan menyukai manfaat dari pemanfaatan cloud computing.

Info Komputer - - Expert Says - Liana Threestayanti*

NAMUN JALAN menuju masa depan cloud yang menjanjikan ternyata masih agak kabur. Pasalnya, kini bermunculan berbagai istilah, seperti hybrid cloud, multi cloud, cloud bursting, dan distributed cloud, yang membuat para pemimpin TI dan stafnya harus kembali berpikir tentang implementasi komputasi awan yang tepat.

Dengan makin seringnya terdengar istilah “multi cloud”, mungkin tak sedikit orang TI yang bertanya-tanya, apakah multi cloud sekadar istilah lain untuk

hybrid cloud? Ini penjelasan singkatnya.

Strategi multi cloud menggunakan dua atau lebih layanan cloud computing, yang bisa berupa Software as a Service maupun Platform as a Service. Namun secara umum, multi cloud mengacu pada paduan lingkungan Infrastructure as a Service, misalnya AWS dan Microsoft Azure. ulti cloud merupakan mi match layanan cloud dari berbagai penyedia layanan. Strategi ini ditempuh untuk memenuhi kebutuhan workload yang spesifik. Layanan-layanan ini tidak terkoneksi atau terorkestrasi satu sama lain. Sedangkan hybrid cloud adalah gabungan antara

private cloud on premises dan public cloud dari penyedia layanan pihak ketiga dengan orkestrasi di antara keduanya.

Radhesh Balakrishnan, GM Open Stack, Red Hat, kepada Enterprisersproject.com memberikan satu perbedaan yang lebih simpel di antara keduanya:

multi cloud merupakan cara implementasi dan pengelolaan secara menyeluruh. Sedangkan

hybrid cloud mengacu kepada portofolio teknologi yang melandasi cloud computing.

Kelly Begeny, Channel Manager DSM Technology Consultant memandang multi

cloud lebih sebagai sebuah strategi di mana di dalamnya melekat karakter multi vendor. Sementara itu, hybrid cloud adalah paduan antara lingkungan cloud public dan private ( on premises maupun managed hosted) yang memampukan para CIO mencocokkan dan memindahkan

workload ke lingkungan cloud yang tepat di waktu yang tepat pula, sesuai kebutuhan bisnis maupun teknologi. Strategi multi

cloud dapat menjadi enabler bagi model hybrid cloud.

Dari sisi adopsi, Right Scale Cloud Computing Trends: 2018 State of the Cloud Survey mengungkapkan bahwa strategi

multi cloud masih menjadi pilihan perusahaan, meskipun presentase perusahaan yang menggunakan

multiple cloud berkurang sedikit dari 85% di tahun 2017 menjadi 81% di tahun ini.

Di sisi lain, jumlah perusahaan yang menerapkan strategi hybrid berkurang, dari 58% di tahun 2017 menjadi 51% di tahun ini. Sedangkan jumlah organisasi yang menggunakan strategi multiple

public cloud atau multiple private cloud tumbuh meski angka pertumbuhannya tidak terlalu besar, yaitu masing-masing sebesar 1% dan 3%.

Alasan Adopsi Multi Awan

Awalnya, strategi multi-cloud diterapkan karena perusahaan atau organisasi tidak yakin dengan keandalan atau reliabilitas cloud.

ulti cloud dipandang sebagai cara mencegah data loss atau

downtime karena komponenkomponen lokal di cloud gagal berfungsi. Alasan lain adalah menghindari perusahaan dari vendor lock-in.

Ada satu fakta menarik yang diungkap oleh Mary Meeker dalam 2 1 Internet Trends

eport. Kekhawatiran para CIO tentang keamanan, khususnya terkait public cloud menurun, tapi kemasygulan para pemimpin TI terhadap vendor lock-in justru meningkat.

Pada tahun 2 12, 42 responden menyebutkan data

security sebagai satu dari tiga kekhawatiran terbesar mereka. Namun keprihatinan tersebut hanya melanda 3 dari responden di tahun 2 1 . Sebaliknya, pada tahun 2 12, hanya responden mengkhawatirkan vendor lock-in tapi tiga tahun kemudian, ada 22 responden mengungkapkan kekhawatirannya tentang hal tersebut. edundansi dan vendor

lock-in masih menjadi alasan untuk multi cloud deployment dewasa ini, tapi adopsi ini juga didorong oleh tujuan bisnis dan teknis yang lebih luas. Tujuan bisnis tersebut misalnya menggunakan layanan cloud yang lebih kompetitif harganya atau meraih keuntungan dari kecepatan, kapasitas, atau fitur yang ditawarkan oleh provider

cloud tertentu yang berada di kawasan tertentu.

Beberapa organisasi menerapkan strategi multi

cloud karena alasan kedaulatan data ( data sovereignity). Hukum, regulasi, dan kebijakan perusahaan tertentu mengharuskan data perusahaan secara fisik berada di lokasi- lokasi tertentu. Fleksibilitas dalam hal lokasi data ini memampukan perusahaan memperoleh sumber daya komputasi sedekat mungkin dengan end user agar kinerjanya optimal dengan latency minimal.

Strategi multi cloud juga memampukan perusahaan memilih berbagai layanan atau

cloud dari provider yang fitur berbeda. Misalnya, platform cloud tertentu dapat menangani

re uest per unit waktu dalam jumlah besar tapi transfer data rata-ratanya tidak besar. Sementara platform cloud lain mungkin akan lebih baik kinerjanya untuk re uest per unit waktu bervolume kecil tapi melibatkan data transfer yang besar. Beberapa cloud provider juga menawarkan tool-tool atau kemampuan khusus, misalnya

big data analytics atau machine learning. Perhatikan Dua Isu

ulti cloud, seperti inisiatifinisiatif TI yang signifikan lainnya, melibatkan tantangan.

Pertama-tama, perusahaan harus memerhatikan masalah pemilihan vendor dan migrasi awal, khususnya bagi perusahaan yang akan beralih dari data

center tradisional ke lingkungan multi cloud. Pemilihan vendor harus diikuti dengan pemahaman mendalam terhadap platform cloud yang ditawarkan para vendor, terutama dari sisi perbedaan harga, keamanan, compliance, dan area-area lainnya.

Karena tiap vendor memiliki penawaran dan kemampuan yang berbeda-beda, perusahaan harus memerhatikan tantangan dalam menangani portal pengelolaan dan proses yang berbeda-beda. Para CIO harus memastikan

compliance, cara pengamanan lingkungan cloud dari ancaman, dan membandingkan berbagai tawaran harga dan opsi billing dari setiap provider.

Tantangan kritis lainnya adalah membangun model tanggung jawab bersama antara organisasi TI dan penyedia layanan cloud. Adalah penting untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan kontrol dan proses keamanan, baik dari perspektif

compliance maupun security. Kepada Computerweekly. com, Tom McAndrew, CIO Coalfire, memaparkan betapa seringnya ia melihat organisasi TI yang hanya memerhatikan tempat penyimpanan data tapi tak cukup memberi perhatian pada pengakses data-data tersebut. Hal ini adalah satu contoh ketidakpahaman tanggung jawab bersama sehingga solusi cloud yang diimplementasikan tidak terkonfigurasi dengan benar.

Kemudahan memperoleh layanan cloud juga berpotensi menimbulkan shadow yang dapat mengundang ancaman signifikan di sisi keamanan maupun kepatuhan. enkat

amasamy, Chief Operating Officer, FileCloud seperti dikutip dari Computerweekly.com menyarankan agar perusahaan meningkatkan visibilitas terhadap semua cloud instances dan services. Setelah itu, perusahaan harus menentukan sistem dan alert terotomatisasi yang dibutuhkan untuk memberi notifikasi kepada tim keamanan ketika terjadi potensi risiko. IK

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.