“Semua Takut Akan Ketidakpastian”

Intisari - - Jeda -

Orang-orang yang pergi ke peramal sesungguhnya sangat bisa dipahami. Pada dasarnya semua manusia mencari kepastian dan tidak ada yang suka dengan ketidakpastian. Dunia ini makin uncertain, sehingga dapat dipahami jika orang ke peramal untuk mendapat hint “what should I do”.

Sebenarnya bukan masa depannya yang ditakutkan, tapi ketidakpastiannya. Sesuatu di masa depan, karena belum terjadi, maka sifatnya tidak pasti. Nah, untuk mengurangi kecemasan itu orang-orang ini berusaha memperjelas uncertainty- nya dengan mencari certainty lewat peramal.

Kecemasan bisa dihilangkan dengan membuat pengalihan. Hedonism misalnya. Dengan mencari entertainment, juga merupakan salah satu yang digunakan masyarakat untuk “melupakan sesaat” kecemasan mereka.

Antara ke entertainment dengan peramal memang sama-sama bertujuan “melupakan sesaat” kecemasan. Bedanya, kalau ke entertainment si pelaku tidak menghadapi masalah yang dipikirkan dan sifatnya hanya pengalihan. Sementara kalau ke peramal, mereka berusaha in touch dengan masalah tersebut. Misalnya mereka bertanya: bisnis apa yang baik tahun ini? Itulah keresahan mereka. Jadi mereka deal dengan masalah itu meskipun deal- nya dengan melihat masa depan.

Yang dilakukan peramal – juga psikolog - hanya memberikan petunjuk. Penentuan tetap di orang itu, karena pada dasarnya setiap orang punya kapasitas untuk membuat keputusan, dengan atau tanpa peramal. Terkadang kita tidak yakin dengan keputusan kita, apalagi kalau menyangkut keputusan besar. Sehingga yang dibutuhkan adalah assurance, peneguhan. Kalau sudah ada assurance, tanpa ke peramal sekalipun dia akan memilih itu. Antara assurance dan uncertainty ini terkait. Semakin merasa tak pasti kita semakin membutuhkan assurance. Jika tidak ada assurance kita makin cemas. Berputar-putar di situ saja.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.