Gusi Dipijat Badan Jadi Sehat

Awalnya cuma hendak merawat gigi. Ternyata pijatan di gusi yang terjadi selama proses perawatan, bisa mengenyahkan keluhankeluhan seperti migrain, vertigo, sinusitis dan asma alergi.

Intisari - - Halaman Depan - Penulis : Dr. Haryono Utomo , drg., Sp.Ort Klinik Spesialis Terpadu, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Surabaya. Fotografer : Bhisma Adinaya

Saya adalah penderita asma alergi sejak usia 8 tahun. Segala pengobatan ilmu kedokteran konvensional maupun alternatif misalnya akupuntur dan mencoba makanan tradisionil seperti bekicot telah dicoba. Bahkan berbagai upaya pribadi seperti tidur menungging, belajar akupresur secara mandiri juga telah dilakukan. Akan tetapi sesak napas masih sering kambuh. Apalagi kalau mencium bau menyengat atau rokok. Tapi yang paling membuat stres, dokter berkata, asma alergi tak bisa hilang total dan diderita sampai usia tua.

Saat saya berusia 43 tahun, gigi geraham atas yang pernah dirawat saluran akar giginya ternyata bengkak. Karena perawatan ulang gigi termasuk sulit, disarankan untuk reseksi apeks gigi yaitu pemotongan ujung akar gigi yang terinfeksi. Ternyata selain bengkak hilang, gejala asma alergi makin berkurang dalam beberapa minggu.

Dari pengalaman ini penulis berasumsi, sangat mungkin gejala asma alergi terdahulu berhubungan dengan infeksi. Tapi karena belum ada penelitian yang mendukung, maka asumsi tersebut belum meyakinkan.

Manual lebih efektif

Awal penemuan masase saku gusi (terapi assisted drainage) terjadi kebetulan. Pada 1996, seorang pasien pembersihan karang gigi melaporkan, beberapa jam setelah perawatan, gejala vertigonya hilang. Sejak saat itu sebelum melakukan pembersihan karang gigi, penulis selalu bertanya kepada pasien apakah memiliki riwayat vertigo, migrain, dsb.

Temuan lain ternyata cukup menakjubkan. Berbagai gejala penyakit lain seperti nyeri haid, tangan kesemutan, pilek (rinitis) dan sulit tidur nyenyak ikut berkurang bahkan hilang. Pada pasien usia 7 tahun dengan gejala sinusitis, tindakan pembersihan karang gigi manual ternyata mampu mengurangi hidung buntu dalam hitungan menit dan pasien berhasil buang ingus yang sebelumnya sangat sulit. Setelah itu gejala klinis sinusitis jauh berkurang.

Seperti diketahui, pembersihan karang gigi bisa dilakukan dengan cara manual serta menggunakan alat elektrik berpendingin air. Ternyata terapi manual terbukti lebih efektif, sebab ketiadaan pendinginan justru mengurangi pelebaran pembuluh darah kapiler.

Bagaimana sesungguhnya terapi ini bekerja? Pada prinsipnya, pembersihan plak gigi di dalam gusi menyebabkan penekanan berulang sehingga timbul efek masase pada jaringan gusi. Masase juga menyebabkan darah keluar

secara pasif ( assisted) sehingga meningkatkan suhu lokal yang melebarkan pembuluh darah. Aliran darah keluar ( drainage) disertai berbagai produk radang dan toksin dari dalam gusi sehingga mengurangi keradangan setempat.

Antara rongga mulut dan hidung memang saling berhubungan. Prinsipnya, gusi rahang atas mempunyai persarafan yang sama dengan hidung yaitu saraf maksilaris. Saraf sensoris ini berhubungan pula dengan ganglion sphenopalatina (SPG) serta ganglion parasimpatis yang mengatur tonus, yaitu tegangan pembuluh darah hidung.

Terapi ini ternyata juga efektif untuk kasus gingivitis kronis dimana terjadi keradangan yang menjalar lewat jaringan saraf. Gingivitis kronis dapat terlihat dari gusi yang kemerahan, kadangkala kebiruan dan mudah berdarah tapi tidak nyeri. Keradangan ini sebenarnya akibat adanya interaksi sel imun dan jaringan saraf yang disebut mekanisme neurogenic switching atau mast cell-nerve interaction, hingga akibatnya radang menjalar ke rongga hidung.

Dengan terapi, gejala hidung buntu akibat peradangan juga berkurang. Hidung menjadi lega dan gejala asma alergi yang terkait radang hidung juga berkurang, konsep ini sesuai dengan terapi “one airway-one disease”.

Ada juga temuan menarik, ternyata hasil uji faal paru penderita asma alergi yang kurang baik berkorelasi kuat dengan banyaknya plak gigi. Sehingga sangat mungkin plak gigi berhubungan dengan keparahan asma. Karena itulah pembersihan plak gigi diperkirakan dapat membantu mengurangi gejala asma.

Hidung yang buntu

Radang yang terjadi di salah satu organ, misalnya hidung dapat menjalar ke paru, demikian pula dari gigi dan gusi dapat menjalar ke organ-organ lain, karena salah satu faktor sistem pertahanan tubuh yaitu sistem imun mukosa ( common mucosal immune system). Sistem pertahanan ini secara umum terdapat di bawah kulit atau langsung di permukaan jaringan tidak berkulit seperti hidung, paru, mata, mulut, dll. Dan sistem ini saling berhubungan, sehingga kelainan salah satu organ, misalnya sinusitis, dapat memperparah asma.

Jalur persarafan yang sama juga membuat hubungan bisa terjadi. Contohnya radang jaringan gigi dan mulut yang dapat menjalar ke hidung. Sebab persarafan keduanya sama, yakni saraf trigeminus, sementara untuk hidung adalah nervus maksilaris yang juga mensarafi jaringan gusi dan gigi rahang atas. Nervus maksilaris juga berhubungan dengan ganglion sphenopalatina, ganglion parasimpatis yang terletak di rongga hidung

Kebiasaan manusia dalam mengunyah maupun bruksism (mengunyah saat tidur), bisa menyebabkan spasme atau kekakuan otot pengunyah.

dan berfungsi mengatur tonus rongga hidung. Jika tonus hidung terganggu, akibatnya hidung menjadi buntu.

Hidung buntu juga bisa terjadi akibat gangguan otot pengunyahan. Seperti diketahui, otot pengunyah dipersarafi oleh nervus trigeminus, sama dengan jaringan gingiva, gigi, dan rongga hidung. Itulah sebabnya ketidakseimbangan atau kekakuan otot pengunyah dapat mempengaruhi rongga hidung. Kebiasaan manusia dalam mengunyah maupun bruksism (mengunyah saat tidur), bisa menyebabkan spasme atau kekakuan otot pengunyah. Pada pasien dengan gejala pilek, sinusistis dan asma, juga sering terjadi kekakuan otot ini.

Terapi pemijatan otot pengunyahan dapat dilakukan pasien sendiri di rumah. Dari pengalaman klinis, setelah dilakukan pemijatan 2-3 menit pada otot pengunyah yang kaku, yaitu pada titik A (terletak dibawah tulang pipi dan dibatasi oleh kedua ujung atas tulang rahang bawah) dan B (otot pipi). Setelah pemijatan, setelah beberapa menit hidung dapat lega. Pemijatan daerah C ( gusi atas) dan D ( leher) dapat ditambahkan, bila pemijatan pada A dan B kurang berhasil.

Fenomena tersebut dapat terjadi karena otot pengunyah mendapat persarafan sensoris dari nervus trigeminus dan juga saraf parasimpatis. Bila terjadi spasme otot pengunyah maka dapat menjalar ke rongga hidung sehingga menyebabkan gejala hidung buntu

Keberhasilan terapi dapat dievaluasi dengan mudah dengan metode ”tiup kertas” sebelum dan sesudah terapi, yaitu dengan menutup mulut dan salah satu lubang hidung kemudian berusaha meniup

potongan kertas kecil dengan ukuran 2 X 10 cm.

Apabila hidung buntu maka udara yang terhembus lebih sedikit sehingga butuh kekuatan meniup yang kuat agar kertas bergerak, setelah hidung lebih longgar maka tiupan ringan akan menggerakkan kertas tersebut. Evaluasi yang lebih akurat adalah menggunakan pulse/ oxymeter, alat ini menunjukkan ratio saturasi oksigen (%) dan denyut nadi. Makin tinggi saturasi oksigen (SaO ) disertai denyut nadi

2 yang tidak terlalu tinggi, misalnya 100/70 (SaO /denyut nadi),

2 akan lebih baik daripada 100/95. Keberhasilan terapi ini telah terbukti dengan suatu penelitian yang dilakukan pada 150 pasien.

Merangsang sistem imun

Migrain, vertigo, sinusitis dan asma alergi sangat berhubungan dengan saraf sensoris pada daerah kepala, yaitu saraf trigeminus, khususnya saraf maksilaris yang terdapat pada rahang atas dan hidung. Di kepala dan dalam tengkorak, terdapat kelompok pembuluh darah yang juga berhu-bungan dengan saraf sensoris, istilah medisnya adalah sistim trigeminovaskuler.

Gangguan pada sistim ini akan menyebabkan migrain dan vertigo, sedangkan peningkatan sensitivitas saraf sensoris pada hidung yang dapat berasal dari keradangan dalam rongga mulutdapat meningkatkan gejala sinusitis dan asma alergi, Karena itu, sangat logis bahwa dok-

ter gigi dapat mengurangi gejala penyakit tersebut dengan perawatan kedokteran gigi.

Asma alergi bukan hanya disebabkan hipersensitivitas atau kepekaan terhadap alergen, misalnya telur, susu dan berbagai produknya. Konsep alergi terdahulu berkaitan dengan hipersensitivitas yang berhubungan dengan produksi imunoglobulin E (IgE) berlebihan sehingga menyebabkan aktivasi sel imun (misalnya sel mast dan basofil) serta mengeluarkan berbagai bahan penyebab reaksi alergi misalnya histamin dan leukotrin. Dewasa ini, peran jaringan saraf makin diperhatikan, terutama pengaruh kepekaan terhadap bahan kimia atau bau-bauan yang menyengat, disebut Multiple Chemical Sensitivity (MCS).

Rangsangan pada jaringan saraf sensoris dan sel imun dapat bekerjasama memperparah reaksi alergi sehingga keduanya perlu dirawat. Menurut berbagai penelitian, toksin bakteri plak gigi dapat merangsang sel imun, kemudian produk sel imun antara lain histamin dan enzim dapat merangsang ujung sel saraf sensoris. Sel saraf sensoris yang teraktivasi akan mengeluarkan berbagai bahan kimia yang disebut neuropeptida yang kemudian akan mengaktivasi sel imun; akibatnya terjadi ”lingkaran setan” yang berkelanjutan, hanya berhenti bila salah satu komponen dikurangi atau dihilangkan.

Pemijatan otot pengunyahan (A dan B)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.