Personal Finance

Abai Dana Darurat, Keuangan Bisa Sekarat

Intisari - - Daftar Isi - Penulis : Arnaldi Nasrum Fotografer : Bhisma Adinaya

Hal-hal yang tak terduga sering kali membuat rencana keuangan menjadi berantakan. Seseorang bisa saja mengorbankan alokasi dana kebutuhan rutin atau bahkan harus berhutang dengan bunga yang sangat tinggi. Padahal, jika memiliki dana darurat, kondisi kondisi keuangan akan aman hingga kapanpun.

Menyusun perencanaan keuangan tanpa memasukkan dana darurat ibarat merencanakan perjalanan menggunakan mobil tapi tidak menyiapkan ban serep. Bisa jadi perjalanan lancar tanpa mengalami ban bocor. Kita lalu berpikir, ah apa gunanya ban serep?

Akan tetapi, ketika mengalami ban bocor dan jauh dari bengkel tambal ban, barulah kita menyadari betapa pentingnya membawa ban serep. Begitu pula dengan dana darurat.

Seperti perjalanan menggunakan mobil tadi, kita tidak dapat mengetahui kapan hal-hal tak terduga terjadi. Entah itu kehilangan pekerjaan ataupun musibah yang membutuhkan uang dalam jumlah besar.

Tanpa ada dana darurat, ketika mengalami musibah yang membutuhkan uang, biasanya kita akan berhutang. Entah berhutang ke saudara (dengan menyingkirkan rasa malu kadang-kadang) atau berhutang ke kartu kredit. Yang terakhir itu kalau tidak disikapi secara bijak bisa membuat kita terjebak pada hutang konsumtif dengan bunga yang tinggi.

Nah, sungguh disayangkan jika perencanaan keuangan yang telah kita susun sedemikian rupa harus berantakan karena tidak memiliki dana darurat saat mengalami musibah. Padahal, jika dipersiapkan dengan baik, dana darurat akan menjamin pengelolaan keuangan kita. Semua akan aman, apa pun kondisi yang dihadapi!

Tidak ada rasa malu

Pandji Harsanto, Senior Advisor di Firma Perencanaan Keuangan OneShildt Financial Planning mengungkapkan, dana darurat memiliki dua fungsi utama yang dapat menjamin masa depan seseorang.

Pertama, dana darurat dapat menjaga kondisi keuangan dari ketidaksiapan menghadapi hal-hal yang tidak direncanakan. Perlu dipahami, hal-hal yang tak terduga sering kali tidak kalah pentingnya dengan kebutuhan rutin. Namun, adanya dana darurat membuat kita dapat mengatasi keperluan yang mendesak. Kita tak perlu meminjam pada pihak lain. Apalagi berhutang dengan bunga yang sangat tinggi.

Kedua, dana darurat melindungi investasi masa depan. Caranya adalah dengan menjamin kondisi saat ini. Sejauh pengamatan Pandji, sebuah keluarga akan sangat sulit melakukan investasi masa depan jika kondisi saat ini saja tidak aman. Jadi, kondisi masa depan bergantung pada apa yang kita alami saat ini.

Secara umum, menurut Pandji, perencanaan keuangan dibuat dalam tiga tujuan jangka waktu: jangka pendek ( hingga dua tahun), jangka menengah (3-5 tahun), dan jangka panjang (di atas 5 tahun). Nah, dana darurat tersebut dapat mengamankan seseorang untuk sampai dengan selamat pada tujuan keuangannya. Hal ini karena kebutuhan dan pendapatan seseorang setiap tahunnya bisa saja berbeda-beda.

Kondisi keuangan orang yang tidak memiliki dana darurat sangat rentan. Pandji sering menyebut mereka sebagai orang yang tidak mandiri secara finansial. Mereka sama saja tidak displin dalam mengelola keuangan. Selain berhutang, mereka menjual aset untuk mengatasi masalahnya. “Makanya kami juga sering menyebutnya orang yang tidak punya rasa malu,” tegas Pandji.

Selain itu, seseorang juga biasanya akan mencairkan dana investasinya ketika tidak memiliki dana darurat untuk mengantisipasi kebutuhan yang mendesak. Rencana investasi pun menjadi terganggu.

Minimal enam kali pengeluaran

Namun perlu dipahami, dana darurat berbeda dengan asuransi. Menurut Pandji, dana darurat adalah dana tunai yang sudah siap di tangan dan kapan saja dapat digunakan. Sedangkan asuransi adalah perlindungan berupa jaminan yang memerlukan proses klaim dan waktu yang tidak singkat.

Sebenarnya, ketika seseorang telah memiliki penghasilan, maka ia sudah seharusnya menyusun dana darurat. Namun, kebanyakan orang tidak menyadari hal tersebut. Kalaupun menyadarinya, mereka mungkin tidak mengetahui berapa dana yang harus dialokasikan.

Pandji menjelaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan dalam menyusun dana darurat adalah menghitung ketersediaan aset lancar. Yang dimaksud aset lancar adalah aset yang sangat mudah dicairkan. Contohnya, tabungan di bank, deposito, dan emas logam mulia.

Kecukupan dana darurat jika total keseluruhan aset lancar tersebut adalah enam kali dari total pengeluaran bulanan keluarga. Jika tidak memiliki tanggungan keluarga, maka yang dihitung adalah pengeluaran bulanan pribadi. Dana ini akan menjadi jaminan agar kebutuhan bulanan tersebut tetap dapat terjaga.

Namun, jika dana tersebut belum cukup, kita perlu kembali

Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam menyusun dana darurat adalah menghitung ketersediaan aset lancar, seperti tabungan di bank, deposito, dan emas logam mulia. Pandji Harsanto - Senior Advisor Perencanaan Keuangan

memprioritaskan kebutuhan dan menyesuaikan dengan pendapatan. Yang paling penting adalah mengecek apakah kita memiliki tanggungan hutang konsumtif atau tidak. Jika iya maka segera lunasi hutang tersebut. Selanjutnya, menurut Pandji, diperlukan tabungan pada rekening yang terpisah dari rekening operasional bulanan. “Jumlahnya hingga minimal tiga kali pengeluaran bulanan dan kemudian nantinya dapat ditingkatkan menjadi enam kali,” jelas penulis buku Make Your Own Plan tersebut.

Untuk memulai dana darurat ini, awalnya kita bisa mengumpulkan 30% dari dana darurat ideal. Pandji memisalkan, pengeluaran bulanan termasuk KPR atau utang lainnya sebesar Rp10 juta per bulan. Artinya, dana darurat ideal yang dimiliki adalah Rp60 juta. Dengan situasi seperti ini, setidaknya kita telah memiliki 30% dari angka tersebut, yakni Rp18 juta. Nah, ketika memiliki Rp18 juta tersebut, kita sudah dapat memulai investasi dan terus menambah dana darurat hingga nilai idealnya tercapai.

Untuk memulai dana darurat kita bisa mengumpulkan 30% dari dana darurat ideal.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.