MENOLONG SESAMA DENGAN Berbisik

Intisari - - Jeda - Penulis: Inggrid Namirazswara, kontributor Intisari

Cukup dengan berbisik, kita bisa menolong orang lain. Ya, beginilah cara kerja bioskop bisik. Kita bisa membantu kaum tunanetra untuk menikmati filmfilm favorit mereka dengan membisikkan adegan yang tidak dapat mereka saksikan. Di bioskop ini orang boleh berbisik, asal jangan terlalu berisik.

Keterbatasan penglihatan terbukti bukan pengalang bagi kaum tunanetra untuk dapat menikmati sebuah karya seni. Ini dibuktikan dengan kegemaran orang-orang dengan keterbatasan penglihatan ini namun tetap suka menonton film. Memang bukan menonton secara visual, namun mengikuti jalan cerita dan merasakan keseruan-keseruan adegan lewat bioskop bisik.

Bioskop bisik memang sebuah pengecualian. Paling tidak, terhadap aturan standar di gedung-gedung bioskop agar penonton tidak berbicara selama pertunjukan film. Di sini yang terjadi, para relawan justru harus selalu bercerita tentang deskripsi adegan serta alur cerita yang ada di layar. Tujuannya tentu agar kaum tunanetra itu mengerti dan dapat merasakan emosi dalam film yang tengah ditontonnya.

Peran para relawan ini besar sekali, terutama saat film menyajikan adegan-adegan tanpa dialog yang hanya bisa dipahami penonton jika melihat langsung. Cara penyampaiannya juga harus menyesuaikan dengan situasinya yang tidak merusak suasana menonton. Misalnya ada adegan orang terpeleset kulit pisang, maka pendamping akan berbisik, “Barusan tuh si Dadang jatuh terpeleset.”

Tak lama muncul suara di film, “Mangkanya, kalau buang kulit pisang jangan sembarangan.” Di situlah akhirnya para penonton bisa sama-sama tertawa.

Dialog usai nonton

Sebenarnya banyak permintaan dari kaum tunanetra untuk memutar judul-judul film tertentu. Tapi kata Cici Sucianti, penggagas kegiatan ini, mereka hanya memilih film-film yang tidak begitu rumit. Dari sisi bahasa, misalnya. Film yang diputar setidaknya harus berbahasa Indonesia, bukan bahasa daerah. “Agar si pendamping tidak kesulitan mendiskripsikan cerita,” tutur Head of Social Media and Digital Activation dari Think.Web.

Acara yang digagas Think.Web, Fellowship of Netra Community (Fency), dan Yayasan Mitra Netra ini mulai bergulir sejak 17 Januari 2015. Film pertama yang diputar adalah Janji Joni, karya sutradara Joko Anwar. Kebetulan Sang Sutradara juga turut hadir di acara pemutaran yang diadakan di Galeri Indonesia Kaya ini. Bahkan Joko sempat berdialog dengan penonton usai pemutaran. Tentu saja para penonton semakin antusias.

Sejak itulah kegiatan bioskop bisik terus bergulir, hingga total sepanjang 2015 sudah berlangsung lebih dari 10 kali pemutaran. Beberapa film yang sudah diputar

antara lain Kapan Kawin, Filosofi Kopi, Tanah Mama, Cita-citaku Setinggi Tanah, Cahaya dari Timur: Beta Maluku sampai film perjuangan seperti Hos Jendral Soedirman dan Tjut Nyak Dien. Tempat terselenggaranya nonton bareng ini pun beragam, mulai dari Galeri Indonesia Kaya, Paviliun 28 sampai di Istana Negara dalam rangka Hari Film Nasional yang diawali dengan sambutan oleh Presiden Joko Widodo.

Yang menarik, tidak hanya memutar film dewasa, bioskop bisik juga pernah mengadakan acara pemutaran untuk anak-anak tunanetra. Pendampingnya juga anak-anak sebaya mereka.

Sejauh ini jumlah penonton bioskop bisik amat beragam, bergantung kapasitas tempat terselenggaranya acara. Paling banyak ketika di Galeri Indonesia Kaya dengan 50 penonton yang rata-rata berasal dari Yayasan Mitra Netra. Menariknya, usai acara nonton, biasanya juga diadakan acara tanya jawab bersama bintang tamu yang hadir seperti sutradara atau para pemainnya.

Menikmati film secara utuh

Keberadaan bioskop bisik tentu disambut gembira kaum tunanetra yang selama ini kesulitan menikmati film secara utuh. Suryo Tramono, 34 tahun, misalnya, sering tidak dapat memahami adegan-adegan dalam film, terutama yang tanpa dialog. Memang dia tidak pernah menonton sendiri, tapi terkadang teman pendamping itu justru malah serius menonton sehingga lupa membisik. “Adanya pendamping membuat jalan cerita film jadi utuh tergambarkan,” tutur pria yang penglihatannya hilang di usia 19 tahun akibat glaukoma ini.

Karena pada dasarnya hobi nonton, Suryo tidak pernah absen dalam setiap penyelenggaraan bioskop bisik. Film-film favoritnya berjenis action, komedi, juga drama. Aktor idolanya Nicholas Saputra dan Reza Rahadian karena pendalaman aktingnya bagus. Christine Hakim dianggapnya menjadi aktris legendaris yang sukses berperan dalam film-filmnya. Untuk sutradara kesukaannya, dia pilih Joko Anwar.

“Walaupun saat menonton kita ada beberapa yang terlewatkan, ya dinikmatin saja,” ucap pria yang juga suka menonton DVD, main musik, dan mendaki gunung ini.

Begitu pula Sugiyo, pria kelahiran 1968 ini, yang sudah hobi menonton bioskop sejak SMA di Pemalang Jawa Tengah. Kini film favoritnya adalah Ketika Cinta Bertasbih sedangkan bintang film idolanya Dedi Mizwar dan Christine Hakim. “Saya bisa ‘melihat’ mereka lewat cara bicaranya. Saya melihat dengan hati, bahwa mereka adalah artis yang bagus,” tutur pria yang pertama kali menonton film Catatan Si Boy, akhir dekade 1980-an bersama teman SMA sebagai pendampingnya.

Tak peduli cantik

Di bioskop bisik, idealnya memang satu relawan mendampingi satu penonton. Hanya saja terkadang ada relawan yang beralangan, sehingga pernah terjadi satu relawan mendampingi tiga orang.

Siapa pun bisa jadi pendamping. Tidak harus berwajah menarik

atau suara lembut, tapi cukup luangkan waktu selama 3 jam dan harus aktif berbisik. Keaktifan ini bukan berarti harus ceriwis menceritakan setiap adegan, melainkan aktif menyampaikan jalan cerita beberapa adegan yang tidak bisa didengar, misalnya interaksi para tokoh yang tanpa suara.

Kaum tunanetra itu juga tidak mempersoalkan siapa yang mendampinginya, asalkan bisa. Padahal bisa saja wajah pendampingnya cantik, public figure, bahkan dari Abang None Jakarta sampai kalangan artis. “Mereka tidak peduli karena mereka kan cuma bisa dengar suara saja,” papar Cici.

Bukan hanya kaum tunanetra yang gembira, para pendamping juga tampak suka cita. Seperti penuturan Jullie Estelle Gasnier yang merasa senang dan terhormat dapat menjadi pendamping. Bagi aktris dan selebritas ini, bioskop bisik sangat inspirasional dan mulia karena dapat memberi akses kepada kaum difabel tunanetra untuk menikmati karya-karya perfilman Indonesia.

“Awalnya sedikit sulit karena tidak terbiasa menjelaskan dan mendeskripsikan adegan film sembari filmnya berjalan, dan juga takut kurang jelas tapi lama-lama terbiasa dan akhirnya nyaman,”

Film Indonesia harus dinikmati semua orang, tak terkecuali kaum tunanetra.

tutur Jullie yang mengaku beruntung mendapat partner difable tunanetra yang sangat menyenangkan dan ramah.

Sama halnya dengan yang diceritakan Cathy Sharon, menjadi pendamping merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan, mengharukan, menginspirasi, dan tidak terlupakan. Berbagi kasih serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk dapat menikmati film, memberikan rasa kebahagiaan untuknya. “Film Indonesia harus bisa dinikmati oleh semua orang,” tandas selebritas yang sangat mendukung acara bioskop bisik ini.

Dapat dikatakan bahwa bioskop bisik tidak hanya terbatas pada acara menonton bersama saja, melainkan sebuah gerakan berbagi. Semakin banyak yang membuat acara seperti ini, maka semakin baik bagi kaum difabel tunanetra untuk dapat menikmati berbagai kegiatan tanpa keterbatasan.

Antusiasme kaum

tunanetra sudah terasa sejak pertama

memasuki bioskop.

Sesekali juga

diputar film untuk anak-anak

tunanetra.

Untuk menjadi relawan syaratnya harus aktif berbisik dan tidak asyik menonton sendiri.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.