DYNAND FARIZ: Jember Fashion Carnaval AWALNYA REUNI KELUARGA

Intisari - - Perspektif - Penulis: Ujang Sarwono, di Jember Fotografer: Yosef Tri Nugroho

Kebiasaan untuk bertemu antaranggota keluarga inilah yang menjadi awal lahirnya JFC. Setiap kali Idul Fitri, keluarga besar Dynand Fariz memiliki kebiasaan mengadakan reuni keluarga untuk saling bertemu dan melepas rindu. Maklum, sebelas saudara kandung Fariz, begitu panggilan akrabnya, tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Waktu untuk bertemu satu sama lain sangat terbatas oleh jarak dan waktu.“Saya memiliki sebelas saudara kandung. Ada yang tinggal di Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Hanya saat Idul Fitri kami bisa berkumpul,” cerita Fariz.

Sesuatu yang baru memang akan terasa menyenangkan, namun jika sudah terlalu sering akan membuat bosan. Begitulah yang dirasakan dalam reuni keluarga besar Fariz. Dari tahun ke tahun semakin sedikit saudarasaudaranya yang pulang ke Jember dengan berbagai alasan. Hingga akhirnya, Fariz yang memang memiliki ketertarikan dalam hal mengelola acara, memiliki ide yang unik untuk mengembalikan minat saudarasaudaranya mengadakan reuni.

Saat itu Fariz membuat “acara

baru” dalam ajang reuni keluarga. Mulai dari tema acara, prosesi penyambutan tamu, dress code, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya, agar reuni lebih menarik. “Saya merancang acara reuni keluarga layaknya resepsi kenegaraan. Bahkan kami juga menyanyikan lagu Indonesia Raya,” kenang Fariz.

Awalnya karnaval keluarga

Cara yang dilakukan Fariz akhirnya membuahkan hasil. Tahuntahun berikutnya acara reuni keluarga semakin ramai. Dari hanya tiga puluhan anggota keluarga, akhirnya mencapai empat ratus anggota keluarga. “Saya melibatkan semua anggota keluarga dari Bapak dan Ibu agar acara menarik.”

Puncaknya, keluarga besar Fariz mengadakan karnaval keluarga pada saat Idul Fitri. Dengan mengenakan pakaian Idul Fitri pada umumnya, mereka menyusuri gang-gang dan jalan-jalan sekitar kediaman keluarga besar Fariz. Peristiwa inilah yang menjadi awal kelahiran JFC.

Tidak puas sampai di situ, Fariz mulai berpikir untuk sebuah karnaval busana yang tidak hanya diikuti oleh anggota keluarganya. Pada 2002, lahirlah sebuah konsep karnaval busana. Namun dia mengakui, awalnya sulit untuk menjelaskan kepada calon peserta dan masyarakat tentang arti karnaval. “Kebanyakan karnaval dikenal sebagai bentuk arak-arakan atau parade, namun secara konten fashion tidak banyak orang tahu,” tutur pria yang pernah mengenyam pendidikan fashion di Paris ini.

Mulailah Fariz mengenalkan fashion secara perlahan kepada calon peserta. Baru kemudian berlanjut mengenalkan tema karnaval. Hingga akhirnya pada 2003, dengan tema CowBoy, Punk dan Gypsy untuk pertama kalinya JFC digelar. Kebetulan acara tersebut diadakan bertepatan dengan hari jadi Kota Jember, 1 Januari.

Karnaval di bawah hujan deras

Gelaran pertama JFC tidak berlangsung mulus. Sesaat sebelum acara dilakukan dengan persiapan yang matang, ternyata cuaca malah tidak bersahabat. Langit mendung, dan saat karnaval berlangsung, hujan turun begitu deras. Namun Fariz bangga terhadap semangat peserta dan penonton. “Saya melihat banyak dari mereka mengacungkan jempol sebagai bentuk dukungan,” ungkap Fariz.

Fariz mengaku masih banyak kekurangan dalam penyelenggaraan JFC pertama. Salah satunya, dia hanya mampu menyewa dua buah panggung berukuran 6x6 m tanpa dekorasi. Kala itu juga tidak ada satu pun media massa yang meliput.

Namun pengalaman pertama itu justru membuat Fariz makin bersemangat dan termotivasi untuk terus menggelar JFC. Dia menangkap sebuah fenomena kegairahan dari masyarakat.

Dari pengalaman JFC pertama, Fariz mulai mengevaluasi. Pertama, mengubah jadwal pelaksanaan acara, dari Januari yang memang rawan hujan diubah menjadi Agustus. Alasan lain sebenarnya karena Agustus juga merupakan jadwal libur Fariz yang menjadi dosen di ESMOD, Jakarta.

Keterbatasan ternyata juga masih kental pada penyelenggaraan JFC kedua. Fariz memang sangat menghindari pembuatan proposal ke pihak-pihak tertentu yang sifatnya meminta bantuan dana. Semua dilakukan secara mandiri. Namun pada penyelenggaraan JFC kedua dia benar-benar bangga. “Semua berjalan lancar, cuaca cerah, dan antusias penonton luar biasa. Mereka terlihat terhibur dengan lima tema yang kami tampilkan yakni Arab, Maroko, India, Tiongkok, dan Jepang,” terang Fariz.

Sempat akan dibubarkan

Memasuki JFC ketiga barangkali menjadi tantangan terberat bagi Fariz. Empat hari menjelang show, Fariz harus berjuang menjelaskan kepada anggota dewan Kabupaten Jember. Pemerintah daerah melalui anggota dewan menganggap JFC terpengaruh budaya luar dan akan merusak budaya lokal. Segala persiapan yang dilakukan selama satu tahun serasa sirna.

Namun dengan segala upaya Fariz terus memohon agar diberikan kesempatan berkarya sekali lagi. Hasilnya, ternyata di luar dugaan. JFC ketiga menjadi awal dikenalnya event ini di Indonesia dan dunia. “Saya kaget dan terkejut ketika melihat JFC ada di halaman depan harian Kompas,” cerita Fariz haru.

Sejak saat itulah JFC menjadi dikenal. Penyelenggaraan JFC tahun-tahun berikutnya bahkan selalu diburu bukan hanya dari media lokal, tapi juga nasional dan dunia. Pada 2014 JFC juga mendapat penghargaan dari Menteri Pariwisata Republik Indonesia dalam penyelenggaraan seni pertunjukan.

Diundang oleh Jokowi

Kesukesan JFC rupanya menarik perhatian kepala-kepala daerah lain. Sejak JFC kelima, Fariz diundang langsung oleh Joko Widodo yang saat itu masih menjabat Wali Kota Solo. Dia diberi ruang untuk menggelar karnaval serupa dengan kearifan yang dimiliki Solo, hingga lahirlah Solo Batik Carnival. Menyusul kemudian Banyuwangi dengan nama Banyuwangi Ethno Carnival.

Meski JFC telah mendapat penghargaan dari Indonesia dan dunia namun bagi Fariz apa yang dilakukan sekarang belum ada apa-apanya. Jika dibandingkan dengan karnaval dunia seperti Mardi Gras di New Orleans, AS, atau Rio de Janeiro, di Brazil yang sudah berumur ratusan tahun, keberhasilan JFC selama 14 tahun masih belum ada apa-apanya. “Bagi saya keberhasilan itu tidak akan pernah berakhir. Keberhasilan itu akan terus berjalan,” ungkap Fariz.

Mimpi terbesar Fariz saat ini yakni menjadikan Jember sebagai kota karnaval dunia. Impiannya adalah siaran langsung karnaval dunia bukan dari Brazil atau Amerika, tetapi dari Jember. Semboyannya Indonesia untuk dunia.

Fariz juga menaruh harapan besar bagi generasi muda Indonesia untuk membangun Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki. “Hidup hanya sekali, jangan pernah menyia-nyiakan hidup. Jangan pernah sia-siakan waktu. Bangun karya untuk menembus dunia. Karena siapa pun punya kesempatan untuk hal itu,” pesan Fariz mengakhiri perbincangan sore itu di Kota Jember yang mulai diguyur hujan.

Fariz secara perlahan mengenalkan fashion dan tema karnaval kepada masyarakat, hingga akhirnya pada 2003, dengan tema cowboy, punk, dan gipsy untuk pertama kalinya JFC digelar.

JFC ketiga menjadi awal dikenalnya event ini di Indonesia dan dunia. Penyelenggaraan JFC di tahun-tahun berikutnya kini diburu bukan hanya dari media lokal tapi juga nasional dan dunia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.