Uang tambahan untuk makanan bergizi

Intisari - - Jeda -

Para penganyam itu berusia antara 18 dan 45 tahun. Kebanyakan peladang yang hasilnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Bila gagal panen, mau apa lagi. Nasi ‘ kosong’ pun terpaksa ditelannya. Sudah begitu ditambah dengan kondisi alam di sana yang kurang bersahabat. Para ibu diharuskan naik-turun bukit untuk menggarap ladangnya di bawah terik Matahari. Bagi ibu hamil tentu hal ini sangat berat. Tak jarang mereka mengalami keguguran. “Mereka akan terus bekerja di ladang sampai mereka merasa bayi akan keluar,” ungkap Ayu.

Beruntung jika mereka bekerja ditemani suaminya. Soalnya ada sebuah desa yang hampir setengah dari kaum suami pergi jauh. Mereka mengadu nasib ke Pulau Jawa atau negeri jiran, Malaysia. Jadi mau tak mau, para ibu harus bekerja untuk dapat penghidupan.

Melalui kenyataan itulah Ayu mulai menangkap permasalahannya. Persoalan finansial. Imbasnya, banyak ibu yang tidak bisa memperoleh makanan bergizi. Ironi lain muncul saat proses bersalin. Tak jarang para ibu ‘merelakan’ si calon buah hati untuk ditangani dukun beranak.

Sebelumnya, pemerintah sudah melakukan upaya di balik ihwal ini. Namun, hanya terfokus pada masalah kesehatan saja. Seperti pelatihan untuk para bidan, pengadaan

Ayu di Desa Dun Tana Lewoingu, menjelaskan alur produksi Du’Anyam.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.