Kepepet dan passion

Intisari - - SOROTAN -

“Saya menikah muda,” seru Jody tentang situasi yang membuatnya kepepet. Usianya baru 23 tahun ketika itu. Meninggalkan bangku kuliah, hingga cita-cita menjadi arsitek juga kandas.

Berbagai jenis bisnis dilakoni Jody. Mulai berjualan parsel, roti bakar, dan susu segar. “Jualan kaus partai juga pernah,” cerita ayah dari tujuh anak ini.

Jody lalu terpikir mengikuti jejak ayahnya yang sukses dengan Obonk Steak. Saat mempersiapkan usahanya, ia teringat penuturan teman-temannya soal steik. Mereka rata-rata menolak makan di Obonk karena harganya tidak sesuai dengan kantong mahasiswa.

Berangkat dari pengalaman ditambah berbagai uji coba bisnis tadi, lahirlah Waroeng Steak & Shake. Saat itu Jody juga mendapat pemahaman: “Bisnis bukanlah menjual apa yang hendak dijual, tapi apa yang akan dibeli orang”. Dalam pemahamannya, yang pasti dibeli orang adalah steik murah.

Jody banyak bereksperimen untuk membuat hidangan rendah bujet itu. Minimnya pengalaman di bidang kuliner membuatnya harus berkalikali mencoba. Ternyata setelah ditemukan formulanya, hasilnya tidak hanya menjawab kebutuhan Jody. Namun juga keinginan target pasarnya, yakni mahasiswa yang kantongnya pas-pasan itu.

Warung pertama berlokasi di teras rumahnya. Cikal bakal Waroeng Group pada tahun 2000 itu diawali dari lima meja saja. Kecil dan sederhana. Maklum, belum ada modal.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.