HIDUP LEBIH BAHAGIA Dengan Asupan Serat

Dulu serat makanan dipandang sebelah mata, namun kini ia makin didamba. Selain memperlancar “hajat ke belakang”, serat juga melindungi kita dari kanker kolon, jantung koroner, dan berbagai penyakit lainnya.

Intisari - - News -

Wajah Braninda Sukma (32) tampak murung. Tak ada rona kebahagiaan di wajah manisnya. Dia ingin sekali makan rendang namun takut sulit BAB. Maklum, sejak lama Braninda mengalami masalah dalam BAB, apalagi jika makan makanan bersantan seperti rendang.

Meski berdarah Priangan, dia tak begitu menggemari sayur-sayuran dan buah-buahan. Braninda lebih menyukai makanan bersantan dan pedas. “Sepertinya kamu kurang asupan makanan berserat,” ucap Heny, sobat karibnya. Braninda pun terenyak dan termenung.

Di sekitar kita mungkin banyak yang bernasib seperti Braninda. Menurut penelitian Kementerian Kesehatan RI, masyarakat kita mengonsumsi serat cuma 10,5 g per hari. Padahal, standar WHO, untuk hidup sehat manusia butuh asupan serat 25-40 g per hari. Yang lebih menyedihkan lagi, buah dan sayur hanya dikonsumsi sebanyak 2,7 g per hari oleh masyarakat kita. Nah, lo!

Membantu pencernaan

Sebelum 1970-an, banyak para pakar kesehatan yang memandang remeh fungsi serat makanan. Hingga akhirnya Dr. Denis Burkit, asal Inggris, lewat penelitiannya bertahun-tahun diAfrika, menengarai besarnya peran serat dalam makanan tradisional masyarakat setempat,yang membuat mereka kebal dari penyakit masyarakat modern, antara lain penyakit jantung koroner,diabetes, usus buntu, wasir, sembelit, dan kanker usus besar.

Kok, bisa? Bukankah serat tak bisa dicerna oleh perut?

Benar. Namun, seperti spons, serat mampu menyedot air dan garam empedu, berikut sisa bakteri pencerna di dalam perut. Hal ini menyebabkan volume feses terbentuk dalam ukuran

normal. Dengan gerakan peristaltik yang wajar, otot usus pun jadi tak perlu bekerja keras mendorong feses mendekati anus. Maka, dengan asupan serat yang terjaga kita akan terhindar dari sembelit.

Sebaliknya, jika tubuh kekurangan serat, masa “parkir” feses di perut jadi lebih lama. Feses butuh beberapa hari di dalam usus (transit time), menunggu limpahan residu makanan yang baru hingga volume feses mencukupi untuk didorong gerak peristaltic otot usus mendekati dubur.

Semakin lama feses ngetem di usus, volumenya makin kecil dan keras. Sehingga usus harus berkontraksi alias kerja keras untuk menggusurnya keluar dari usus besar. Akibatnya, otot perut kian melemah, lalu akan timbul gangguan pencernaan. Selain itu, penyakit wasir siap mengancam karena gesekan keras feses menyebabkan dinding anus terluka.

Bahaya lainnya adalah bebas leluasanya asam dan garam empedu membantu pelarutan asam lemak, kolesterol, dan bahan lain yang sulit larut dalam air agar mudah diserap usus. Seluruh lemak dan gula dihisap usus halus tanpa kesulitan, sehingga tak lama kemudian perut akan lapar kembali dan merangsang kita untuk makan lagi. Akibatnya, terjadilah obesitas dan peningkatan kolesterol dalam darah.

Kadar kolesterol dalam darah yang lepas kendali sewaktu-waktu bisa menyumbat pembuluh darah (aterosklerosis). Ini membuat kita rentan terhadap serangan jantung koroner dan stroke.

Belum lagi, semakin lama feses parkir di dalam usus, kans bakteri merajalela semakin besar. Residu makanan akan terserap kembali ke dalam tubuh, termasuk toksin dan kuman patogen yang terkandungdi dalamnya. Risiko terkena tumor dan kanker usus pun membesar.

Rumput laut sumber serat terbesar

Supaya kita terhindar dari hal yang tidak mengenakkan itu, caranya sederhana. Ya itu tadi, dengan menjaga asupan serat dalam tubuh. Sayur mayur dan buah-buahan bagus untuk menjaga asupan serat tubuh.

Namun, tahukah Anda, kandungan serat paling besar justru bukan di buah atau sayur, melainkan ada di rumput laut (jenis gracilaria) yang diolah menjadi agar-agar. Yuk, kita intip faktanya. 1 apel besar = 4 g serat 1 buah pisang = 3 g serat 1 mangkok brokoli masak = 4,5 g serat

Sekarang bandingkan dengan kandungan serat di agar-agar yang mencapai 81,29%. Artinya, dalam 100 g agaragar terkandung lebih dari 80 g serat!

Agar-agar sendiri sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Di Jepang bahkan sudah dikenal sejak 350 tahun lalu dan dikenal dengan sebutan kanten. Nama ini diberikan oleh seorang pendeta bernama Inken Kenji pada 1654 dan menjadi salah satu menu para pendeta pada waktu itu.

Berbeda dengan serat dari sumber makanan lain termasuk jelly, serat pada agar-agar bersifat ganda. Pertama adalah hidrofilik atau menyerap air. Kedua adalah sineresis atau melepaskan air. Walhasil, selama proses pencernaan, keseimbangan penyerapan air oleh agaragar relatif cepat tercapai, demikian pula pelepasan air relatif mudah terjadi.

Mudah dan praktis

Tak seperti zaman dulu, kini mengolah agar-agar untuk dijadikan konsumsi

Selain menyehatkan pencernaan, agar-agar juga bagus untuk kulit

harian tak terlalu merepotkan. Di pasaran terdapat sejumlah produk tepung agaragar. Satu yang simpel dan direkomendasikan adalah produk keluaran Swallow

Globe yang menggunakan teknologi canggih dari Jepang. Bahan dasarnya adalah rumput laut alami yang diekstrak dalam bentuk tepung. Namanya cukup terkenal yakni Tepung Agar-Agar Swallow Globe Brand.

Jika ingin lebih praktis, sekarang juga ada produk bernama Agarpac, yakni tepung agar-agar instan yang siap diminum disaat masih hangat. Caranya mudah, tinggal seduh dengan air panas 90 C. Bila dibiarkan, nantinya Argapac akan mengeras menjadi agar-agar. Supaya nikmat dilidah, boleh dicampur dengan kopi, teh, ataupun susu panas.

Nah, jika kita membiasakan diri dengan mengonsumsi agar-agar tiap hari, niscaya asupan serat harian akan terpenuhi. Problema seperti dialami Braninda atau gangguan pencernaan lain pun bisa kita hindari. So, hidup jadi lebih bahagia bukan?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.