Menjauhkan cap “biang kerok”

Intisari - - Healthy Life -

Di kantor, tentu kita tak bisa memilih ingin bekerja dengan siapa. Kepinginnya sih, punya rekan kerja yang sehati dan menyenangkan. Namun, kenyataan justru seringkali sebaliknya.

Celakanya, karena otak “lebih suka” yang negatif, kondisi itulah yang memberikan kita sedikit dorongan untuk terlibat di pusaran arus negatif. Padahal, sekali terjun ke dalamnya, justru api energi negatif makin berkobar. “Seperti makan junk food. Awalnya menyenangkan, setelahnya Anda akan merasa sebaliknya,” ujar Cheryl Richardson, life coach, sekaligus penulis You Can Create an Exceptional Life

Menurut Cheryl, aura negatif di tempat kerja sering disebabkan oleh suasana tak kondusif ke arah yang positif. “Mengapa orang di sekitar Anda sering mengeluh? Semua itu dilakukan karena mereka merasa putus asa,” jelasnya. Padahal, selama kita tak melakukan tindakan apapun, maka jangan harap ada perubahan.

Nah, sebagai langkah awal, cobalah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Jika selama ini kitalah yang suka mengeluh, coba ketahuilah penyebabnya. Cari solusinya. Bukan dengan menyebarkan keluhan dan energi negatif itu pada rekan kerja lain. Anda tentu tak ingin dicap sebagai “biang kerok”, bukan?

Salah satu solusi, mungkin bisa dilakukan dengan berbicara terhadap rekan kerja. Hanya saja, pastikan pembicaraan berfokus mencari solusi. Tindakan ini akan mengubah pusaran energi negatif di kantor menjadi positif.

Mengakui kesalahan diri kita terhadap orang lain yang telah menyakiti kita, terkadang juga bisa menjadi solusi terhadap energi negatif di kantor. Kita mengakui kekurangan diri, dan hasilnya lawan bicara kita terbantu untuk mengubah perilakunya sendiri.

Dalam How To Win Friends & Influence People, karya Dale Carnegie & Associates, ada kisah menarik. Namanya

Beth, eksekutif level tinggi di perusahaan dalam lis Fortune 100. Beth sangat disukai para atasan dan timnya, tapi tidak akur dengan koleganya, Harvey.

Beth ingin menjadi pemimpin yang lebih baik. Karena itu ia meminta bantuan seorang executive coach. Kesimpulannya, Beth diharuskan mengibarkan bendera perdamainan dengan Harvey.

Hasilnya? Mata Harvey berkaca-kaca dan mengakui bahwa dirinya juga bersikap tidak terhormat. Mereka pun bersamasama berjanji untuk memperbaiki sikapnya. Sebuah perang pahit yang berkepanjangan pun berakhir, hanya dengan mengakui kesalahan diri.

Soal mengakui kesalahan, para peneliti di Institute for Health and Human Potential meneliti 35 ribu orang, berdasarkan faktor-faktor kemajuan karier mereka. Ternyata yang kerap terkait adalah kemampuan untuk mengakui kesalahan sendiri.

Marshall Goldsmith, executive coach yang membantu kasus Beth pernah berkata, “Tidak ada yang mengharapkan kita benar terus. Namun, saat kita salah, mereka pasti berharap kita mau bersikap ksatria. Dengan begitu, kesalahan adalah sebuah kesempatan untuk menunjukkan pribadi dan pemimpin macam apa kita ini.”

Mulai dari diri sendiri

Bila kita bekerja dengan 20 rekan kerja, tentu ada 20 macam watak yang harus kita hadapi. Semakin banyak rekan kerja, semakin besar pula tantangan untuk membina hubungan sosial. Padahal kalau hubungan profesional-sosial jelek, imbasnya pada hasil pekerjaan.

Memang tak mudah melahirkan energi positif yang instan di lingkungan kantor. Namun, hal itu bisa ditumbuhkan bila kita memiliki kebiasaan yang baik selama di kantor. Contoh sederhananya, dengan menghormati semua rekan kerja. Meski kadang ada perdebatan, semestinya tetap menunjukkan rasa hormat terhadap mereka. Sebab hal ini akan menumbuhkan rasa saling percaya satu sama lain.

Bisa jadi ada sebagian orang yang tidak percaya dengan hubungan pertemanan dan keakraban di lingkungan kantor. Padahal, hubungan baik terhadap rekan kerja dapat membuahkan suasana kerja dan hasil kerja yang baik pula.

Bagi Anda yang kebetulan berhadapan dengan kondisi ini, cobalah untuk mencari cara agar rekanrekan kerja percaya bahwa Anda benar-benar peduli dan ingin mengenal mereka lebih dalam. Singkat kata, untuk menciptakan suasana dan energi positif di kantor, seharusnya dimulai dari diri sendiri.

Jangan patah hati dan putus asa bila belum bisa melihat makna dari pekerjaan kita.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.