/ PERSPEKTIF

Pengalaman Hamil Mendadak Di Brisbane

Intisari - - News - Penulis: Arba’iyah Satriani, di Bandung Olah Digital: Bhisma Adinaya

Menjadi mahasiswa, hamil, dan melahirkan di luar negeri, sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya. Setahun setelah menjalani masa kuliah di Griffith University, Brisbane, Australia, saya ketahuan hamil. Iya, ketahuan, sebab kehamilan itu tidak terduga.

Tahun itu, pernikahan saya memasuki tahun ketiga. Saya dan suami sudah tidak memikirkan lagi tentang anak. Mungkin memang tak akan pernah punya anak.

Akan tetapi, Tuhan berkata lain. Ketika suatu pagi saya pergi ke klinik kesehatan yang berada di kampus dengan keluhan tidak enak

badan, dokter justru mengatakan bahwa saya hamil. Tentu saja hal itu membuat saya terkejut. Lebih kaget lagi, ternyata usia kehamilan sudah memasuki minggu ketujuh.

Sontak saya pun langsung bahagia mendengar kabar kehamilan itu meski dibarengi kecemasan. Pasalnya, saya hidup di perantauan di negeri orang hanya dengan suami dan beberapa teman Indonesia. Saya sempat khawatir pada proses kehamilan dan melahirkan. Bagaimana akan menjalani proses kehamilan tanpa bimbingan orang tua, mertua, atau sanak kerabat terdekat? Apalagi ini adalah pengalaman pertama.

Mengikis kekhawatiran

Kecemasan saya ternyata tidaklah beralasan. Saya menyampaikan kepada dokter kampus, yang bertugas di klinik kesehatan kampus – tempat para mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus berobat bahwa saya tidak tahu harus bagaimana dengan kehamilan tersebut. Apa yang harus saya lakukan, bagaimana proses dan tahapannya.

Dengan segera ia menenangkan saya. “Anda tidak perlu khawatir, kami akan memberi tahu langkah demi langkah yang harus Anda lakukan. Yang penting sekarang, jaga kesehatan dan tetap makan supaya nutrisi masuk ke dalam tubuh,” katanya.

Wow, saya takjub. Saya merasa aman dan nyaman mendengar penjelasannya. Bahkan ketika saya sampaikan bahwa usia saya sudah tidak muda lagi untuk kehamilan pertama ini, ia kembali menenangkan. “Usia Anda masih memadai untuk hamil,” katanya.

Saya menjalani hampir seluruh proses pemeriksaan kehamilan di klinik kampus. Namun ketika kehamilan memasuki usia lima bulan, saya dirujuk untuk melakukan pemeriksaan USG di salah satu laboratorium di luar kampus. Hasil lab menunjukkan, saya mengalami gestational diabetes, atau diabetes saat hamil.

Saya pun harus menjalani pemeriksaan kesehatan lebih intens di rumah sakit rujukan, yakni Mater Mothers Hospital. Kadar gula saya diawasi secara ketat dan harus mengikuti pola makan tertentu demi menjaga kadar gula tetap stabil. Tak sampai di situ, pemeriksaan kadar gula juga harus dilakukan sendiri di rumah setiap kali sehabis makan, seperti setelah makan pagi, siang, dan malam. Kemudian, hasilnya ditulis dalam buku catatan khusus.

Saat melakukan kontrol ke rumah sakit, catatan ini wajib dibawa. Saya juga sempat mendapat obat untuk menjaga kadar gula darah stabil. Singkat cerita, saya merasa sangat diperhatikan oleh paramedis di Brisbane.

Sangat diperhatikan

Tatkala waktu melahirkan tiba, saya hanya perlu menelepon rumah sakit (RS) untuk melaporkan bahwa saya mengalami pendarahan. Mereka kemudian memberikan instruksi hal-hal yang harus saya lakukan sebelum ke rumah sakit. Begitu tiba di RS, petugas administrasi tidak menanyakan apa-apa lagi dan saya dipersilakan untuk langsung masuk ke ruang observasi.

Pertanyaan mengenai data diri, tujuan, dan sebagainya sudah dilakukan ketika saya menelepon. Itu pun tidak lama, hanya beberapa menit saja. Fasilitas di RS Mater Mothers hampir sama dengan fasilitas RS swasta berkelas di Indonesia. Padahal, Mater Mothers Hospital merupakan rumah sakit milik pemerintah.

Secara umun, para petugas administrasi dan paramedis di RS itu ramah dan menyenangkan. Mereka tidak membedakan status pasien yang datang dari berbagai latar belakang, mahasiswi asing, pemukim tetap, pekerja asing, dan tentu saja penduduk setempat. Australia memang negara multikultural, sehingga perbedaan ras maupun kebangsaan tak berpengaruh banyak pada sikap dan layanan secara umum di ruang publik.

Layanan rumah sakit ini menurut saya, juga cukup komplit. Ketika tahu, saya dari Indonesia, yang artinya bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, mereka menawarkan untuk menggunakan penerjemah secara gratis. Layanan penerjemah ini sengaja disediakan untuk para pasien yang membutuhkan bantuan dalam berkomunikasi dengan paramedis di rumah sakit tersebut.

Awalnya saya mengiyakan karena saya pikir yang akan menjadi penerjemah adalah orang Indonesia dan paham istilah medis. Saya memang agak khawatir dengan istilah medis yang kurang familiar di telinga. Tapi ternyata saya keliru. Sang penerjemah ternyata seorang wanita keturunan India dan berbahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia.

Ketika itu saya ingin membatalkan, tapi tidak mungkin karena terlanjur mengiyakan. Akhirnya, saya hanya gunakan untuk dua kali kunjungan. Lantaran saya merasa jasa penerjemah ini tidak terlalu berguna. Selain karena saya paham semua yang dijelaskan oleh paramedis di rumah sakit tersebut, sang penerjemah juga kesulitan untuk menerjemahkan istilah medis. Lebih parah lagi, ia berusaha menjelaskan dalam bahasa Melayu, yang saya sendiri tidak sepenuhnya paham.

Walhasil, kunjungan selanjutnya, saya minta bantuan teman sesama mahasiswi Indonesia yang berprofesi sebagai dokter di Indonesia. Ini malah lebih jelas dan lebih mencerahkan.

Dengan semua layanan dan fasilitas yang diberikan pihak rumah sakit maupun dokter di klinik kampus, membuat saya nyaman menjalani proses kehamilan hingga melahirkan meski jauh dari orang tua. Bahkan, saya tidak perlu membayar sepeser pun alias gratis semua layanan tersebut. Semua dibayar oleh perusahaan asuransi.

Sebelum tiba di Australia untuk menempuh pendidikan master, saya diharuskan membayar sejumlah biaya untuk asuransi kesehatan selama tinggal di Australia. Karena saya mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia yang meliputi di dalamnya pembayaran asuransi, maka kewajiban itu dilakukan oleh pemberi beasiswa. Akan tetapi, saya membayar biaya asuransi tambahan karena suami ikut menemani saya tinggal di Brisbane.

Terus dipantau

Layanan rumah sakit yang ramah dan penuh perhatian tidak hanya diberikan selama kehamilan dan persalinan, namun juga pascapersalinan bahkan hingga sang ibu dan bayinya kembali ke rumah. Hal itu terlihat ketika tiga hari setelah

melahirkan dan kembali ke rumah, saya kedatangan bidan rumah sakit untuk mengecek kondisi bayi.

Layanan ini gratis dan ditawarkan kepada semua ibu yang baru melahirkan. Meski demikian, pasien boleh saja menolak. Namun, saya pribadi mengiyakan karena memang ingin terpantau dengan baik. Maklum, ini merupakan pengalaman pertama punya bayi dan di luar negeri pula.

Kemudian, pada hari berikutnya, bidan datang membawa timbangan bayi. Selain menimbang, sang bidan juga menanyakan berapa sering bayi saya buang air besar dan buang air kecil dalam sehari. Ia juga memeriksa kondisi bayi saya secara menyeluruh, memastikan bahwa warna kuning di dada bayi saya sudah berkurang.

Nah, jika kondisi bayi sudah berangsur membaik, semakin sehat, dan sang ibu sudah tampak bisa menangani hal-hal terkait perawatan bayi, maka bidan tidak akan melanjutkan pemantauan.

Selain itu, hal yang juga mengesankan saya adalah adanya pengecekan mengenai Air Susu Ibu (ASI). Seperti, apakah ASI lancar, apakah ada masalah dalam menyusui, dan sebagainya. Luar biasa! Saya sampaikan bahwa saya tidak ada masalah dengan menyusui maupun produksi ASI.

Jika mengalami masalah dalam hal menyusui atau produksi ASI, pihak rumah sakit menyarankan saya untuk bertemu dan sharing pengalaman menyusui dengan konsultan ASI atau bisa datang ke

komunitas terdekat dari rumah saya. Ia menyebutkan salah satu alamat beserta nomor teleponnya.

Fasilitas yang mendukung

Setelah anak saya lahir, saya memulai kehidupan baru sebagai mahasiswi sekaligus seorang ibu. Saya bersyukur karena banyak bantuan yang membuat peran baru tersebut menjadi lebih mudah, termasuk dalam menyusui.

Australia memang salah satu negara suporter ibu menyusui, sehingga segala fasilitas dimaksimalkan untuk membantu para ibu yang ingin menyusui bayinya. Mulai dari, pelatihan untuk menyusui di rumah sakit, agenagen dan komunitas pendukung ibu menyusui yang tersebar di berbagai wilayah Brisbane, hingga ruang-ruang menyusui bagi ibu di berbagai pusat perbelanjaan.

Fasilitas lainnya adalah desain bus yang dibuat lebih bersahabat untuk para ibu yang membawa kereta bayi atau stroller. Selain bagi penyandang disabilitas, jalanan dan trotoar juga dibuat aman dan nyaman untuk para ibu yang membawa kereta bayi. Lebih

bermakna lagi, ketika mendapati bahwa orang-orang di sana paham bahwa fasilitas tersebut harus diberikan kepada mereka yang berhak.

Sebagai contoh, ruang lapang di dekat pintu masuk bus dipasangi kursi untuk penumpang juga. Namun, saat ada orang yang naik dengan kursi roda atau ibu yang membawa bayi dalam kereta bayi maka otomatis orang yang duduk di kursi tersebut akan berdiri, kursi akan terlipat dengan sendirinya sehingga ruang depan tersebut kosong.

Area kosong inilah yang bisa diisi dengan kereta bayi atau kursi roda. Tentu saja, kereta bayi atau kursi roda tersebut harus disertai rem yang masih berfungsi karena jika tidak, roda-rodanya akan bergerak mengikuti gerakan bus. Umumnya tidak ada masalah, tetapi sesekali supir bus mengerem secara mendadak. Inilah yang perlu diantisipasi dengan rem tersebut.

Menjalani peran sebagai ibu dan mahasiswi juga ada seninya. Kebetulan, ketika anak saya lahir, saya memasuki semester keempat. Jadi, hanya mengerjakan minor thesis. Tidak ada perkuliahan yang harus saya ikuti. Saya hanya perlu ke kampus seminggu sekali untuk bertemu dengan dosen pembimbing.

Biasanya, saya minta ditemani suami, jika kebetulan ia pulang kerja lebih awal. Namun jika tidak, saya tetap membawa bayi saya ke kampus. Setibanya di kampus, saya titipkan bayi saya kepada sesama teman Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S3 atau doktor.

Di Australia, para mahasiswa S3 umumnya dianggap sebagai staf. Jadi mereka mempunyai ruangan khusus untuk melakukan risetnya. Satu ruangan bisa diisi oleh tiga sampai lima mahasiswa. Namun hal itu tergantung dari beberapa hal. Dalam kasus teman saya yang sedang S3 di Griffith University, ia hanya sendirian saja di ruangan khusus itu. Di tempat itulah saya biasa menitipkan bayi saya sekitar 30-45 menit untuk menemui dosen pembimbing.

Dari pengalaman hamil, melahirkan, dan mengurus anak pertama di negeri kangguru, saya mendapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai penanganan anak oleh ibunya secara langsung dan pentingnya ASI. Pengalaman itu sungguh berharga mengingat di Indonesia masih banyak kendala bagi para ibu untuk bisa menyusui anak mereka di ruang publik. Belum lagi “godaan” penggunaan susu formula yang ramai digembar-gemborkan iklan sehingga para ibu merasa kurang pas jika tak melengkapi anaknya dengan susu formula.

Bangunan tampak depan Griffith University, Brisbane, Australia.

Saya (tengah) bersama suami dan teman-teman Indonesia ketika hamil dan berkuliah di Brisbane.

Penampakan bus di Brisbane. Bagian kanan depan bus didesain khusus untuk untuk ditempati kereta bayi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.