/ LANGLANG

Kamakura Kota Eksotis Di Timur Jepang

Intisari - - News - Penulis & Fotografer: Arnaldi Nasrum, Kontributor Intisari

Meski masanya telah berlalu, tapi jejak kejayaannya takkan pernah terlupakan. Belum lagi keindahan alam yang disuguhkannya. Membuat siapa saja ingin mengunjungi kota kebesaran para shogun ini.

Jika sekarang Tokyo identik sebagai kota paling populer di Jepang, Kamakura adalah Tokyo di masa lalu yang masih bertahan hingga kini. “Kamakura merupakan pusat kota Jepang pada masa lalu. Kepopulerannya mungkin melebihi Tokyo sekarang,” ungkap Reina, wanita yang menemani saya mengelilingi Kamakura. Reina adalah rekan orangtua angkat saya selama menjalani program homestay Gerakan Mari Berbagi di Jepang.

Dahulu, Kamakura sangat berjaya sebagai pusat pemerintahan khususnya pada zaman Keshogunan Kamakura di abad ke-11 sampai

abad ke-13. Selain dipadati aktivitas keagamaan dan ekonomi, di kota inilah Shogun (penguasa militer) mengontrol wilayah kekuasaannya. Berbagai bangunan tradisional seperti kuil, museum hingga patung-patung bersejarah menjadi bukti kejayaan Kamakura sejak masa lalu. Tidak heran jika ia kemudian dijuluki Kota Tua Jepang di Timur.

Kamakura terletak di sebelah Barat Laut Tokyo dan termasuk dalam prefektur Kanagawa. Kunjungan saya ke kota ini tepat pada pengujung musim gugur. Saat itu cuaca sudah terasa sangat dingin. Letak Kamakura yang dikelilingi gunung di ketiga sisinya dan pantai di sisi selatannya membuat kota ini tampak tenang dan damai meski pengunjung tak pernah ada habisnya.

Strategi Perang

Berjalan-jalan santai di sepanjang jalan Kamakura seakanakan membawa saya kembali ke periode Kamakura pada abad ke12. Kota dengan jumlah penduduk sekitar 180 ribu orang ini memiliki tata kota yang sangat tradisional

dan unik. Keunikannya terletak pada posisi dan jalur bangunanbangunan bersejarah. Tampak rapi dan membentuk pola tersendiri.

Kuil Tsuruoka-Hachimangu terletak sejajar dan simetris dengan kuil dan Torii ( gerbang kuil) yang ada di depannya. Jika dilihat dari atas, akan membentuk garis lurus sejajar dan terbentang sepanjang beberapa kilometer. Sangat detail dan nyaris sempurna.

Hal unik lainnya adalah jalan yang berada di depan Torii Tsuruoka-Hachimangu. Semakin kita melangkah, ruas jalannya semakin lebar. Saya beberapa kali mencoba mengukur ruas jalan tersebut setiap sepuluh langkah. Memang benar. Tapi masak sih, ini sebuah kebetulan dan tanpa sebab. “Kuil yang dibangun sejajar memang sengaja dilakukan termasuk ruas jalan yang melebar. Ini adalah strategi perang zaman dulu,” papar Reina.

Dulunya Kamakura menjadi tempat tinggal bagi para Samurai. Ketika menjadi pusat kekuasaan, banyak pejabat pemerintahan yang berpindah ke Kamakura.

Kondisi Kamakura yang berbukit membantu mereka berlindung dari musuh. Ekspansi kekuasaan shogun terjadi dan sering kali mengundang perang. Dengan kondisi geografis yang berbukit, pergerakan musuh bisa disiasati. Salah satu caranya adalah mendirikan bangunan dengan posisi yang simetris.

“Ini semua dibangun sejajar untuk mengetahui arah dan pergerakan musuh,” cerita Reina. Tidak hanya itu, “Ruas jalan yang melebar itu, tujuannya untuk memojokkan musuh ketika melewatinya,” lanjut Reina sambil menengadahkan kedua tangannya ke arah jalan tersebut.

Siapa sangka, jejak strategi perang yang bertahan hingga kini tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Saya bisa menikmati pemandangan bangunan yang tertata rapi dan disertai dengan rumah warga yang masih sangat tradisonal menghiasi sepanjang jalan.

Satu lagi, mengenai strategi perang tersebut, warga Kamakura selalu bangga dan memuji kecerdasan para shogun yang mampu membuat Kamakura seperti sekarang ini. Menurut Reina, warga Kamakura memang peduli dan paham dengan apa yang ditinggalkan oleh pendahulu mereka, termasuk bangunan sejarah dan cerita perjuangan kota yang memiliki luas sekitar 40 km2 tersebut. “Pantas saja bangunannya sangat terawat,” bisik saya dalam hati.

Patung Buddha yang Bersejarah

Sebagaimana mayoritas orang Jepang, pada umumnya penduduk Kamakura menganut kepercayaan Shinto dan Buddha. Ajaran ini telah berkembang sejak Kamakura dipimpin klan Hojo. Aktivitas keagamaan meningkat dan menjadi kiblat peradaban. Tak heran jika banyak peninggalan yang bernuansa Buddha dengan mudah ditemukan di sini.

Tidak jauh dari kuil TsuruokaHachimangu, kami mengunjungi patung B-uddha besar atau biasa disebut Kamakura Daibutsu. Tingginya sekitar sekitar 13 m. Saya sendiri dari dulu selalu mengagumi patung yang menjadi salah satu ikon Kamakura yang terletak di Kohoku-in ini. Para biksu sering menggambarkan ketenangan dan kedamaian Buddha melalui Kamakura Daibutsu.

Umur Kamakura Daibutsu ini lebih dari tujuh abad. Keberadaannya pun telah menyaksikan berbagai peradaban yang dilalui Jepang. Warga Kamakura menganggap Kamakura Daibutsu sebagai simbol keteguhan dan kekuatan. Bagaimana tidak, patung ini telah

bertahan dari gempa, tsunami dan bahkan selamat dari kehancuran perang. “Selama patung ini tetap utuh, warga Kamakura tidak akan khawatir,” cerita Reina. “Ini masih bentuk aslinya sejak dibuat pertama kali,” tambah wanita yang berprofesi sebagai penerjemah tersebut.

Saya beruntung diajak melihat Kamakura Daibutsu lebih dekat. Suasana sakral saya rasakan ketika melihat beberapa pengunjung berdoa di depannya. Patung Buddha ini tampak tua dan warnanya kusam termakan oleh waktu. Oh ya, saya juga menyempatkan diri masuk ke dalam patung Buddha tersebut. Reina menunjukkan beberapa bagian dari Kamakura Daibutsu yang sudah terlihat rentan.

Menyegarkan Diri di Pantai Yuigahama

Setelah keluar dari jalan sempit yang padat pengunjung, saya dapat menyaksikan sebuah pantai yang jaraknya sekitar 50 meter dari posisi saya. “Ini dia Pantai Yuigahama yang dari tadi

saya bicarakan,” ungkap Reina. Kamakura memang berbatasan dengan laut, tak heran jika pantai ini ikut membatasi wilayah Kamakura.

Rasa lelah saya setelah berjalan seharian rasanya hilang ketika berdiri di tepi pantai ini. Deburan ombak yang bergulung-gulung dan birunya laut membuat suasana hati menjadi tenang. Tak ketinggalan pemandangan perumahan dan pohon hijau yang menghiasi bibir pantai Yuigahama.

Ada hal yang menarik. Kamakura terletak di pinggiran laut dengan embusan angin yang menderu sementara di sisi lainnya dikelilingi dengan deretan bukit hijau. Walhasil, Kamakura berada di antara silir-semilir laut dan kesejukan dataran tinggi. Benarbenar tempat yang cocok untuk menyegarkan diri.

Sambil duduk menikmati panorama Yuigahama, Reina menceritakan perjalanan pantai Yuigahama yang dulu dianggap sakral. Dulunya tidak semua orang dapat berkunjung ke Pantai Yuigahama. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat shogun

Dulunya tidak semua orang dapat berkunjung ke Pantai Yuigahama. Hanya keluarga dan orangorang terdekat shogun yang boleh berkunjung ke pantai ini.

yang boleh berkunjung ke pantai ini. “Mereka menyucikan badan mereka di pantai Yuigahama sebelum berkunjung ke kuil,” cerita Reina. Di lain hal, “Para samurai juga biasanya menggunakan pantai ini untuk latihan,” lanjutnya. Berbagai sudut kota Kamakura memang tidak terlepas dari jejak kejayaan masa lalu.

Saya jadi teringat dengan Pantai Bira di Sulawesi Selatan. Dulunya pantai tersebut juga menjadi pusat aktivitas para raja dan bangsawan. Terdapat situs sejarah di sekitarnya. Namun ia tidak menjadi sakral seperti Pantai Yuigahama. Yang jelas persamaan keduanya adalah keindahan panorama alam yang disuguhkan, sangat indah dan menakjubkan.

Pemandangan dari puncak Kuil Tsuruoka-Hachimangu.

Patung Buddha Kamakura Daibutsu. Selama patung ini tetap utuh, warga Kamakura tidak pernah khawatir.

Pantai Yuigahama. Dulu disakralkan dan hanya boleh dikunjungi para bangsawan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.