DINAMIKA

Madu dan Racun Swafoto

Intisari - - News - Penulis: I Gede Agung Yudana

Ada yang menarik dalam tahapan proses pikada DKI Jakarta 2017 ketika ketiga calon gubernur dan wakil gubernur menjalani pemeriksaan kesehatan pada 24 September 2016 di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta. Di sela-sela pemeriksaan kesehatan itu, ketiga calon melakukan wefie menggunakan perangkat smartphone (telepon pintar) Anies Baswedan, salah satu calon gubernur. Hasil swafoto itu memperlihatkan mimik mereka

yang gembira dan akrab, seolah tidak ada persaingan antara ketiga pasangan tersebut. Hasilnya kemudian diunggah ke akun Instagram @aniesbaswedan.

Ternyata unggahan foto tersebut memberi dampak positif. Entah bisa berlangsung hingga proses pemungutan suara atau tidak, yang jelas, pasca-pengunggahan foto itu suasana hati kebanyakan warga DKI Jakarta menjadi adem. Tidak ada perseteruan. Yang ada justru atmosfer kerukunan. Mungkin

terlalu berlebihan kalau disebutkan foto bisa menjadi pemersatu warga DKI Jakarta saat itu, namun kenyataannya saat itu memang begitu adanya.

Menumbuhkan rasa seni

Apa yang terjadi pada masyarakat Jakarta pasca-pengunggahan hasil swafoto bersama para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta tadi adalah salah satu contoh dampak positif swafoto. Secara psikologis, gambar hasil swafoto memang memberi pengaruh terhadap suasana hati si pelaku maupun orang yang melihat foto tersebut.

Kalau foto hasil swafoto hanya untuk konsumsi pelaku sendiri, dampaknya tentu terbatas pada si empunya foto. Namun, ketika hasil swafoto diunggah untuk orang lain, termasuk melalui media sosial, dampak yang ditimbulkan tentu akan lebih luas. Bisa positif bisa pula negatif. Apa yang terjadi pada hasil swafoto bersama para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta di atas adalah contoh dampak positif bagi mereka yang melihat foto tersebut.

Pada kasus swafoto untuk dokumentasi sendiri, hasil

penelitian menunjukkan dampak positif bagi si pelaku akan dirasakandalam berbagai bentuk. Bisa berupa penghargaan terhadap penampilannya, eksplorasi terhadap ekspresi, munculnya rasa seni dari dalam dirinya, serta timbulnya rasa percaya diri dan kebahagiaan. Hal ini diamini psikolog keluarga Veronica Soepomo.

Hasil penelitian soal dampak positif swafoto ini pernah dikutip Cosmopolitan. Hasil penelitian psikolog dari University of California terhadap 41 siswa itu menunjukkan, swafoto ternyata dapat mengajarkan sang pelaku untuk lebih menghargai penampilan alaminya. Ketika swafoto, seseorang memang cenderung melihat kekurangan, tetapi pada saat yang sama ia juga menyadari sisi baik dari dirinya.

Swafoto berpengaruh pula membantu pelakunya untuk mengeksplorasi diri sendiri. Misalnya, seseorang bisa mengenali ekspresi ketika marah, sedih, atau bahagia. Efek-efek dramatis saat melakukan swafoto juga mampu memancing rasa artistik pecinta selfie. Memberikan pencahayaan tambahan dan memakai fasilitas warmth photo, misalnya, akan menambah cita rasa seni dan pengetahuan seseorang dalam mengambil foto diri terbaik.

Hasil tersebut didapat setelah sang psikolog mengajak responden berswafoto di sela-sela kegiatan sembari menuliskan keadaan emosi mereka. Awalnya, para siswa hanya diminta mencatat suasana hati mereka tiga kali sehari selama empat minggu. Tiga pekan setelah itu, peserta dibagi menjadi tiga kelompok, salah satunya bertugas menceritakan perasaan serta berswafoto sambil tersenyum.

Pada akhir penelitian, kelompok yang diminta melakukan swafoto tersebut dilaporkan mempunyai tingkat kepercayaan diri paling tinggi. Selain itu, mereka juga dinilai lebih bahagia dibandingkan dengan grup lainnya.

Peneliti lain dari University of Southern California juga membuktikan bahwa kegiatan swafoto membuat seseorang menikmati kegiatannya dan merasa lebih bahagia. “Penelitian kami menunjukkan bahwa mengambil foto mampu menambah efek positif sebuah pengalaman karena meningkatnya rasa keterlibatan seseorang,” ujar Kristin Diehl, peneliti itu, seperti dikutip Daily Mail.

Kesimpulan Diehl tersebut didapat setelah ia mengajak 2.000 responden berpartisipasi dalam beragam kegiatan, mulai dari bepergian naik bus sampai bersantap di pujasera. Sebagian

peserta diwajibkan mengambil foto dan yang lain hanya diminta menikmati acara.

Sepanjang kegiatan, responden juga diharuskan mengisi survei pengukur kebahagian mereka. Laporan kemudian membuktikan bahwa tingkat kegembiraan paling tinggi dimiliki responden yang berfoto dan mengunggahnya ke media sosial. “Rasa hanyut dan keterlibatan dalam kegiatan itu menjadi faktor penting yang mempengaruhi tingkat kesenangan mereka,” ujar Diehl.

Bisa sampai bunuh diri

Bagaimana dengan dampak swafoto yang hasilnya kemudian diunggah untuk orang lain?

Menurut Vero, begitu Veronica Soepomo biasa dipanggil, keinginan melakukan swafoto lalu mengunggahnya di media sosial muncul karena adanya keinginan untuk mendapat pengakuan dari yang melihatnya. “Kalau orang sudah mendapat reward dengan sebutan ganteng, cakep, ok, atau apalah, akan ada kebutuhan (akan pengakuan) yang terus melekat pada dirinya,” ujar wanita yang menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi ini. Celakanya, kalau keterusan bisa menjadi gangguan.

Kalau pengunggahan dilakukan dengan frekuensi yang berlebihan, hingga sampai mengganggu, alih-alih mendapatkan dampak positif yang didapat, ia malah bisa mengalami gangguan jiwa narsis. Sepanjang hari, waktunya hanya diisi dengan berswafoto dan mengunggah hasilnya. Waktunya juga habis untuk urusan penampilan diri. Bukan untuk berkarya atau bekerja. Biaya untuk perawatan diri juga bertambah. “Ia akan berusaha untuk melangsingkan diri, berpakaian rapi, berdandan rapi, dan seterusnya. Ini ‘ kan membutuhkan biaya. Akhirnya akan menggerus keadaan ekonominya,” ujar ibu dua anak ini. Kalau tidak tahan, dampak lanjutannya bisa berupa depresi, bahkan sampai bunuh diri.

Yang lebih menyedihkan, kalau dilakukan di tempat yang tidak aman, kematian pun bisa menjemput pelaku swafoto. Washington Post melaporkan, tahun 2015 terdapat 27 laporan kematian yang berhubungan dengan swafoto. Dari jumlah itu, setengahnya terjadi di India. Negara di Asia Selatan itu pun menjadi negara dengan korban meninggal terbanyak di dunia akibat swafoto. Ada yang tewas tertabrak kereta api yang melaju kencang saat mereka sedang melakukan swafoto. Ada yang tewas tenggelam karena swafoto yang mereka lakukan bersama membuat

kapal yang mereka tumpangi terguling. Ada yang tewas akibat terjatuh dari bibir jurang saat berswafoto.

Dulu perlu 15 menit

Swafoto sering dikaitkan dengan narsisisme, terutama dalam jejaring sosial. Pose yang digunakan umumnya bersifat kasual, dan diambil dengan menggunakan kamera yang diarahkan ke diri sendiri atau dengan bantuan cermin. Objek foto ini biasanya hanya si pelaku atau beberapa orang yang bisa dijangkau oleh lensa kamera.

Soal swafoto ini ada yang menyatakan, Robert Cornelius, penjaga toko pelat perak milik ayahnya di Philadelphia, Amerika Serikat, sebagai orang pertama yang tercatat melakukan selfie. Saat pengunjung toko sepi, Cornelius mencuri waktu untuk mendalami hobinya, fotografi. Dia kerap menjepret beberapa objek di sekitarnya. Pada satu hari, dia mencoba berpose tepat di depan kamera yang sebelumnya sudah diatur untuk memotret secara otomatis.

Untuk swafoto ini Cornelius harus berdiri diam selama 15 menit setelah tombol kamera dipencet, untuk mendapatkan satu potret tersebut. Dia pun sebelumnya harus membuat pengendali jarak jauh yang dapat mengatur kameranya merekam foto. Begitu kamera berbunyi “Cekrek…” dan hasilnya dicetak, itulah hasil swafoto sendiri pertama yang tercatat di dunia.

Hasil foto dirinya tidak bergaya duck face atau menutupi mulut. Dia hanya berdiri dengan

muka serius. Di balik foto tersebut dia lalu menuliskan, “The first light picture ever taken: 1839”. Hasil swafoto Cornelius ini kini dipajang di perpustakaan terbesar dunia, Library of Congress, di Washington DC, Amerika Serikat.

Aksi dan karya Cornelius bisa dibilang menjadi cikal bakal fenomena selfie. Teknologi penyetelan pemotretan otomatis yang dia buat pun kini ada di setiap jenis kamera, termasuk smartphone.

Ketika memasuki abad ke-20, mulai ada cara baru melakukan swafoto, dengan bantuan cermin. Putri Kekaisaran Rusia, Anastasia Nikolaevna, adalah salah satu remaja yang diketahui pertama kali mengambil fotonya sendiri melalui cermin untuk dikirim kepada temannya pada tahun 1914. Dalam surat yang dikirim bersama foto itu, ia menulis: “Saya mengambil foto ini menggunakan cermin. Sangat susah dan tangan saya gemetar”. Kabarnya, swafoto cara ini dilakukan sejak munculnya kamera boks Kodak Brownie pada tahun 1900.

Berkat telepon pintar

Bagaimana pun, swafoto belakangan menjadi tren. Setiap pemilik telepon pintar bisa dengan melakukan swafoto dan mengunggahnya. Dari Bu Mardiyah pemilik warung kaki lima hingga Barrack Obama si presiden negeri adidaya Amerika serikat. Dari Lydia yang masih kanak-kanak hingga pasangan Cyndi – Henry yang sudah menjadi oma-opa.

Mungkin lantaran menyenangkan dan tersedianya perangkat yang praktis, perilaku swafoto ini cepat meluas di kalangan masyarakat. Apalagi didukung cepatnya perkembangan teknologi telepon pintar yang dilengkapi dengan kamera.

Fitur yang memungkinkan seseorang memotret ini bahkan sudah mencapai tingkat menyamai kamera SLR dalam hal resolusi. Apalagi banyak smartphone yang dilengkapi dua kamera, di bagian muka dan belakang. Kamera depan ponsel saat ini sudah ada yang beresolusi 16 megapiksel. Bahkan, ada yang dilengkapi fitur aba-aba tangan untuk mengaktifkan timer hitung mundur pemotretan swafoto. Hadirnya kamera depan inilah membuat pemiliknya melakukan swafoto dengan mudah. Soalnya, ia bisa langsung melihat dirinya sendiri saat difoto dan mengatur komposisi fotonya. Kalau tampak rambut belum rapi, ya sisiran dulu. Kalau bibirnya tampak pucat, ya diolesi gincu merah dulu.

Begitu cekrek ... hasilnya pun bisa langsung disebar melalui berbagai aplikasi media sosial yang bertaburan di jagat maya ini.

Ada Line, Instagram, Whatsapp, Facebook, dan Twitter. Semuanya menyediakan ruang bagi setiap pengguna telepon pintar untuk mengunggah foto hasil swafoto.

Intinya, perilaku swafoto merebak ketika muncul teknologi yang praktis dan tersedia wadah untuk mempublikasikan hasilnya secara mandiri.

Keadaan ini tentu berbeda dengan masa ketika smartphone belum hadir. Orang belum terlalu tertarik melakukan swafoto lantaran dihadapkan berbagai kerepotan. Kalau pakai kamera saku, kita tak bisa langsung mengunggahnya. Kalaupun bisa menggunakan telepon seluler, fitur untuk swafoto belum ada. Asal tahu saja smartphone pertama di dunia, IBM Simon, yang diluncurkan pertama kali 16 Agustus 1994 tidak memiliki fitur kamera. Telepon seluler berkamera generasi awal pun, Sharp J- SH04, hanya memiliki satu kamera di belakang dan tidak dilengkapi lampu kilat atau fitur timer. Lagi pula, saat itu medai sosial sebagai tempat menampilkan foto narsis masih belum hadir.

Aksi swafoto para calon Gubernur DKI yang sempat populer di masayarakat.

Para remaja adalah kelompok yang ditengarai lebih sering berswafoto.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.