PERKARA

Peristiwa ini menjadi catatan kelam dalam sejarah perjalanan Negara AS. Penembakan brutal yang terjadi di gereja Afrika-Amerika di Charleston, South Carolina, AS ini disebut sebagai serangan terburuk di tempat ibadah AS dalam kurun waktu 24 tahun. Apa yan

Intisari - - News - Penulis: Yds. Agus Surono Olah Foto: Moch. Bisron Anwar

Saya harus melakukannya. Kalian memperkosa wanita-wanita kami dan kalian menguasai negara kami, dan kalian harus pergi.” Kalimat itu menjadi permulaan sejarah kelam Amerika Serikat.

Dylann Storm Roof, pemuda berkulit putih yang mengeluarkan kata-kata itu kemudian memberondongkan peluru dari pistolnya ke kerumunan jemaat yang sedang mulai memanjatkan doa penutup setelah belajar soal Alkitab. Roof sebenarnya diundang oleh kelompok studi kitab suci “Mother Emanuel” dan sempat mengikuti pertemuan selama sejam di gereja yang bersejarah itu sebelum tiba-tiba berdiri dan mengatakan dirinya datang untuk “menembaki orangorang kulit hitam”.

Gereja Emanuel African Methodist Episcopal (AME) merupakan salah satu gereja terbesar dan tertua bagi warga kulit hitam di wilayah tersebut. Gereja yang selesai dibangun pada tahun 1891 itu dianggap sebagai gedung yang sangat bersejarah. Penembakan ini mengingatkan pada pengeboman di gereja Afrika-Amerika di Birmingham, Alabama, yang menewaskan empat anak perempuan pada tahun 1960-an silam.

Peristiwa pada 17 Juni 2015 itu menewaskan sembilan orang. Mereka adalah Cynthia Hurd, Senator Negara Bagian South Carolina Clementa Pinckney, Sharonda ColemanSingleton, Tywanza Sanders, Ethel Lance, Depayne Middleton-Doctor, Susie Jackson, Daniel Simmons Sr., dan Myra Thompson.

Roof ditangkap di Shelby, North Carolina, AS, sekitar 322 km dari lokasi pembantaian di

Charleston. Mengapa ia melarikan diri ke Shelby belum jelas. Namun, media lokal mengatakan bahwa ia ditangkap tak jauh dari rumah tunangan adiknya. Ia pun kemudian disidang di pengadilan atas sembilan dakwaan pembunuhan.

“Ngoceh” saat mabuk

Apa alasan Dylann Roof menembaki dengan brutal sembilan jemaat di Gereja Emanuel AME? Sebuah manifesto yang terdiri atas 2.000 kata menjelaskan hal ini. Roof sudah memberi isyarat akan tindakannya itu di situsnya. Ia terinspirasi oleh George Zimmerman yang menembak Trayvon Martin, seorang pemuda berkulit hitam di tahun 2012. Zimmerman dibebaskan dari hukuman. Dari kejadian ini Roof mulai mencari berita-berita daring apa yang ia sebut “kejahatan kulit hitam terhadap kulit putih”.

“Pada saat itu saya membayangkan bahwa ada sesuatu yang salah. Bagaimana bisa media menggelembungkan soal kasus Trayvon Martin, sementara ratusan kaum kulit hitam yang membunuh kaum kulit putih diabaikan?”

Mengenai mengapa Roof memilih Charleston sebagai target, ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki pilihan. “Saya tidak berada dalam posisi untuk – sendirian – pergi ke ghetto dan berkelahi. Saya memilih Charleston sebab itu adalah tempat bersejarah di kotaku, dan pada satu waktu Charleston memiliki perbandingan jumlah kulit hitam terhadap kulit putih tertinggi di negara ini. Kami tak punya skinhead, kelompok KKK yang nyata, tak seorang pun melakukan sesuatu. Hanya ngoceh di internet. Makanya, harus ada seseorang yang berani melakukan tindakan dalam dunia nyata, dan saya kira itu adalah aku,” kata simpatisan Nazi dan Ku Klux Klan itu.

Situs yang disebut “The Last Rhodesian” itu terdaftar atas nama Roof dan dia pula yang menjadi admin- nya. Dalam sebuah cuitan oleh penguasa South Carolina, Roof terlihat menggunakan jaket dengan dua bendera di dada kanan. Yakni bendera Afrika Selatan era apartheid dan Rhodesia, bekas koloni Inggris sebelum menjadi

Roof saat itu sedang mabuk dan mulai ngoceh soal rencana yang tak spesifik. “Untuk melakukan sesuatu yang gila,” kata Joey Meek

negara merdeka pada 1980 dan berubah menjadi Zimbabwe. Pada masa itu, kedua negara menganut sistem pemisahan berdasarkan warna kulit (segregasi) dan diperintah oleh kulit putih yang minoritas.

Di situs itu pula ada foto Roof sedang membidik menggunakan pistol Glock kaliber .45, berpose di depan sebuah plakat yang berbunyi, “Tempat penguburan keramat. Leluhur Afrika kami”. Ia juga berpose di luar Museum dan Perpustakaan Sejarah Konfederasi South Carolina. Foto yang lain menampilkan Roof berdiri di atas bendera Amerika yang terbakar.

Isyarat Roof juga sempat diketahui Joey Meek, salah satu teman SMA-nya. Roof saat itu sedang mabuk dan mulai ngoceh soal rencana yang tak spesifik. “Untuk melakukan sesuatu yang gila,” kata Joey Meek kepada CNN.

Pada umumnya remaja akan menyimpan untuk dirinya sendiri sebuah rencana yang rahasia.

Namun, malam itu seliter vodka melepas gembok pintu rahasia. Meek mengingat-ingat, malam itu Roof menyinggung soal pemisahan berdasarkan warna kulit dan rencana untuk melakukan “sebuah perang”.

Meek berteman dengan Roof di sekolah menengah lalu tidak saling kontak sampai kemudian bertemu kembali beberapa minggu silam. “Tiba-tiba saja ia berbicara soal rasisme,” kata Meek.

Meek sempat menyembunyikan pistol Roof malam itu namun mengembalikan ke tempatnya semula pada keesokan harinya. “Saya tidak melihat ia serius.” Karena itu pula Meek tidak melaporkan apa yang ia alami itu ke pihak berwajib.

Bercanda soal rasisme

Anggota keluarga dan temanteman Roof yang berbicara ke CNN menggambarkan masa kecil dan remaja Roof yang bermasalah. Meski begitu mereka tidak melihat adanya indikasi Roof akan berkembang menjadi lelaki yang dipenuhi dengan aura kebencian.

“Itulah sebabnya, kejadian ini sangat mengejutkan,” kata John Mullins, yang sama-sama bersekolah dengan Roof di White Knoll High School.

Senada dengan Mullins, Kimberly Kozny, ibu dari Meek, yang sering melihat Roof di rumahnya main videogame. “Saya tidak tahu apa yang ada di kepalanya. Namun ia benarbenar anak yang manis. Pendiam, dan hanya memiliki beberapa teman.”

Dylann Roof menghabiskan masa kecilnya dengan bolak-balik ke ayah dan ibunya yang bercerai di tahun 1991. Ia harus berjuang untuk bisa sekolah. Catatan kehadirannya pun minim. “Ia datang dan pergi,” kata petugas White Knoll High School. Ia tidak naik kelas dua kali saat kelas 9 sebelum akhirnya keluar sekolah.

Meski memiliki sikap “liar”, menurut Mullins, Roof tidak terlibat dalam kekerasan. Ia pemabuk dan suka merokok mariyuana. Juga sering mencoba beberapa obat terlarang.

Berkaitan dengan rasisme, seingat Mullins, Roof sesekali membuat komentar rasial. Namun di saat yang sama ia memiliki teman berkulit hitam. “Mereka hanya saling ejek soal rasisme saja. Ia bilang itu hanya candaan saja,” kata Mullins.

Pada bulan Februari 2015, Roof menarik perhatian polisi di sebuah pusat perbelanjaan. Mengenakan pakaian serba hitam, ia menanyai para pekerja toko dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh. Misalnya berapa banyak karyawan di pusat perbelanjaan itu dan pukul berapa mereka pulang kerja.

Roof lalu berurusan dengan polisi gara-gara Suboxone, yang membuatnya dilarang ke pusat perbelanjaan itu. (Suboxone adalah obat yang digunakan untuk mengobati kecanduan heroin. Yang membuat Roof ditangkap karena ia memperoleh obat itu tanpa memiliki resep). Akan tetapi ia bandel dan ke pusat perbelanjaan itu pada 26 April, sehingga ia ditangkap lagi. Kali ini ia dilarang menginjak tempat itu selama tiga tahun.

Pada April itu Roof genap berusia 21 tahun. Tak lama kemudian ia sudah memiliki sebuah pistol. Dari penelusuran polisi, pistol Glock kaliber .45 itu dibeli dari toko senjata di Charleston. Menurut sang kakek, Joe Roof, Roof diberi “uang ulang tahun”, namun keluarga tidak tahu digunakan untuk apa uang itu.

Dinyatakan bersalah

Butuh waktu dua jam lebih sedikit bagi panel yang terdiri atas 12 orang untuk menyatakan Roof bersalah terhadap 33 sangkaan yang berasal dari peristiwa pembantaian tahun lalu di gereja Emanuel AME. “Kami menyatakan terdakwa Dylann Storm Roof bersalah,” kata juri awal bulan Desember 2016.

Ketika pembacaan itu selesai, Hakim Federal Richard Gergel

mengajukan beberapa pertanyaan ke Roof apakah ia memahami bahwa 18 dari 33 tuduhan tadi akan membawanya ke hukuman mati. Juga apakah ia masih akan mewakili diri sendiri selama sidang vonis nanti.

Setiap kali ditanya Roof hanya menjawab singkat, “Ya.”

Jaksa pembela David Bruck tidak menyangkal bahwa Roof membunuh dengan dingin sembilan orang pada 17 Juni 2015. Pertanyaan yang tertinggal, menurutnya, adalah “mengapa?”

“Mengapa Dylann Roof melakukan hal ini? Mengapa ia termotivasi?”

Selama sidang, Bruck tidak menghadirkan saksi di mimbar. Ia juga tidak mengajukan keberatan ketika jaksa memutar rekaman video yang berisi pengakuan Roof kepada FBI yang dibuat sesaat setelah Roof ditangkap pada 18 Juni 2015 di Shelby, North Carolina, di hadapan juri.

Roof mengakui bahwa ia bersalah dan motivasinya adalah untuk memicu perang ras. Kepada orang FBI ia mengaku terkejut bahwa ia bisa membunuh orang sebanyak itu dengan pistol Glock-nya.

“Apa yang saya lakukan masih kecil dibandingkan apa yang mereka lakukan terhadap orang kulit putih setiap harinya,” katanya dalam rekaman.

Juri juga mendengarkan pengakuan dari jemaat yang selamat dari kebrutalan Roof, Polly Sheppard (70). Menurut Roof ia dikecualikan karena alasan sakit.

“Saya meninggalkanmu di sini untuk menceritakan hal ini,” Sheppard mengulang perkataan Roof.

Entah bagaimana kemudian, Sheppard melihat ponsel di lantai dan menelepon 911 meminta bantuan.

“Tolong datang ke sini. Ada banyak orang ditembaki,” kata Sheppard.

Selama persidangan Roof nyaris tidak melihat keluarga korban atau bereaksi terhadap kesaksian Sheppard yang memilukan. Bahkan ketika kesaksian itu terganggu oleh isak tangis dari pengunjung, Roof hanya memandang ke kejauhan.

Isyarat mimpi anak korban

Sheppard bukanlah satu-satunya saksi yang mengungkapkan betapa dinginnya Roof dalam membantai jemaat Gereja Emanuel AME. Pemerintah setempat menyiapkan 38 saksi yang akan berbicara di sidang Roof. Setiap saksi memberikan deskripsi yang penuh emosional. Beberapa bahkan sambil menangis.

Salah satunya adalah Denise Quarles, putri Myra Thompson, salah satu korban penembakan Roof. Padahal Myra Thompson inilah yang mengundang Roof

untuk datang dalam kelas malam yang mempelajari Alkitab itu.

Kenangan akan Thompson membuat air mata Quarles keluar, kemudian geram karena pembunuhan terjadi di tempat yang keramat yang telah menyatu dengan kehidupan keluarganya.

“Begitu kejadian saya langsung menelepon rumah dan hal itu membuat saya sangat kesal,” kata Denise Quarles.

Quarles kemudian bercerita soal mimpi yang dialami sehari sebelum serangan itu. Dalam mimpi itu ia melihat ibunya mati tenggelam. “Saya sadar bahwa itu sebuah pertanda. Ibu saya memberitahukan bahwa sesuatu akan terjadi,” kata Quarles sambil kembali menangis.

Beberapa pengunjung terlihat menyeka air mata mereka. Beberapa berdiri dan keluar ruangan sidang.

Luapan emosi itu membuat Roof komplain. Hakim Federal Richard Gergel pun mengingatkan Roof yang mewakili dirinya sendiri di sidang vonis ini. Menurut Gergel, kesaksian itu bisa diterima.

Gergel lalu berkata ke juri bahwa mereka hanya boleh mempertimbangkan karakteristik pribadi korban dan bagaimana kematian mereka berdampak ke saksi – bukan perasaan saksi terhadap kejahatan itu.

“Apa yang saya lakukan masih kecil dibandingkan apa yang mereka lakukan terhadap orang kulit putih setiap harinya,” kata Roof.

Roof, yang juga dihukum oleh juri yang sama bulan lalu dan menyatakan tidak berencana memanggil saksi atau menghadirkan bukti untuk meringankan hukuman, mengajukan sebuah mosi – agaknya dengan bantuan dari pembelanya yang siap sedia – yang menyatakan bahwa terlalu banyak saksi dan kesaksian mereka “berlebihan”.

Gergel kemudian berpaling ke jaksa, menanyakan jumlah saksi yang direncanakan dipanggil – diperoleh jawaban dari daftar ada 38 saksi – dan meminta mereka “efisien”.

Hakim menyatakan bahwa dia tidak akan menolak setiap anggota keluarga dan teman untuk bersaksi, tetapi ia juga harus memastikan kesaksian itu tidak melanggar hak Roof.

“Aturan kami harus menjaga sebuah proses yang adil,” kata Gergel.

David Bruck mulai frustrasi, mengatakan ke Gergel bahwa Roof “tidak dapat melindungi hakhaknya sendiri.”

Asisten Jaksa Jay Richardson menukas, “Ia sudah memilih untuk membunuh sembilan orang.”

Gergel menolak permintaan Bruck untuk membantu Roof membuat keberatan, dengan mengatakan Roof telah melakukan pekerjaan yang tak layak sejauh ini.

Diampuni

Meski menimbulkan luka di hati keluarga korban, namun banyak dari mereka memaafkan perbuataan Roof.

“Saya tidak bisa memeluknya lagi, namun saya memaafkanmu. Dan terberkatilah jiwamu. Kamu menyakiti hatiku. Kamu menyakiti hati banyak orang, tapi Tuhan Maha Pengampun. Dan aku pun mengampunimu,” kata putri Ethel Lance.

Felecia Sanders, ibu dari korban Tywanza Sanders juga angkat suara. “Setiap urat di tubuhku terluka, dan saya tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi. Namun semoga Tuhan mengampunimu.”

Sementara Anthony Thompson, keluarga dari korban Myra Thom-

pson, menyampaikan pengampunan keluarganya kepada Roof. “Bertobat dan beralih kepada Yesus Kristus. Saya memaafkan kamu.”

Atas semua sikap tulus keluarga korban, keluarga tersangka pun memberikan pernyataan melalui pengacara mereka. “Kata-kata tak bisa mengungkapkan keguncangan dan kesedihan kami atas apa yang terjadi malam itu. Kami sangat sedih dan berduka. Kami sangat terharu oleh kalimat-kalimat yang sangat menyentuh dari keluarga korban, yang menyampaikan kasih dan pengampunan Tuhan di tengah penderitaan mereka.”

Namun, Roof tetap tidak mau bertobat. “Saya merasa saya harus melakukan itu dan saya masih merasa saya harus melakukan itu,” kata Roof kepada para juri seraya merujuk ke tindakan penembakan tahun lalu.

Roof berkata kepada polisi bahwa ia ingin memulai sebuah perang ras. Ia pun menunjukkan foto dirinya memegang bendera peperangan, yang banyak menampilkan simbol kebencian.

Juri lalu berdiskusi hampir tiga jam sebelum mengambil keputusan: hukuman mati bagi Roof. Setelah vonis dijatuhkan, pemuda berusia 22 tahun itu berdiri dan meminta untuk dijanjikan pengacara baru dan mengajukan pengadilan ulang.

“Saya tidak bisa memeluknya lagi, namun saya memaafkanmu. Dan terberkatilah jiwamu.”

Hakim Richard Gergel menjawab bahwa ia “sangat sungkan” dan meminta Roof untuk memikirkan hal itu semalam. (Atas putusan vonis hukuman mati ini Roof hanya bereaksi sedikit dan sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, bahkan mengatakan bahwa dia memang harus melakukan tindakan itu).

Pembunuhan warga kulit hitam oleh warga kulit putih AS ini sekali lagi membuka keterbelahan mendalam di antara warga AS terkait isu rasisme dan kepemilikan senjata api. Juga soal pengibaran bendera Konfederasi. Setelah berkibar selama 50 tahun, bendera itu dipertimbangkan untuk diturunkan.

Masalah rasisme yang dulu diharapkan selesai dengan terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden kulit hitam pertama, ternyata belum terwujud. “Masalah rasial selalu tetap merupakan potensi perpecahan masyarakat kita,” kata Obama saat pidato perpisahannya di Chicago.

Bagaimana dengan Indonesia?

Ethel Lance

Tywanza Sanders

Depayne Middleton

Cynthia Hurd

Sharonda Coleman-Singleton

Clementa Pinckney

Daniel Simmons Sr.

Myra Thompson

Susie Jackson

Simpatisan Nazi ini menyatakan bahwa harus ada yang berani melakukan sesuatu.

Roof dinyatakan bersalah terhadap 33 sangkaan yang akan membawanya ke hukuman mati.

Roof saat terlihat di persidangan bulan Juli 2016.

Gereja Emanuel AME, tempat Roof menembak sembilan jemaat kulit hitam.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.