LENTERA

Intisari - - News - (Lily Wibisono)

Pemandangan pantai pagi itu sangat tenteram dan damai. Perairan di kepulauan yang indah itu menyuguhkan istirahat yang nyaris sempurna. Beos sedang menikmati pantai pagi yang begitu teduh.

Langkah-langkahnya meninggalkan jejak di atas pasir putih yang basah. Matahari pagi belum kehilangan nuansa jingganya.

Ia jadi teringat saat memutuskan mengikuti reuni ini, pas di saat terakhir. Lima belas tahun sudah ia lulus SMA. Bukan apaapa. Ia sedang di tengah proses penyusunan penawaran tender; juga ada beberapa pihak yang perlu ditemuinya untuk urusan proyek yang sedang berjalan. Ia suka bekerja cepat dan efisien. Pergi reunian sepertinya akan memperlambat derap kerja yang sedang enak ini.

Hari pertama panik menyerang. Di kawasan terpencil ini ternyata sinyal langka. Bagaimana kalau stafnya membutuhkan dia? Bagaimana kalau klien mencarinya untuk komplain? Tapi hari kedua, debur ombak dan irama alam mulai mempengaruhi jiwanya.

Kemarin sore, dalam rembang petang, sambil memeluk kedua lutut, ia duduk memandang matahari sore yang merah merona. Bulat telurnya sangat bersahabat, siap menggelinding ke haribaan malam. Spontan terlontar di dalam hatinya, “Alangkah indah alam ini, Tuhanku. Begitu lama aku melupakannya. Dan melupakanMu.”

Di perairan bebas sinyal, ia menemukan kembali sinyal lain yang lama terlupakan. Sinyal yang begitu mudah terlewatkan karena ingar-bingar dan kebisingan hati. Acara “buang-buang waktu” ini telah menghanyutkan kelelahan mentalnya. Padahal yang ia lakukan hanya mematikan detak jam di dalam otak untuk mendengarkan suara alam.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.