MENATA ATURAN KETAT Bagi Pengobat

Kemajuan teknologi di bidang pengobatan medis serta adanya jaminan kesehatan (BPJS), tak menyurutkan keinginan orang untuk berobat secara tradisional. Sayangnya, banyak layanan pengobatan tradisional yang sesungguhnya tidak layak, walhasil pasien yang jad

Intisari - - News - Penulis: Ilham Pradipta M.

7Agustus 2015, masyarakat sempat dikejutkan dengan peristiwa meninggalnya Allya Siska Nadya. Gadis 32 tahun itu dikabarkan meninggal setelah berobat chiropractic di sebuah klinik di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Hampir sepuluh tahun sejak pengobatan yang menyasar tulang belakang itu diperkenalkan di Indonesia, baru kali ini menjadi sorotan.

Awalnya, Siska mengeluh pada bagian leher dan tulang belakangnya. Menurut keluarga, keluhan itu mungkin karena Siska kerap menenteng tas bawaan berat. Sebelum pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi, ia berencana untuk mengatasi keluhannnya

tersebut di terapi chiropractic.

Sehari setelah menerima terapi, Siska meringis kesakitan luar biasa pada bagian leher. Ia pun dibawa ke RS Pondok Indah tengah malam. Dokter menduga, ada pembuluh darah yang pecah sehingga bagian belakang lehernya membengkak. Nahas, pagi harinya dokter menyatakan Siska telah tiada. Dari hasil autopsi ditemukan pendarahan di leher korban.

Masyarakat kita menganggap malpraktik itu cuma di pengobatan medis konvensional. Padahal di pengobatan tradisional juga banyak

Tak bebas dari malpraktik

Dari kasus Siska kita bisa membayangkan betapa ngeri akibat yang timbul dari pengobatan tradisional yang sering disebut sebagai pengobatan “alternatif” itu. Ketika berjalan sesuai keinginan, semuanya akan baik-baik saja. Namun, jika terjadi masalah atau malpraktik, sulit untuk menuntut pertanggung jawaban.

“Masyarakat kita menganggap malpraktik itu cuma di pengobatan medis konvensional. Padahal di pengobatan tradisional juga banyak,” tutur Dra. Meinarwati, Apt, M. Kes, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisonal Kementerian Kesehatan (Kemenkes)RI.

Kasus chiropractic baru membuat masyarakat terhenyak. Padahal, kata Meinarwati, banyak kasus serupa di masyarakat, tapi tidak terangkat. Contohnya, kasus- kasus patah tulang. Banyak dukun patah tulang nekat memijat pada kasus patah tulang terbuka (ada luka). Malahan ada yang diberi reramuan sehingga akhirnya timbul infeksi. Luka justru semakin parah sehingga harus diamputasi.

Anehnya, kalau sudah salah penanganan, masyarakat cuma pasrah dan tidak marah. Itu takdir, katanya. “Tapi coba dokter yang mengobati, pasti langsung ribut malpraktik,” kata Meinarwati.

Tidak boleh melukai

Memilih berobat ke layanan pengobatan tradisional, memang boleh-boleh saja. Hanya saja perlu diingat, para praktisi itu tetap punya keterbatasan. Prosedur pengobatan yang mereka lakukan, tidak boleh melampaui kemampuan dan kewenangannya.

Contohnya, para penyehat tradisional itu tidak boleh

melakukan tindakan invasif, yakni melukai, menoreh, atau menusuk kulit. Di pengobatan tradisional bekam basah, tindakan ini sering dilakukan memakai silet atau pisau. Padahal luka itu membuat rawan masuknya bibit penyakit atau infeksi, karena peralatan yang tidak steril.

Lebih jauh, perlu diluruskan bahwa para penyehat tradisional itu sebenarnya sifatnya hanya promotif dan preventif saja. Bukan mengobati. Karena tindakan pengobatan untuk penyembuhan penyakit ( kuratif ) hanya boleh dilakukan oleh pengobatan konvensional alias dokter.

Penyehat tradisional juga tidak boleh berstatus warga asing. Pengobatan sinshe, misalnya, beberapa orang pernah diketahui berkewarganegaraan Tiongkok. Namun, kini sudah sama sekali dilarang berpraktik. Posisi WNA hanya boleh sebagai konsultan saja.

Jangan pula Anda mudah terbuai dengan iklan-iklan penyehat tradisional yang kerap kita temui di brosur atau televisi. Perlu diingat,

testimoni-testimoni keberhasilan dari pasien, tidak bisa dijadikan bukti kemanjuran metode pengobatan tersebut. Terlebih lagi, menurut Permenkes, penyehat tradisonal sebenarnya tidak boleh beriklan.

Di atas tingkatan penyehat tradisional, ada praktisi tenaga kesehatan tradisional. Mereka berpraktik pada pengobatan komplementer, seperti akupuntur, chiropractic, herbal, dll. Sesuai namanya, mereka boleh melakukan pengobatan yang bersifat melengkapi pengobatan konvensional.

Tenaga kesehatan tradisonal diharuskan berpendidikan minimal Diploma-3 (D-3). Bagi yang saat ini belum, masih diperbolehkan berpraktik hingga tahun 2020. “Begitu 2020 enggak ada lagi akupunturis yang cuma hasil kursus, ” ujar Meinarwati. Begitu pula dengan tenaga-tenaga kesehatan di pengobatan tradisional lainnya, seperti chiropractic, naturopati, homeopati, dll.

Masih dalam penataan

Saat ini sebenarnya Kemenkes RI tengah menata pengobatan-pengobatan tradisional yang sudah tumbuh di masyarakat. Organisasi dari masing-masing pengobatan tradisional itu diminta untuk menyerahkan metode pengobatan yang mereka lakukan, untuk dinilai.

Tim penilai bukan dari Kemenkes, melainkan Kelompok Kerja Nasional

Pelayanan Kesehatan Tradisional (Pokjanas Yankestrad) yang bersifat independen. “Isinya sembilan orang. Ada dari profesi, ada pemerhati, ada praktisi,” jelas Meinarwati. Tim inilah yang akan memberi rekomendasi kepada Menteri Kesehatan tentang kelayakan suatu metode kesehatan tradisional.

Ambil contoh, chiropractic. Sejak juni 2016, Pokjanas telah menelaah metode pengobatan dan pohon keilmuannya yang diajukan oleh Perhimpunan Chiropraksi Indonesia (Perchirindo). Dari hasil studi banding di Australia, diketahui para chiropractor (praktisi chiropractic) di sana masuk ke tenaga kesehatan. Bukannya berstatus penyehat atau pengobat tradisional.

Hanya saja, ada syarat ketat bagi chiropractor di Australia. Harus mengambil pendidikan bachelor selama tiga tahun, dan master selama dua tahun. “Nah yang boleh memberikan pelayanan itu kalau sudah master,” ujar Meinarwati. Sementara di Indonesia, baru ada sebatas kursus saja.

Lebih khusus lagi, chiropractor yang boleh memanipulasi tulang leher juga harus sudah mencapai level tertentu. Sebab, salah sedikit, nyawa pasien taruhannya. Contohnya, seperti kasus Siska di atas.

Akupuntur telah di integrasikan ke dalam fasilitas kesehatan. Contohnya, di RSUD Kota Semarang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.