Jodoh Bukan Soal Penampilan Semata

Intisari - - Healthy Life - Penulis: Esra Dopita M Sidauruk Pengolah Grafis : Mohamad Rizky

Mungkin beberapa dari Anda ada yang memasukkan bertemu jodoh atau menikah sebagai salah satu resolusi di 2017. Terutama bagi mereka yang sudah mendekati usia “rawan”, alias rawan teror pertanyaan dari keluarga. Ah, tapi tak perlu ambil pusing. Pasalnya, urusan jodoh tak sesederhana membalikkan telapak tangan.

Ada sebuah ungkapan, “jodoh itu dicari, bukan dinanti”. Artinya, kita harus berusaha mencari, bukan duduk diam menunggu. Pasalnya, jodoh tidak datang dengan sendirinya. Kalau hanya diam dan berpasrah, kemungkinan tidak akan kunjung bertemu jodoh sampai kapan pun. Istilahnya, berat jodoh.

Dalam teori stimulus, value, and role membahas mengenai manusia dan kriteria jodohnya. Bernard Murstein, pemilik teori dan psikolog dari Connecticut College, AS, mengatakan, orang pertama kali memilih pasangan berdasarkan

karakteristik yang jelas, seperti daya tarik fisik.

Seseorang cenderung tertarik dengan orang yang level penampilan fisiknya yang sama dengan dirinya, bukan yang berada di level yang lebih tinggi darinya. Fisik yang sama menandai kemungkinan lebih besar untuk diterima dan lanjut ke tahap berikutnya. Mulai memfilter secara halus berdasarkan nilainilai dan pandangan yang sama dengan dirinya.

“Mereka yang merasa dirinya menarik, maka akan cari pasangan yang menarik juga. Mereka yang menilai agama itu penting, disarankan mencari orang yang menilai agama penting juga,” ucap Pingkan C.B Rumondor, M.Psi, psikolog klinis di Jakarta, menjelaskan maksud teori Murstein itu.

“Mungkin itu kenapa Titi Kamal dan Christian Sugiono saling tertarik. Karena mereka dalam level kemenarikan fisik yang sama,” tambah Pingkan.

Tidak selalu penampilan

Daya tarik fisik memang tak bisa dilepaskan dari hal apa pun, termasuk urusan jodoh. Sebab, penampilan fisik merupakan hal utama, yang pertama kali dilihat maupun dinilai. Kebanyakan orang akan menilai sesuatu yang terlihat, bukan yang tersembunyi.

Tak bisa dipungkiri, ada sebagian orang yang mengutamakan penampilan fisik dalam memilih pasangan. Pria misalnya, cenderung tertarik kepada wanita dengan fisik menarik. Sementara wanita, lebih melihat kepada sumber daya yang dimiliki oleh pria. Misalnya, pekerjaan, materi, atau kepribadian.

Meski demikian, penampilan fisik yang menarik tak melulu jadi syarat utama memilih pasangan. Begitu pun, penampilan fisik yang menarik tak semata-mata membuat seseorang “enteng jodoh”. Fisik yang kurang menarik pun bukan berarti berat jodoh. Masih banyak penilaian yang

dapat digunakan, di antaranya kesamaan nilai, karakter, peran, atau pandangan.

“Jadi, jodoh itu sebetulnya, orang yang cocok menjadi pasangan suami-istri dengan memiliki kecocokan sifat, karakter, kepribadian, kebutuhan, tujuan saling melengkapi, serta latar belakang yang imbang,” jelas dosen psikologi Univesitas Bina Nusantara itu.

Mengenai kriteria jodoh yang ideal atau sesuai, lanjut Pingkan, bentuknya bisa beragam. Setiap

orang punya kriteria masingmasing. Kriteria “pasangan ideal” juga bisa berbeda antargender, usia, dan zaman. Ada yang ingin pasangan yang menarik secara fisik, kepribadian santun, pintar, dewasa, pekerjaan tetap, karier yang bagus, punya banyak materi, dsb.

Tak hanya itu, mereka juga akan mempertimbangkan imbalan ( reward) yang sesuai dengan kualitas (investasi) dirinya sebelum menjalin hubungan dengan orang lain. Ya, bisa dibilang semacam plus dan minus yang didapat dari suatu

hubungan. Karena itulah, sah-sah saja jika seseorang punya berbagai kriteria dalam urusan jodohnya.

“Mereka yang ingin materi banyak, akan cari pasangan yang punya gaji besar atau karier sukses. Mereka yang ingin pasangan yang baik, maka akan cari pasangan dengan karakter atau kepribadian yang baik,” tutur Pingkan.

Belum kepikiran jodoh

Punya kriteria untuk jodoh kita, boleh-boleh saja. Nyatanya, urusan bertemu dengan jodoh yang “klik” di hati, ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Pingkan menjelaskan, ada

beberapa faktor yang membuat seseorang enteng jodoh. Di antaranya, Mengenali kelebihan dan kekurangan diri, mengetahui sifat-sifat, nilai, dan tujuan hidup, terbuka dalam mencari pasangan, punya pergaulan yang luas, dan memiliki karakteristik yang umumnya diinginkan oleh lawan jenis.

Sayangnya, ada sebagian orang yang sudah memiliki modal seperti itu, namun masih sulit ketemu jodoh. Padahal, wajahnya cantik atau ganteng, karier oke, pintar, dan punya banyak materi. Seolah tak ada yang kurangnya. Lantas, apakah orang itu memang “berat jodoh”?

Pingkan tidak buru-buru mengiyakan. Seperti yang sudah

dijelaskan tadi. Penampilan menarik atau materi yang banyak bukan berarti lantas seseorang enteng jodoh. Mungkin saja banyak yang naksir, tapi belum menemukan yang pas atau berbeda pandangan.

Sama dengan enteng jodoh, kata Pingkan, seseorang yang berat jodoh juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari, kurang mengenali diri, tidak tahu persis pasangan seperti apa yang diinginkan, kualitas pasangan melebihi kualitas dirinya, kurang bergaul, dan memiliki karakteristik yang menghambat jodoh.

Karakteristik itu di antaranya, narsisistik, terlalu sensitif terhadap kritik, sehingga mudah tersinggung, terlalu percaya diri, merasa sempurna, pengendalian diri buruk, kurang menghargai pasangan, merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, hingga masih dikontrol oleh orang tua.

Faktor lain yang sering muncul, ada sebagian orang yang belum memikirkan jodoh. Mungkin saat ini lebih fokus pada kesuksesan karier atau tanggung jawab pada keluarga. “Kalau dia anak pertama atau tulang punggung keluarga biasanya urusan jodoh bukan prioritas,” tutur Pingkan.

Karena itulah, Pingkan menyarankan, jangan hanya berfokus pada mengubah penampilan fisik semata, melainkan juga mengubah karakteristik yang dapat menghambat untuk memperoleh pasangan hidup tadi. Ditambah lagi, terbuka mengenai keinginan memiliki jodoh pada orang lain. Dengan demikian, orang lain dapat mengetahui keinginan tersebut dan membantu mencarikan jodoh.

Pingkan C.B Rumondor, M.Psi, psikolog klinis di Jakarta,

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.