Jodoh Tak Harus Menikah

Intisari - - News - Penulis: Mentari Desiani Pramudita Pengolah Grafis : Mohamad Rizky

Pada umumnya, kita percaya tentang jodoh, sebagai perwujudan dari cinta sejati, serta keinginan terdalam kita pada sebuah perkawinan yang bahagia. Namun pada kenyataannya, tak semua rencana itu bisa mewujud sempurna. Memang, tak ada rumus pasti tentang cara agar perkawinan menjadi langgeng. Namun memahami kaitan antara jodoh dan pernikahan, membantu kita lebih berkomitmen.

Mendengar kata jodoh, beberapa pertanyaan yang kemungkinan muncul di benak kita, “Apakah aku memiliki jodoh?” atau “Siapakah jodohku?” atau “Apakah aku sudah pernah bertemu dengannya?”. Ada pendapat, soal jodoh indikasinya mudah saja. Dengan sekilas dipandang, maka kita akan segera tahu apakah dia jodoh kita atau bukan. Karena itulah obrolan soal jodoh, sering juga dibumbui kisah-kisah romantis. Bahkan konon jodoh bisa ditemukan di mana saja dan kapan saja.

Akan tetapi, untuk masuk ke tahap perkawinan bersama orang yang kita anggap sebagai jodoh, tidaklah muda. Inilah yang membuat seseorang belum tentu menikah dengan jodohnya. Tapi ia bisa menjadikan pasangan yang dinikahinya sebagai jodohnya. Jadi, apa hubungan antara jodoh dengan perkawinan?

Jodoh belum tentu menikah

Richard Bach, penulis dari Amerika Serikat pernah menyatakan, jodoh adalah seseorang yang cocok, serasi, sepadan, dan sesuai dengan diri kita. Bersama jodoh, kita mampu melangkah ke luar dan memperoleh keseimbangan hidup.

Sedangkan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Contoh sederhananya, orang yang menikah berkali-kali. Ketika pertama kali menikah, ia berpikir sudah bertemu jodohnya. Tapi ketika dalam suatu kesempatan ia bertemu dengan yang lebih “klop”, biasanya kemudian ada perceraian. Lalu, siapakah jodohnya yang sebenarnya?

Penjelasannya begini. Seseorang yang kita anggap sebagai jodoh, belum tentu cocok untuk dilanjutkan ke tahap pernikahan. Artinya, kita bisa saja tidak menikah dengan jodoh kita. Namun kita menikah dengan seseorang yang mau diajak membentuk keluarga, visinya sama, dan ingin menjalani sisa kehidupan bersama.

Anda patut bersyukur, jika yang bisa berlanjut ke tahap perkawinan adalah jodoh anda. “Tapi ingat, untuk masuk ke perkawinan, cocok dan serasi saja tidak cukup. Butuh komitmen dan penyesuaian,” kata Evelyn Suleeman, MA, sosiolog keluarga dari Universitas Indonesia.

Biar semakin jelas, Evelyn menuturkan, ada perbedaan mendasar antara pemilihan jodoh dan perkawinan. Sepanjang hidup,

kita mengenal banyak orang dan melakukan interaksi dengan mereka. Mungkin saja ada beberapa orang yang kita anggap jodoh, karena cocok. Tapi akhirnya kita hanya memilih seseorang untuk dinikahi. “Sebab, menikah itu pilihan,” jelas Evelyn.

Menikah lagi

Setelah menikah, perjalanan kisah asmara tidak berhenti begitu saja. Seiring berjalannya waktu, masing-masing menerima berbagai informasi baru dari pasangannya. Butuh penyesuaian terus menerus di antara pasangan, agar senantiasa seiring sejalan.

Kegagalan dalam menyesuaikan diri bisa terjadi. Penyebab perpisahan itu pastilah karena salah satu pihak tidak ingin melanjutkan. Entah itu soal komitmen atau soal menyesuaikan diri. Namun pastilah ada yang merasa, pasangannya sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan itu mencangkup sosial, biologis, dan psikologis.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang itu kemudian menikah lagi. Ia bisa saja beralasan, telah menemukan jodoh yang sebenarnya. Tapi sebelum sampai di sana, coba kita pikirkan apa alasan berakhirnya perkawinan sebelumnya? Apakah karena “tidak jodoh”?

Sebab jika tidak jodoh, maka siklus sebuah hubungan yang tidak sukses, bisa saja terulang kembali.

Begitu juga jika alasan menikah lagi adalah jatuh cinta. Karena, jatuh cinta adalah cara tradisional untuk memilih pasangan, maka cinta bisa memudar kapan saja. Dan memang inilah alasan paling banyak dari berakhirnya perkawinan pertama.

Apalagi seperti kata pepatah “cinta itu buta”, maka cinta pula yang membuat seseorang tidak mengenal pasangannya dengan baik sebelum menikah.

Secara statistik, pria adalah pihak yang paling banyak menikah

lagi setelah bercerai. Evelyn pun membenarkan itu. Apalagi jika ada anak dalam perkawinan sebelumnya. Padahal dalam konteks kehidupan sosial, kita tentu tahu bahwa peran pria dalam rumah tangga adalah mencari nafkah. Sementara istri tugasnya mendidik anak.

Tidak heran jika pria beranggapan mendidik anak cukup sulit jika ia sendirian. Sementara untuk wanita, tidak masalah mendidik anak sambil mencari nafkah. Toh, itu merupakan kodratnya.

“Makanya sering ada perkataan ‘sana cari istri biar ada yang didik anakmu’,” ucap Evelyn. Atau selain

masalah anak, ada juga masalah kebutuhan seksualitas. Daripada suka “jajan” di luar, lebih baik punya satu di rumah yang sah, lanjut Evelyn.

Seperti sistem pasar

Agar kita bisa menemukan jodoh yang benar dan bisa masuk sampai tahap perkawinan, tentu diperlukan sebuah tahapan seleksi. Tapi faktanya, tidak mudah menemukan seseorang yang bisa disebut jodoh. Bagi sebagian orang, jalannya berliku dan banyak pertimbangan. Tak heran jika menurut William J.

Goode (1917-2003), mantan ketua America Sociological Association, proses menemukan jodoh itu seperti sebuah sistem pasar.

Di dalam sistem pasar, masingmasing individu punya cara yang berbeda. Ada tawar menawar dan peraturannya di dalamnya. Dalam istilah orang zaman sekarang, jodoh itu ada “kriteria-kriterianya”.

Dari berbagai kriteria itu, teori homogami adalah salah satu cara pemilihan jodoh yang paling sering digunakan. Homogami dalam pemahaman sosiologi adalah

kecenderungan mencari pasangan yang memiliki kelas ekonomi, etnis, pendidikan, dan nilai-nilai yang sama dengan diri kita.

Mungkin ada sebagian orang yang bertemu jodoh dalam keadaan yang tidak terduga. Namun salah satu faktor yang seseorang menjadi yakin, sebenarnya adalah kedekatan. Artinya, jodoh umumnya adalah seseorang yang sudah sering bertemu dan dikenal baik. Karena itu biasanya dia adalah teman sekolah, teman sekantor, teman masa kecil, tetangga, dll.

Ada juga orang yang menginginkan jodohnya berbeda latar belakang dan sifat dengan dirinya ( heterogami). Ini sesuai dengan teori complementary needs, di mana dua orang yang memiliki perbedaan dapat melengkapi satu sama lain dan menyesuaikan diri dengan baik. Bahkan beberapa pasangan bertestimoni, hubungan mereka lebih harmonis.

“Patut bersyukur, kalau punya kesamaan visi sehingga bisa bersatu. Asalkan perbedaan ini tidak akan menjadi masalah di kemudian hari,” kata Evelyn mewanti-wanti.

Lebih dari itu semua, tanggapan keluarga dan masyarakat sekitar juga perlu dipertimbangkan. Sebab, perkawinan sejatinya akan menyatukan dua keluarga dan dua kultur masyarakat yang berbeda.

Seperti perkataan Michael J. Rosenfels, sosiolog Standford University, bahwa kita memang memilih sendiri pasangan kita. Namun secara tidak sadar, kita juga mempertimbangkan pendapat orang lain untuk hubungan kita.

Karena itulah Evelyn menyarankan agar selalu selektif dalam memilih orang yang ingin dinikahi. Jangan hanya karena menganggap ia jodoh dan sekadar cocok saja, lantas dinikahi. Boleh mempertimbangkan berbagai aspek. Tapi semua kembali pada keinginan individu untuk membangun sebuah kehidupan perkawinan bersama.

Dra. Evelyn Suleeman, MA Sosiolog Keluarga dari Universitas Indonesia

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.