GALILEO MILIK EROPA SIAP MENANTANG GPS-NYA AS

Selama ini layanan posisi, navigasi, dan waktu (PNW) masih mengandalkan GPS milik Amerika Serikat. Banyaknya satelit yang dimiliki GPS memang membuat cakupan mereka sangat luas. Namun, kini muncul beberapa pesaing baru: Glonass (Rusia), Galileo (Eropa), B

Intisari - - Healthy Life - Penulis: Yds. Agus Surono

Pahit manis menggunakan sistem navigasi GPS sudah pernah saya rasakan. Pernah suatu ketika tengah malam hujan deras, membawa mobil dari kawasan wisata Dieng, Wonosobo, menuju Ambarawa, Semarang. Berbekal Garmin Etrex saya akhirnya bisa sampai di Ambarawa menjelang pagi tanpa bisa melihat sekeliling karena gelap dan hujan deras tadi.

Namun, pernah kena pahitnya juga saat mencari rute terpendek dari Salatiga ke Jepara. Sempat masuk hutan jati dengan jalanan aspal mulus meski sempit, sampai kemudian jalanan menjadi rusak parah. Meski masih bisa dilalui

dengan jalan pelan namun kondisi jalan makin meragukan. Waktu itu sudah memanfaatkan peta di aplikasi Google Maps ponsel Android. Setelah bertemu dengan seorang pengendara motor, akhirnya balik kanan karena jalanan katanya rusak parah. Sesuatu yang tak bisa didapatkan dari GPS.

Sekarang sistem navigasi sudah berkembang pesat. Pengguna awam sudah piawai membagi lokasi dengan teman atau kerabat melalui media sosial. Tergantung keakuratan chip penerima sinyal satelit GPS di gawai masing-masing, layanan berbagi posisi ini sangat membantu mereka yang mencari lokasi.

Saat ini sistem navigasi masih mengandalkan GPS milik Amerika Serikat. Memanfaatkan 24 satelit, GPS awalnya diluncurkan ke orbit untuk penggunaan militer oleh Departemen Pertahanan AS. Sekarang ini, penggunaan satelit GPS tadi sudah sangat bervariasi. Dari menjejak lokasi sesuatu sampai yang lumrah: memandu.

Akan tetapi, karena milik negara lain, tentu tak bisa memaksimalkan fungsi satelit itu. Meskipun ada pilihan menyewa, tetap saja tidak bisa berkuasa penuh atas satelit itu. Oleh karena itu beberapa negara atau sekelompok negara membikin sistem PNW berbasiskan satelit sendiri. Salah satunya Galileo, yang dimiliki oleh Konsorsium Eropa.

Lebih akurat dibandingkan GPS

Dibandingkan dengan GPS yang memiliki keakuratan sampai beberapa meter, Galileo diklaim lebih akurat hingga kurang dari semeter. Bahkan lebih akurat lagi untuk layanan berbayar mereka: dalam hitungan sentimeter. Untuk pengguna negara akan memiliki akses layanan enkripsi yang bermanfaat saat mengalami krisis.

Tingkat keakuratan yang semakin tinggi ini memiliki banyak keuntungan praktis. Terutama dalam navigasi seperti mobil tanpa sopir, kontrol lalu lintas udara yang lebih efisien, navigasi kapal yang lebih akurat, dan bahkan bisa membantu orang buta berkeliling kota.

“Galileo menjanjikan lebih akurat dibandingkan GPS milik AS,” kata Steve Smart, kepala program angkasa di CGI, perusahaan teknologi dari Kanada yang sedang mengembangkan beberapa aplikasi komersial untuk Galileo.

Kelebihakuratan Galileo juga dapat membantu memperbaiki kapasitas jaringan kereta di Eropa. Seperti kebanyakan sistem persinyalan kereta yang masih relatif sederhana sehingga untuk alasan keselamatan, kereta-kereta api dibuat berjauhan. Nah, Galileo nantinya akan memberikan data pembacaan lokasi kereta yang lebih akurat sehingga operator KA dapat

menjalankan lebih banyak kereta di lintasan. Ini bisa mengurangi kepadatan penumpang di jam-jam sibuk.

“GPS memungkinkan sebuah kereta tahu di mana posisinya, sedangkan Galileo akan memungkinkan kereta itu mengidentifikasi sedang berada di rel yang mana,” Jean-Yves Le Gall, presiden badan ruang angkasa Prancis, CNES, memberi amsal. Prancis termasuk satu dari 22 negara yang tergabung dalam Badan Ruang Angkasa Eropa (ESA).

Layanan penuhnya pada 2020

Kunci dari keakuratan sistem Galileo itu adalah digunakannya jam atom terbaik dari yang selama ini pernah digunakan untuk satelit navigasi di setiap satelitnya. Jam atom ini hanya akan berubah satu detik selama tiga juta tahun. Dalam kata lain, kesalahan posisi tak kurang dari 30 cm!

Dengan keakuratan jamnya yang kurang dari satu nanodetik (1 nanodetik = satu per 109 detik) per 24 jam, berarti Galileo bisa menunjukkan dengan tepat lokasi kita dalam rentang kurang dari semeter. Margin kesalahan GPS bisa 10 kali lebih besar. Oleh karena itu, jika kita tersesat di tempat yang asing, Galileo akan 10 kali lebih sedikit membuat kita tersesat.

Galileo memiliki satelit lebih banyak dibandingkan GPS dan Glonass, dan sinyal yang lebih baik dengan membawa lebih banyak informasi. Sinyal ini bahkan mencapai tempat-tempat yang selama ini tidak mungkin terambah, seperti di dalam terowongan atau di “rimba” gedung pencakar langit yang menjadi tameng penghalang gelombang radio dari satelit.

Satelit Galileo juga mengitari Bumi di orbit yang lebih tinggi (23 km) dibandingkan GPS (19 km). Artinya, Galileo akan memberikan pandangan yang lebih lebar. Dengan begitu kesempatan untuk tercakup oleh empat satelit yang dibutuhkan oleh gawai penerima satelit navigasi untuk menentukan lokasi lebih besar. Ini sangat membantu jika kita menjelajah daerah yang terpencil. Posisi satelit yang lebih tinggi juga memungkinkan Galileo dapat memberikan cakupan sampai ke ujung utara benua Eropa, satu hal yang saat ini tidak bisa diberikan oleh GPS.

Selain itu, Galileo dilayani oleh beberapa stasiun pengendali di Bumi, sehingga mampu melakukan komunikasi dua arah. Kemampuan ini menjadikan Galileo sebagai alat pencarian dan penyelamatan yang penting. Menemukan orang yang hilang di laut atau di gunung akan lebih cepat daripada sebelumnya. Saat ini, teknologi navigasi satelit butuh waktu hingga tiga jam untuk melacak posisi orang di dalam area 10 km. “Dengan layanan SAR milik Galileo, waktu pelacakan bisa dikurangi 10 menit dan lokasinya bisa diciutkan dalam rentang lima kilometer,” kata Caudet.

Layanan awal, gratis untuk seluruh dunia, akan tersedia hanya pada ponsel pintar dan gawai navigasi yang sudah terpasang microchip yang kompatibel dengan Galileo. Beberapa gawai mungkin hanya perlu memperbarui peranti lunaknya untuk menggunakan teknologi baru. Mirna Talko, juru bicara Komisi Eropa, menyatakan bahwa beberapa raksasa pembuat ponsel pintar sudah membuat chip yang kompatibel dengan Galileo.

“Untuk pertama kalinya pengguna di seluruh dunia akan bisa dipandu oleh satelit Galileo,” kata Lucia Caudet dari Komisi, yang mendanai proyek ini. Menurut pihak ESA, Galileo akan berfungsi penuh pada 2020.

Berdampak pada ekonomi Eropa

Proyek Galileo sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama. Dalam artikel “Mencari Warung Dipandu Satelit” ( Intisari September 2003), disebutkan bahwa Galileo sudah digagas sejak 1999. Namun, proyek ini terancam

gagal setelah beberapa anggota Uni Eropa seperti tak peduli. Untunglah Inggris, Jerman, dan Belanda tetap ngotot. Kemudian para menteri transportasi Uni Eropa menyepakati proyek ambisius senilai sekitar Rp35 triliun ini.

Sayangnya, satelit yang bakalan dimiliki sipil ini tersendat-sendat perkembangannya. Padahal waktu itu direncanakan sudah bisa berfungsi penuh pada 2008. Rencananya akan ada 30 satelit (tiga satelit di antaranya sebagai cadangan), namun terkendala masalah teknis dan biaya, termasuk kegagalan peluncuran dua satelit pada orbitnya tahun 2014.

Hampir 10% produk domestik bruto negara-negara Eropa tergantung navigasi satelit saat ini. Diperkirakan akan semakin meningkat menjadi 30% pada tahun 2030. Masalahnya, jika mengandalkan satelit milik pihak lain, tidak ada jaminan layanan itu mulus tanpa gangguan. Selain itu, dua satelit yang ada saat ini (GPS dan Glonass) dimiliki oleh militer negara bersangkutan.

“Memiliki sistem yang tidak tergantung pada sistem AS yang dikontrol oleh militer merupakan sesuatu yang bagus. Hal ini akan menjadi relevan manakala ada konflik atau perbedaan pendapat yang membuat AS membatasi

Mirna Talko, juru bicara Komisi Eropa, menyatakan bahwa beberapa raksasa pembuat ponsel pintar sudah membuat chip yang kompatibel dengan Galileo.

layanan GPS,” jelas George Abbey, staff senior dalam kebijakan ruang angkasa di Rice University, Houston, Texas, AS.

Diberi nama sesuai nama astronom Italia, Galileo Galilei, Komisi Eropa memperkirakan proyek ini akan menjadi usaha komersial yang penting. Sampai 2020, pasar navigasi satelit global akan mencapai €244 miliar (sekitar Rp3.480 triliun). Galileo sendiri diperkirakan akan menambah perputaran uang sebesar €90 miliar (sekitar Rp1.283 triliun) ke ekonomi Uni Eropa pada 20 tahun pertama beroperasi.

Terlepas dari itu, Galileo akan menambah pilihan pengguna awam seperti saya dalam mencicipi kemudahan mencari sebuah lokasi. Beberapa aplikasi seperti Guardian Angel yang dapat menyatukan orangtua dan anaknya yang terpisah di keramaian misalnya, akan sangat berguna bagi awam.

Jam atom yang hanya berubah satu detik selama tiga juta tahun menjadi kunci keakuratan Galileo. Galileo Milik Eropa Siap Menantang GPS-nya AS

Sistem navigasi yang lebih akurat sangat berguna bagi mobil tanpa sopir.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.