Kaget saat Tahu Pembunuh Yayuk Masih Belia

Pengungkapan kejahatan tidak hanya dilakukan aparat kepolisian. Tengok saja kiprah Mohamad Imam Sobari. Pria yang punya nama elektronik Nathan Gusti Ryan ini juga membantu kepolisian mengungkap kasus. Terutama kejahatan siber

Jawa Pos - - Metropolis - DIDA TENOLA

(cyber crime).

PINTU kantor XP Solution di Pondok Benowo Indah Blok N masih tertutup rapat saat Jawa Pos mendatanginya kemarin (10/1). Hari memang masih pagi. Terlampau pagi, malah. Masih pukul 06.30. Karena itu, jam operasional kantor yang bergerak di bidang jasa teknologi informasi tersebut belum dimulai.

Di tempat itulah, Mohamad Imam Sobari alias Nathan Gusti Ryan merintis usahanya. Kantor tersebut memang mirip rumah. Itu disebabkan lokasinya terletak di tengahtengah perumahan. Namun, pagarnya sengaja ditiadakan untuk parkir kendaraan bermotor. Garasi rumah juga disulap menjadi ruang kerja kecil.

”Saya mulai buka ini tahun 2009,” cerita Nathan sembari mengutakatik laptopnya. Di ruang kerja berukuran 5 x 3 meter persegi itu, Nathan biasa menggarap berbagai pekerjaannya

Di sana tidak ada sekat. Tujuh kursi karyawan yang dipekerjakan oleh Nathan langsung bersebelahan dengan mejanya. Lelaki berusia 40 tahun itu biasa mengisi materi pelatihan seputar IT ( information technology) dan menjadi konsultan keamanan data beberapa instansi pemerintah maupun swasta.

Oleh instansi tersebut, dia diminta untuk membangun disaster recovery. Misalnya, saat terjadi gempa atau kebakaran, data yang tersimpan bisa diselamatkan meski komputer hancur. Salah satu yang proyek pernah ditangani adalah infrastruktur server sistem Pemkot Surabaya.

Pusat data itulah yang mengantarkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini hingga memperoleh penghargaan internasional. ”Proyeknya dikerjakan dua tahap. Pada 2014 dan dilanjutkan tahun lalu,” bebernya.

Pria yang memperoleh penghargaan internasional dari VMWare, sebuah perusahaan teknologi virtualisasi global, selama empat tahun berturut-turut itu juga merupakan pendiri komunitas underground Gerandong Team White Hacker. Komunitas tersebut mengumpulkan peretas positif yang mengaudit ribuan website tanpa merusaknya.

Di luar pekerjaan yang digelutinya sehari-hari, Nathan tak jarang membantu kinerja kepolisian. Ceritanya berawal saat dia menjadi moderator sebuah komunitas Yogya Free pada 2000. Pesertanya adalah para white hacker (peretas yang baik). ”Percuma kalau punya kemampuan tapi dimanfaatkan untuk kejahatan. Semua orang itu bisa cepat belajar IT, tapi yang susah mengamalkan ilmunya supaya berguna,” jawabnya soal mengumpulkan para peretas itu.

Nah, tanpa sepengetahuannya, ternyata salah seorang anggota komunitas tersebut adalah seorang polisi yang bertugas di Mabes Polri. Polisi itu kemudian mendatangi Nathan dan menga- takan bahwa Polri membutuhkan orang yang berkompeten untuk memberantas cyber crime. Alumnus Fakultas Manajemen Informatika Universitas Gadjah Mada tersebut lantas intens berkomunikasi. Dengan tangan terbuka, Nathan menyambut tawaran itu.

Nathan tidak ingat sudah berapa kali ikut terlibat memecahkan kasus. Perkara yang dibantu olehnya beragam, mulai penipuan via internet hingga keamanan jaringan. ”Bahkan, saya ikut hunting DPO dari jarak jauh,” tutur anak ketiga di antara empat bersaudara itu.

Salah satu kasus yang diingatnya adalah penipuan jual beli di internet. Nilai kerugian korban lebih dari Rp 500 juta. Nathan diminta melacak dari mana pelaku mengoperasikan aksinya. Kala itu, pelacakan cukup sulit lantaran pelaku juga lumayan licin. Memakan waktu bermingguminggu karena korbannya tidak sedikit. Beruntung, akhirnya kejahatan tersebut bisa dipecahkan. ”Saya cari ISP-nya, lalu terlacak koneksi VPN. Bingo!” ceritanya dengan antusias.

Ada kepuasan saat dia bisa membantu pihak berwajib menegakkan hukum. Ketika ditanya soal bayaran dari polisi, dia enggan menjawabnya. Baginya, ikut terjun dalam sebuah kasus sudah cukup mengasyikkan. Dia mendapat pengalaman dan punya kesempatan berperan seperti detektif. Tidak banyak programming yang dipercaya oleh korps berseragam cokelat itu.

Selain kasus di ibu kota, alumnus SMKN Tanggul Jember tersebut sering diminta oleh Polrestabes Surabaya untuk mengungkap kejahatan. Perkenalannya dengan polisi Kota Pahlawan sebenarnya terjadi tanpa sengaja. Kalau keluarganya tidak jadi korban, Nathan mungkin tak akan pernah terlibat dalam kasus-kasus besar.

Pertemuan tersebut berawal setahun lalu. Ketika itu, putra pertamanya menjadi korban pengeroyokan di Sememi. Dia ditusuk di bagian dada hingga harus dioperasi. Saat menyelidiki pelakunya, unit jatanras kemudian punya beberapa nama yang dicurigai. Sayangnya, pelakunya waktu itu tidak berada di rumahnya.

Mereka lalu berusaha melacaknya. Ketika itulah Nathan mengatakan bahwa dirinya bisa membantu. Benar saja, posisi pelaku yang berjumlah lebih dari lima orang itu bisa terdeteksi. Tidak sampai seminggu, polisi berhasil membekuk semua pengeroyok satu per satu.

Setelah itu, hubungan Nathan dengan Polrestabes Surabaya tidak berhenti di situ. Merasa terbantu, polisi kerap berkonsultasi dengan Nathan saat memburu pelaku yang berhubungan dengan perangkat elektronik. Salah satu yang paling gres adalah saat dia ikut membantu dalam kasus pembunuhan Yayuk.

Pria yang gemar berkemah itu turut mencari akun media sosial salah seorang pelakunya, Clinton. Dia juga tidak menyangka bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh remaja belia. ” Yang kerja sebenarnya ya bapak-bapak polisi. Saya ini cuma orang biasa. Cukup kaget juga pas tahu yang ngelakuin itu masih muda,” ucap Nathan merendah.

Kemampuan Nathan di bidang IT sudah diakui banyak pihak. Terutama instansi pemerintah yang memproteksi diri dari gangguan hacker. Ayah dua anak tersebut juga malang melintang di berbagai negara. Dia malah pernah ditawari pekerjaan di sebuah kampus di Arab Saudi. Kala itu, dia dijanjikan gaji Rp 60 juta–100 juta per bulan. Namun, dia menolak tawaran tersebut karena tidak bisa menetap di sana

Akhir tahun lalu, dia terlibat dalam sebuah proyek pemerintah Timor Leste. Situs Kementerian Pertahanan negara jajahan Portugal itu pernah diretas oleh orang iseng. Di sana dia langsung bertemu dengan Menteri Pertahanan Timor Leste Dr Cirilo Jose.

Nathan sendiri heran, dari mana orang Timor Leste itu mengetahui kontaknya. Setelah ditanya, mereka mengaku mendapat rekomendasi dari salah seorang pakar IT Indonesia. Meski bekerja dengan pemerintahan negara lain, Nathan tidak mempermasalahkannya. Dengan mengakses situs di Timor Leste, dia sebenarnya bisa tahu data-data rahasia yang dikantongi negara yang lepas dari Indonesia pada 1999 itu. ” Tapi, saya kerja profesional. Bagi saya, mereka adalah klien yang juga percaya saya dengan cara profesional,” sebut pria yang pernah mendalami teknologi informasi di Singapura pada 2000–2002 itu.

Ada cerita menggelitik ketika dirinya mendarat di Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato di Dili. Selepas pesawat yang ditumpanginya mendarat, tak berselang lama pesawat Kepresidenan Indonesia juga tiba di sana. Kebetulan Presiden Jokowi memang sedang memiliki agenda kunjungan kerja di sana.

Nah, salah seorang teman Nathan kemudian berinisiatif memotretnya. Dengan latar belakang pesawat warna biru muda kombinasi putih, pria berkacamata itu lantas berpose. Temannya tersebut lalu membagikan foto itu melalui WhatsApp. ”Banyak yang mikir saya ikut rombongan Presiden. Semuanya takjub. Padahal, nggak ada hubungannya,” kelakar pria yang juga menjadi pengamat bidang security, hacking, dan media sosial itu.

Di tengah teknologi yang semakin maju, Nathan mengatakan bahwa kebutuhan orang akan pengetahuan IT semakin kencang. Dia menyatakan, sifat orang Indonesia yang latah akan memengaruhi penerimaan informasi. Saat itulah, bisa jadi masyarakat termakan mentahmentah oleh kabar hoax.

Nathan pun bersiap diri. Sebagai orang yang berlatar belakang white hacker, dia sudah tahu harus melakukan apa. ”Informasi di internet itu seperti tren dan fashion. Kalau kabar bohong itu diibaratkan tren negatif, kita bisa menggantinya dengan membuat informasi baru yang membawa tren positif,” cetus pria kelahiran 15 Juli 1976 itu. (*/c6/dos)

DIDA TENOLA/JAWA POS

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.