Geber Proyek Infrastruktur

Pemkot Lanjutkan Pekerjaan Lama

Jawa Pos - - Metropolis -

SURABAYA – Fokus pemkot pada tahun ini tetap menuntaskan proyek infrastruktur. Rata-rata merupakan kelanjutan pekerjaan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, anggaran yang digelontorkan untuk pekerjaan tersebut juga tidak kecil. Nilainya mencapai Rp 2 triliun. Setidaknya ada tujuh proyek utama yang akan digelindingkan tahun ini

Proyek tersebut merupakan proyek lama. Hanya trem yang akan benarbenar baru. Anggarannya berasal dari tiga sumber, yakni APBN, APBD, dan PT KAI.

Proyek-proyek itu antara lain adalah sisa jalan frontage road (FR) sisi barat Jalan Ahmad Yani dan Jalan Raya Wonokromo, sisa jalan middle east ring road (MERR) dari perempatan Gunung Anyar hingga Sedati, Sidoarjo, serta pintu air dekat Jembatan Petekan. Lainnya adalah proyek gorong-gorong di Jalan Banyu Urip, jalur pedestrian bawah tanah Jalan Pemuda hingga Tunjungan, serta pembebasan tanah untuk jalur luar lingkar barat ( JLLB) dan jalur luar lingkar timur ( JLLT).

Selain itu, pemkot bertekad mendongkrak mutu sumber daya manusia melalui perbaikan sarana pendidikan dan kesehatan. Antara lain dengan membangun beberapa gedung sekolah dan puskesmas baru. Ada juga satu laboratorium kesehatan daerah. Bila sarananya bagus, pelayanan yang diberikan juga bermutu.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Imam Sonhaji menyatakan bahwa visi utama pembangunan Kota Surabaya ialah meningkatkan daya saing ekonomi lokal kota Surabaya. ”Dengan pembangunan infrastruktur yang tetap berbasis ekologi dan lingkungan,” katanya.

Agus menjelaskan, saat ini prioritas infrastruktur Kota Surabaya terfokus pada dua hal, yakni membangun jalan dan pematusan. Dua ruas utama yang dikebut untuk segera diselesaikan adalah MERR dan sisa frontage road sisi barat. ”Untuk jalan MERR, kami bertekad menyelesaikan tahun ini juga. Biar segera nyambung dengan akses ke Bandara Juanda,” ucapnya.

Sebelumnya pemkot mengakui bahwa ada beberapa masalah dalam kelanjutan pembangunan MERR. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VII belum sempat menganggarkan pembangunan fisik jalan tersebut sampai lewat masa penetapan anggaran 2017. Kini pemkot pun meminta BBPJN melakukan revisi anggaran. ”Sudah kami ajukan (penganggaran, Red) ke pemerintah pusat. Alhamdulillah direspons cepat,” katanya.

Jalan- jalan baru memang menjadi prioritas utama pembangunan Kota Surabaya. Agus menjelaskan, dari seluruh APBD, untuk pembebasan tanah dianggarkan Rp 239 miliar. Rp 100 miliar diantaranya untuk jalan MERR. Dia yakin pembangunan jalan akan membuat mobilitas perkotaan makin lancar. Salah satu penyebabnya adalah terurainya kemacetan di berbagai wilayah kota. Bila jalan-jalan lancar, berbagai kepentingan warga tidak akan tersendat. Sementara itu, untuk sisa box

culvert Banyu Urip, pembangunan juga segera dimulai. Jalan Banyu Urip seharusnya ditanggung APBN. Namun, pemkot berinisiatif melanjutkan pembangunan di atas saluran tersebut hingga jauh ke barat, yakni Kelurahan Sememi. Dari total 16 kilometer, tersisa 5 kilometer lagi. Sisa tersebut akan dibebankan kepada paduan antara APBN dan APBD.

Selain itu, pemkot mendapatkan bantuan dari beberapa pengembang di Surabaya Barat. Menurut Agus, para pengembang tersebut terbantu akses yang semakin lebar. ”Sudah ada beberapa pengembang yang ber- niat mem bantu. Meskipun nilainya tidak banyak,” jelas Agus. Dengan begitu, akses ke wilayah barat juga akan lebih mudah. Pemkot berharap dengan cara itu terjadi pemerataan fungsi pembangunan.

Selain proyek-proyek di atas, sisanya adalah proyek yang sebagian besar kewenangannya berada di pemerintah pusat. Misalnya Jembatan Petekan dan proyek pembangunan sistem transportasi masal berupa trem. ”Sementara trem tahap pertama akan dibangun 9 kilometer,” ujar Agus.

Satu-satunya proyek yang masih belum pasti adalah akses pengurai kemacetan di sekitar bundaran Dolog. Sempat ada kepastian bahwa pemerintah pusat akan membangun underpass di ruas menuju selatan pada 2017. Namun, kemudian terjadi tarik ulur apakah dibangun underpass atau flyover. Hingga kini bappeko belum bisa memberikan keterangan tentang proyek tersebut. ”Belum ada kepastian. Kalau kami (pemkot, Red) sih maunya tetap underpass,” ucap Agus.

Sementara itu, DPRD Surabaya berharap pada tahun ini pemkot lebih serius menangani proyek infrastruktur. Jangan sampai keterlambatan sebagaimana tahun lalu terulang lagi.

Selain itu, proyek jalan harus benar- benar transparan. Wakil Ketua DPRD Surabaya Masduki Toha menyoroti secara khusus rencana pembangunan JLLT dan JLLB. Masduki menyebut bahwa proyek tersebut sebelum nya digadang- gadang dimulai pada 2016. Namun, hingga saat ini pembebasan saja belum dimulai.

Padahal, masyarakat –baik warga sekitar maupun kalangan pengusaha– sangat antusias menyambut rencana tersebut. Terbukti, beberapa tempat usaha berdiri di lokasi yang kabarnya akan dilewati oleh JLLT dan JLLB. Para pengembang pun memborong ramai-ramai berhektarehektare lahan. ”Saya ini warga Surabaya Barat. Dari dulu kabar pembangunan JLLT dan JLLB itu tidak pernah jelas kapan dimulainya,” katanya.

Masduki menginginkan proyek tersebut benar-benar diperkenalkan secara terbuka kepada warga. Dengan demikian, warga bisa segera melakukan penyesuaian. Kejelasan mengenai rencana proyek tersebut juga sangat bermanfaat bagi kepentingan bisnis.

Politikus PKB itu meminta pemkot hati- hati saat bekerja sama dengan pusat. Jangan sampai proyek yang sebenarny a menjadi tanggungan bersama akhirnya dikerjakan sendiri. Masduki mem berikan warning khusus terhadap proyek trem. ” Kabarnya sudah ada MoU dengan Ke men terian Perhubungan, tapi sampai saat ini kami ( DPRD, Red) be lum diberi tahu isinya apa,” katanya.

Jangan sampai proyek trem menjadi seperti Banyu Urip. Semestinya dikerjakan bersamasama, kemudian pemerintah pusat ngacir begitu saja. Jadilah pemkot ngos-ngosan melanjutkan proyek jalan di atas saluran tersebut. ”Perjanjiannya harus jelas, pemerintah pusat kadang PHP (pemberi harapan palsu, Red),” kata Masduki. (tau/c9/git)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.