Bertahan dengan Spirit Life Is Beautiful

Bebas setelah Disekap Taliban 5 Tahun Ketiga Anak Lahir di Masa Penyekapan

Jawa Pos - - Jawa Pos -

SMITHS FALLS – Kalau ada sosok yang kepadanya Joshua Boyle merasa berutang budi, itu adalah Roberto Benigni. Sebab, karya besar sutradara Italia itulah yang turut menginspirasi dia, istri, dan tiga anak mereka bertahan di dalam ”neraka” selama lima tahun.

Neraka itu diawali penculikan Ta- liban di Afghanistan pada 2012. Lalu penyekapan kelompok radikal Pakistan yang terafiliasi dengan Taliban, Haqqani

Hingga akhirnya bisa dibebaskan pasukan Pakistan pada Rabu lalu (11/10) di Kurram Agency di perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Ketiga anak-anak Boyle, pria asal Kanada, dan sang istri, Caitland Coleman, yang berkebangsaan Amerika Serikat pun lahir di masa penyekapan. Dua putranya berusia empat dan dua tahun, sedangkan si putri bungsu baru lahir dua bulan lalu.

”Kami membesarkan anak-anak dengan berusaha menampilkan kondisi senormal mungkin. Seperti dalam film Life Is Beautiful,” kata Boyle dalam surat terakhirnya kepada orang tuanya, Patrick dan Linda Boyle, pada Desember tahun lalu, seperti dikutip The Toronto Star.

Film Terbaik Academy Awards 1998 itu bercerita tentang upaya seorang ayah mengusir kengerian kamp konsentrasi pada Perang Dunia II. Sang ayah, yang diperankan Benigni, berusaha menyugesti sang putra bahwa kamp tersebut tak lebih dari tempat bermain.

Hari ini keluarga beranggota lima orang itu terbang ke Inggris. Untuk melanjutkan penerbangan ke Kanada.

Coleman jelas yang paling menderita selama masa horor lima tahun itu. Dia harus melahirkan tiga kali dengan peralatan apa adanya dan hanya dibantu sang suami. Si putra pertama yang lahir malam bahkan nongol ke dunia hanya dengan bantuan senter. ”Saya bergetar saat mendengar suara putri saya. Masih suara yang sama dengan yang saya dengar lima tahun lalu,” kata Jim, ayah Coleman.

Tapi, kepada Boyle, dia tak bisa menyembunyikan marahnya. Dia murka kepada sang menantu. Sebab, nekat membawa istri yang sedang berbadan dua ke tempat berbahaya. ”Bagaimana bisa dia melakukan semua ini pada istrinya sendiri,” ujar Jim yang juga tak menyetujui jika sang putri dan ketiga anaknya dibawa ke Kanada.

Keluarga Boyle maupun Coleman selama lima tahun terakhir tak henti berusaha membantu kebebasan anak-anak mereka. Namun, selama kurun waktu itu, mereka harus puas hanya bisa berkomunikasi lewat surat dan video yang diunggah ke YouTube. Itu pun jarang sekali.

Boyle mengaku betapa beratnya perjuangan sang istri. ”Putra saya yang pertama lahir di bawah cahaya senter yang saya pegang dengan mulut saya,” katanya.

Untung, begitu sang jabang bayi lahir, menurut Boyle, para penculiknya segera membawakan barang-barang kebutuhan sang ibu dan anak. Tantangan berikutnya bagi Boyle dan Coleman tentu saja membesarkan buah hati mereka di ruang bawah tanah. Tidak ada orang lain yang bisa diajak berinteraksi. Tidak ada cahaya matahari dan udara segar yang dibutuhkan buah hati mereka.

Hari pembebasan itu akhirnya tiba pada Rabu lalu. Ketika itu diduga para penyekap bermaksud memindahkan tempat penyekapan mereka. Itu dilakukan setelah ada drone yang diperkirakan milik AS terbang di sekitar tempat tersebut.

”Kalimat terakhir yang saya dengar dari para penculik kami adalah, ’Bunuh para sandera’,” ujar Boyle kepada The Toronto Star lewat sambungan telepon setelah berhasil diselamatkan pasukan Pakistan. The Toronto Star menelepon atas undangan orang tua Boyle.

Boyle dan keluarga yang meringkuk di bagasi mobil pun langsung ketakutan. Tapi, beruntung, para penyekap tewas duluan di tangan pasukan Pakistan.

Boyle memilih memboyong keluarganya ke Kanada. Dia menolak tawaran AS untuk membawa mereka pulang dengan pesawat militer dari Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan. Pria 34 tahun itu lebih memilih terbang dengan pesawat komersial.

Kamis pagi Gedung Putih memuji aksi militer Pakistan dalam membebaskan Boyle dan Coleman. ”Ini menandai momen yang sangat positif dalam hubungan kami dan Pakistan sebagai dua negara mitra,” terang juru bicara Gedung Putih.

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump juga mengungkapkan kegembiraannya. Dia bangga penyelamatan itu terjadi dalam era kepemimpinannya. (AP/Reuters/thestar/hep/c10/ttg)

COURTESY TALIBAN/SOCIAL MEDIA VIA REUTERS

HOROR PANJANG: Caitland Coleman (kiri), Joshua Boyle, dan kedua putra mereka yang diambil dari video yang diunggah Taliban pada 19 Desember 2016.

BILL GORMAN/AP PHOTO

LEGA: Orang tua Joshua Boyle dan Caitlan Coleman. Dari kiri, Patrick Boyle, Linda Boyle, Lyn Coleman, dan Jim Coleman.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.