Eksporter Wajib Sajikan Data Rantai Pasok

Jawa Pos - - Ekonomi Bisnis -

SURABAYA – Pelaku usaha perikanan, terutama yang berorientasi ekspor, harus mempersiapkan diri menjelang pemberlakuan kebijakan seafood import monitoring program (SIMP/program pemantauan impor seafood) oleh AS. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2018.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo mengatakan, dalam kebijakan tersebut, eksporter Indonesia berkewajiban menyajikan data kepada importer di AS. Di antaranya, informasi mengenai rantai pasok. Mulai kapal, lokasi tangkap/budi daya, alat tangkap, proses pengangkutan, pengolahan, sampai proses ekspor.

”Data yang disajikan eksporter bersifat self declaration, tidak perlu mendapatkan endorse dari competent authority di negara eksporter. Tapi, tentu harus sinkron dengan data competent authority di negara eksporter,” katanya kemarin (14/11).

Di antara 13 komoditas, ada 11 yang terdampak program SIMP. Yakni, kod atlantik, kepiting biru, ikan lumbalumba, kerapu, kepiting merah, kod pasifik, kakap merah, tripang, hiu, ikan pedang, dan tuna. (res/c7/fal)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.