Ketegaran Runtuh di Depan Jenazah Ibu

Jawa Pos - - INTERNASIONAL -

MEDEIRA – Menjadi relawan White Helmets adalah panggilan jiwa Samir Salim. Berada sangat dekat dengan ancaman kematian tidak pernah membuat nyalinya ciut. Dia bahkan menjadi pahlawan bagi banyak orang yang pernah diselamatkannya. Tapi, pekan lalu ketegaran pria 45 tahun itu runtuh saat berhadapan dengan jenazah ibunya.

”Sungguh situasi yang sangat sulit bagi saya. Hati saya pilu mengingat betapa ibu saya selalu membanggakan kami, empat anak lelakinya yang menjadi relawan. Dan, kini tak ada seorang pun dari kami yang bisa menyelamatkan beliau,” ungkap Salim sambil sesekali menghapus air mata dari pipinya.

Kemarin (14/2) Arab News melaporkan bahwa aksi udara yang merenggut nyawa ibu Salim itu terjadi pekan lalu di Medeira.

Di situ, Samir mendapati tubuh sang ibu yang bersimbah darah. Perempuan 80 tahun tersebut tak lagi bernyawa. ”Hati saya hancur,” papar Samir.

ABDULMONAM EASSA/AFP

RATAPAN RELAWAN: Kemarin Samir Salim terduduk di reruntuhan rumahnya yang hancur terkena serangan udara.

ABDULMONAM EASSA/AFP

PENYINTAS: Saeed al-Masri, adik Salim yang juga relawan, memeluk Yehya, anaknya, yang selamat dari serangan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.